Music

Felix Dass: Kalau Mau Dukung Musik Sidestream, Jangan Minta Gratisan!

Felix Dass

Sudah dari era Multiply, nama Pelukislangit dikenal. Felix Dass, orang di balik blog itu, senang berbagi ulasan tentang band indie yang ia dengar, dan pengalamannya dateng ke gigs. Multiply lalu padam, tapi semangat Felix untuk terus mendokumentasikan musik terus jalan. Ia juga menulis untuk majalah indie Ripple, sempat rutin mengisi kolom musik di The Jakarta Post, dan tetap rajin mengisi blog pribadinya, Felixdass.com.

Sejak 2015, Felix memilih cabut dari korporat tempatnya bekerja demi fokus bergiat di sidestream scene. Selain tetap rajin menulis, Felix juga kini dikenal sebagai penyelenggara sejumlah gigs, seperti Cikini Folk Festival, pertunjukan Future Folk di IFI, dan Bermain di Cikini, sambil ikut membesarkan duo folk Ari Reda sebagai manajer. Singkatnya, Felix dan musik indie itu nyaris seperti sinonim.

Menurut Felix Dass, masa sekarang ini adalah fasenya para pelaku musik sidestream ini nyayur alias dapat banyak untung. Tapi, ia tetap punya kecemasan: sustainability. Itulah mengapa baik penikmat maupun pelaku skena musik sidestream kudu saling dukung. Bagi musisi, walau bisa dimulai karena awalnya suka-suka, sidestream bisa dipertahankan hanya dengan kerja keras. Lalu, di kalangan penikmat, biasakanlah menghargai karya musik, jangan biasakan minta gratisan konser atau rilisan fisik.

Di Kedai Tjikini, Jakarta, tempat Felix biasa nangkring, saya menemuinya. Berbincang tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan skena musik sidestream.

Menurut lo musik sidestream sekarang ini gimana?

Kalau menurut gue sih sekarang adalah masa paling oke sejak scene musik indipenden ada di Indonesia, awal 90-an dulu. Setelah nyaris 30 tahun akhirnya dapet putarannya. Musisinya bisa mandiri berdiri di kaki sendiri. Bisa direplikasi. Nggak banyak orang yang sadar, kita tuh sekarang ini bisa nyari 10 raksasa di scene indipenden income-nya setahun kurang lebih dari Rp 3 miliar. Contohnya, Seringai, White Shoes and The Couple Company, Sore, Burger Kill, Superman is Dead, Payung Teduh, Mocca, dan Barasuara mungkin. Mereka, kan, sekali main bisa dapat sekitar Rp 30-40 juta. 70 kali main udah 2,8 miliar. Weekend ada 52. Seminggu bisa main dua kali. Itu (pendapatan Rp 3 miliar) make sense. Gue pun merasakannya, gue keluar dari korporat tahun 2015 lalu untuk fokus di dokumentasi scene ini. Bayangin aja, gue yang bukan pemain utama, gaya hidup gue tuh udah kayak waktu berpenghasilan di korporat. Orang-orang yang fungsinya pendukung kayak gue aja bisa sejahtera. Gimana pemainnya? Scene ini udah sangat besar.

Sepengamatan lo  kapan musik sidestream ini mulai pecah?

Big break-nya, sih, kalau menurut gue tuh, setelah 2011. Kan, perkembangannya ada fase. Ada fase pembentukan, fase establishment, dan fase menghasilkan. Nah, setelah 2011 ini (musisi indie) udah bisa nyayur (untung banyak, RED) sih.

Banyak musisi besar yang pindah ke indie. Lo ngeliatnya gimana?

Dari point of view musisi, kan, label tuh kan ngambil porsi (penghasilan). Nah, kalau bisa kerjain sendiri, ya nggak perlu bagi-bagi porsi, nggak perlu kasih-kasih orang.

Jadi, ada kemungkian nantinya, band lebih memilih mengerjakan proyeknya sendiri?

Yang tadi gue cerita itu bagusnya aja sih. Tetap ada jeleknya (menjadi indie). Tapi, satu hal dasar sih, lo harus punya komitmen.
Contohnya Young Lex. Ya buat gue sih dia norak musiknya, ini perkara selera, yah. Tapi, nggak banyak yang tahu, kalau Young Lex tuh membangun kerajaan bisnisnya dengan sangat baik. Dia mendidik followers-nya untuk nggak beli barang bajakan. Buat gue dia punya value. Young Lex udah berhasil di urusan bekerja keras menyampaikan message (dari musiknya). Itu yang menurut gue perlu ada di tiap musisi indie.

Suatu malam gue ngobrol sama Indra Ameng. Gue lagi mengerjakan buku White Shoes and The Couples Company tetang perjalannya ke Darwin pada 2013 lalu. Buku foto dokumentasinya mau dirilis. WSATCC baru buka space di gudang Sarinah. Ameng memaksudkan space itu agar WSATCC bisa tetap hidup. Mereka dilatih untuk berdikari. Mereka mengantisipasi, Sari baru nikah dan bisa saja hamil. Kalau sebelumnya WSATCC pernah ditinggal Mela saat ia hamil, tapi posisinya bisa digantikan. Semua personel di WSATCC bisa diganti kecuali Sari. Tapi, kru-krunya tetap harus hidup kan? Ameng memikirkan itu. Akhirnya mereka bangun space itu biar krunya berdikari.

Contoh lainnya Payung Teduh, ketika belum bisa bikin album baru, akhirnya mereka bikin album LIVE. Seringai juga, mereka baru mau rilis album baru. Tapi yaudah, mereka, kan punya Lawless. Itu wujud kerja keras yang perlu dilakukan. Kerja keras itulah yang bikin lo bisa sustain.

Kadang, being independent itu terkesan gampang, enak, dan simpel. Tapi sebenernya nggak. Konsekuensinya susah. Dan mesti repot sendiri. Makanya dari sekian banyak band indie di sini, yang bisa jadi raksasa nggak bisa nyampe seratus.

Jadi, ketidaksanggupan untuk kerja keras itu yah yang bikin scene ini suka timbul tenggelam?

Pada dasarnya yang paling menyebalkan adalah orang yang nggak punya komitmen. Gue juga sadar nggak semua punya komitemen di sini. Karena ini hobi, ya, buat beberapa orang. Nggak semua paham bahwa hobi ini bisa menghidupi. Ketika memutuskan untuk fokus di musik, sebenernya bisa, kok. Persoalannya adalah lo harus kerja keras.

Scene musik selalu ada eranya. Di Jakarta, misalnya, dulu yang rame adalah gigs BB's. Lalu berhenti. Terus muncul gigs di Parc, stop juga. Ruang untuk musik ini nggak pernah tetap. Gimana lo ngeliatnya?

Gigs pindah-pindah karena ada tantangan lain. Karena ruang adalah elemen penting dalam musik. Scene  musik indie nggak banyak uangnya (bagi penyedia tempat). Mereka pindah-pindah karena mengakali ruang.

Gigs di BB's ada pada masa itu. Sekarang misalnya, adanya Superbad. Dia memanfaatkan hari Minggu di barnya karena sekarang ini udah sedikit orang yang ke bar hari Minggu. Ini adalah upaya menciptakan. Gue percaya kalau pasar bisa diciptakan, seperti yang dibilang Efek Rumah Kaca. Keras Keras itu bisa menciptakan pasar.

Ruang adalah salah satu challenge yang terus-terusan ada. Gudang Sarinah itu adalah perlawanan kami di ruangrupa demi kebutuhan ruang. Semua kota butuh ruang di mana lo bisa main musik dengan sederhana tanpa mikirin sewanya. Ruang itu penting, sebagai wadah. Kayak lo masak dan lo butuh penggorengan. Bahkan untuk rekaman aja lo butuh ruang, kan. Dan nggak semua orang punya kemampuan membuat semuanya sehat dari segi ekonomi.

Contoh Yogi dari Coffee War. Dia tetap support band lokal, dia beli alat karena percaya dia bisa ngasih kontribusi untuk musik.

Kalau lo cuma mendengarkann tanpa ngeliat bandnya live, kan, nggak enak.

Apa yang bisa dilakukan kita, buat jadi penikmat musik sidestream yang baik?

Bayar. Jangan minta gratisan. Beli album. Beli merchandise. Dikasih tiket harga gocap (Rp 50 ribu) lo mikir itu mahal. Kalau kemahalan, kalau nggak punya uang, diem aja. Kalau lo komentar nggak penting, lo menggerus semangat orang yang masih mau usaha.

Kayak kemarin, gue bikin Cikini Folk Festival. Ada 12 band yang main, tiap band main 45 menit, harga Rp 125 ribu. Eh, ada yang bilang mahal. Pengen gue tampol. Hehe. Kalau nggak punya uang nggak usah ngomong.

Gue ngeliatnya sekarang ini keberadaan sponsor tuh bikin kita jadi manja. Sponsor masuk, semua gratis. Dengan harapan ada sebanyak mungkin orang yang datang ngeliat branding sponsor.

Ini ada siklusnya, sih. Ada masanya konser luar negeri dan konser lokal banyak yang berbayar. Itu sehat. Sekarang (banyak) gratisan lagi. Dan jadi berasa, orang mikirnya tuh acara harus gratis. Padahal para penyelenggara, gue misalnya atau Ommunium, ngerasain suffer. Karena kami ngandelin penjualan tiket.

Apa yang lo cemaskan dari scene musik arus pinggir ini?

Persoalannya selalu satu ini sih: sustainability. Itu susah. Lo bisa tanya ke mereka yang tertarik sama indie, 5 tahun ke depan apa yang mereka mau lakukan? Gue pun nggak bisa jawab.

Personalnya selalu itu: bikin sesuatu yang sustain. Lo sebenarnya nggak butuh duit gede sih, lo lebih perlu duit yang pasti. Kita nggak perlu sidestream ini jadi gede, kita lebih perlu scene ini lebih hidup. Pemikiran dan pengalaman yang asik. Pastinya, bisa manfaat buat kita ya.

Terakhir, apa pesan lo untuk  pegiat musik sidestream yang masih muda?

Pertama, lo harus percaya, muda itu permanen. Kedua, lo harus bisa melihat ada apa di sekitar lo. Mulai dari satu hal yang sederhana gitu. Ketika lo punya 10 teman yang dengerin lagu Vira Talisa, misalnya, yaudah lo main aja, bikin acara, sendiri. 10 orang juga cukup.. Gue sangat terinprisai sama Bonita & The Hus Band, yang bikin Live at  Rumah Bonita.

Semua harus mulai dari yang kecil. Ketika lo punya materi musik baru, masa sih lo nggak punya temen 20 orang untuk lo ajak dateng untuk nyimak musik lo.

Untuk jadi gede lo harus kecil sih. nggak bisa langsung gede. Jadi emang prosesnya harus dilalui. Dan semuanya harus dimulai dari diri lo sendiri.

Rizki Ramadan

Berkeliaran di halaman sekolah, sebagai wartawan, sambil mengawal HAI School Crew menulis untuk rubrik My School Pages.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×