Follow Us

Lulusan dan Mahasiwa LaSalle College Pamerkan Koleksi Prolusio di JFW 2022

Al Sobry - Minggu, 12 Desember 2021 | 12:45
Prolusio jadi show paraulusan dan Mahasiwa LaSalle College di JFW 2022

Prolusio jadi show paraulusan dan Mahasiwa LaSalle College di JFW 2022

HAI-Online.com – LaSalle College kembali berpartisipasi dalam rangkaian acara mode Jakarta Fashion Week 2022 untuk menunjukkan eksistensinya di ajang fesyen bergengsi di ibukota.

Yang unik, koleksi fesyen yang dipamerkan dalam acara tersebut berasal dari koleksi mini, tesis dan proyek industri yang dilakukan oleh para lulusan dan mahasiswa Program Desain Mode Lasalle College Jakarta.

Tentu bukan sekadar pilihan asal, meski pernah dipamerkan di perhelatan kampus, koleksi yang terpilih adalah yang menyesuaikan dengan tema yang diangkat mereka dalam fashion show JFW yaitu “Prolusio”.

Baca Juga: Cowok Ini Koleksi Botol Coca-Cola Sejak 1998, Sekarang Nilainya Lebih dari Rp500 juta

Prolusio merupakan kata Latin yang memiliki makna pendahuluan, atau pengantar. Harapannya, tentu ajang ini dapat membuka peluang bagi LaSalle College untuk memperkenalkan para desainer muda yang cerdas dan berbakat dari kampusnya di Jakarta.

Nah, semua koleksi Prolusia merupakan karya fesyen yang menggunakan kain tenun tangan tradisional, dikombinasikan dengan siluet modern dan kain modern untuk mendapatkan tampilan yang up to date dan wearable.

Setidaknya ada 14 desainer jebolan LaSalle College yang ditampilkan dalam acara tesebut di antaranya: karya Novia Tjanggah (Rambu Humba), koleksi ini menggabungkan basic, core fashion, dan trend-led look menggunakan bahan yang halus, potongan dan silut yang unik sebagai ciri khasnya.

Didominasi dengan warna biru dan putih, sebagai simbol pengabdian kepada dewa-dewa dalam budaya Sumba. Tujuan utamanya Rambu Humba di Prolusio adalah untuk memperkenalkan keindahan kedua kain bermotif dari Bali yang dihiasi dengan manik-manik buatan tangan yang sangat halus dan detail, teknik bordir dan tambal sulam, dikombinasikan dengan kreativitas dan kekaguman pada fashion yang tinggi.

Selanjutnya ada kary Theresia Ferensy berjudul Sweet Despair, koleksi ini menonjolkan budaya Flores menggunakan kain tenun alami yang disebut “tenun ikat” yang terinspirasi oleh Frida Kahlo.

Koleksi ini mewakili kemandirian, kerja keras, dan cinta diri. Koleksi ini mencoba menggabungkan kain tenun ikat dengan kain interlock, linen, dan nilon, dengan menambahkan potongan kain dan sashiko sebagai perawatan kain.

Karya ketiga datang dari Nadya Oktaviani Budinarta (Patembi) yag fokus pada tampilan ultra-feminin, berlapis dan jaket pas santai.

Koleksi ini terdiri dari pakaian malam dan pakaian sehari-hari. Ditonjolkan dengan kain tenun ikat dari Sumba Timur sebagai fitur utama dalam koleksi ini, bersama dengan taffeta sutra, organza, denim, melton, dan linen.

Editor : Hai

Baca Lainnya

PROMOTED CONTENT

Latest