Nggak Usah Berusaha Jadi yang Paling Sempurna, Soalnya Perfeksionis Gampang Stres

  • Selasa, 17 April 2018 17:15 WIB

Ilustrasi stress | Do Something | https://www.dosomething.org/us/facts/11-facts-about-high-school-dropout-rates

HAI-ONLINE.COM - Orang yang menganggap dirinya perfeksionis biasanya keras pada diri mereka sendiri ketika hal-hal nggak berjalan sesuai keinginan mereka. Sifat ini memang diperlukan pada beberapa hal, tapi kalo standar kita terlalu tinggi lama kelamaan kita justru jadi depresi.

Menurut Jackie Chan, seorang psikolog dari The Hong Kong Psychological Counselling Centre, perfeksionisme adalah sikap atau keyakinan bahwa nggak boleh ada kekurangan dalam pekerjaan atau kemampuan seseorang. Biasanya si perfeksionis menetapkan standar yang tinggi - kadang nggak realistis - bagi dirinya sendiri, dan menganggap diri gagal ketika nggak dapat memenuhi standar tersebut.

Seringkali pencarian kesempurnaan dimulai sejak usia muda, terutama ketika mereka memiliki orangtua atau figur otoritas lain seperti guru, yang menetapkan kesempurnaan sebagai standar yang diinginkan. Kesalahan apa pun yang dibuat biasanya akan berbuah kritik, teriakan, bullying, atau bahkan hukuman fisik.

Akibatnya mereka tumbuh dengan hasrat untuk menyenangkan dan menerima pujian dari orang lain. Mereka juga percaya bahwa harga diri mereka terikat dengan prestasi mereka. Media, masyarakat luas dan keyakinan budaya juga dapat berkontribusi pada keinginan untuk jadi "sempurna".

Perfeksionisme juga dicirikan oleh evaluasi diri yang terlalu kritis dan khawatir tentang penilaian dan kritik orang lain. Meskipun nggak ada yang salah dengan mengejar standar yang tinggi, jadi teliti, atau menginginkan semua hal berjalan dengan cara tertentu, namun sikap ini sebenarnya punya efek negatif.

Efek paling nyata dari sifat tersebut berupa tindakan menyakiti diri sendiri, sindrom kelelahan kronis, gangguan obsesif-kompulsif, insomnia, gangguan stres pasca-trauma, gangguan kecemasan sosial, kecemasan dan depresi.

Riset terbaru dari Australian Catholic University juga menemukan bahwa sifat perfeksionis menyebabkan depresi. Tentu kita nggak ingin kerja keras kita untuk mencapai level kesempurnaan jadi bumerang bagi kesehatan mental.

Para ahli menyebutkan, sikap mencintai diri sendiri, atau praktik kebaikan diri, dapat melemahkan hubungan antara perfeksionisme dan depresi.

Dr Madeleine Ferrari, seorang psikolog, mengatakan bahwa orang-orang yang menyalahkan diri sendiri ketika mereka membuat kesalahan atau gagal mencapai standar tinggi dapat disebut "maladaptif perfeksionis". Kondisi tersebut merupakan pemicu kelelahan dan depresi.

"Sikap belas kasih dan peduli pada diri dapat membuat orang perfeksionis terhindar dari depresi, baik pada remaja atau orang dewasa," kata Ferrari.

Reporter : Alvin Bahar
Editor : Alvin Bahar

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×