Event

Dulu Tuh, Sahara Bukan Gurun dan Nggak Gersang Lho, Semuanya Gara-gara Ulah Manusia!

Gurun Sahara
Foto by : Science Alert.

Sekarang kalo denger nama Sahara, bisa dipastiin lo langsung kepikiran sama sebuah gurun terluas di dunia yang kering dan gersang. Tapi sebuah teori baru studi tentang Sahara ternyata justru sebaliknya. Teori yang dipaparin oleh David Wright, arkeolog Seoul National University dan Jessica Tierney dari Unversity of Arizona, justru bilang kalo Sahara dulu adalah wilayah padang rumput yang subur! Kok bisa?

Wright dan Tierney bilang, kalo Sahara awalnya nggak tercipta sebagai gurun. Migrasi dan aktivitas bercocok tanam manusia pada 8.000 tahun lalu yang kemungkinan jadi penyebabnya. Studi Tierney dan Wright ini sendiri dipublikasikan di Frontier of Earth Sciences  dan Sciences Advances, bulan Maret ini.

“Dulu Sahara 10 kali lebih basa daripada saat ini,” kata Tierney seperti dikutip dari Science Alert.

Kalo dari teori ini, dulu manusia ngebuka lahan di Sahara buat berternak dan bertani. Nah, ketika lahan di wilayah itu udah nggak subur lagi, manusia pada tinggalin deh. Akhirnya, Sahara pun berubah.

Foto Salju yang turun di atas Gurun Sahara beberapa waktu lalu
Foto Salju yang turun di atas Gurun Sahara beberapa waktu lalu

Saat lanskap mulai berubah, Sahara secara langsung jadi terpapar sinar matahari. Panas matahari yang memantul ke atmosfer ini yang kemudian menciptakan udara kering. Pengaruh monsum di kawasan Sahara yang semula kuat pun jadi melemah. Akhirnya, gurun tersebut jadi punya curah hujan yang sangat minim.

Nggak sekedar berteori aja, Wright juga ngasih beberapa bukti arkeologi buat ngedukung teorinya ini. doi bilang kalo ada jejak sungai purba, tanaman, dan hewan yang terpendam di bawah permukaan Sahara.

Jejak arkeologis ini diklaim sebagai bukti kalo Sahara pernah jadi wilayah hijau. Diperkirakan, periode hijau Sahara terjadi pada 16.000-6.000 tahun lalu, pada periode lembab Afrika.

Saat ini banyak ilmuwan bilang kalo Sahara tercipta karena perubhan sumbu rotasi bumi yang terjadi dalam kurun waktu 20.000 tahun. Tapi Wright nggak setuju dengan teori ini. Menurut doi perubahan sumbu rotasi bumi emang ngasih dampak, tetapi nggak besar.

Akan tetapi, Wright juga ngerasa masih perlu buat memperkuat teorinya. Ia bilang kalo masih perlu adanya penggalian buat dapetin lebih banyak bukti arkeologis dan perubahan vegetasi. Teori yang menarik kan?

Dimas Yulian

Reporter Majalah HAI. Peminat kajian media, jurnalistik dan musik paruh waktu.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×