Event

Cerita Bersambung HAI: Menembus Langit Ep 24

Ilustrasi: Gio

24
DADAH


Malang nian episode ceritaku hari ini. Kelam, mengiris hati, dan sungguh mengerikan. Sudah dimaki orang, dituduh dukun santet pula.

Ada-ada saja pengalamanku ini. Bendera semafor yang terikat di palang sepeda dianggap benda mistis yang bisa mendatangkan bencana. Padahal, itu hanya sebuah kain berwarna kuning-merah yang digunakan untuk memberikan pesan. Sebuah bendera untuk menyampaikan kode rahasia. Ternyata masih banyak juga orang yang sangat tradisional dan percaya hal-hal berbau mistik.

Ah, mungkin sebagian orang saja yang menyangka aku ini dukun santet. Tadinya, aku mau meyakinkan mereka bahwa aku ini orang biasa. Aku ini cuma pemuda yang baru lulus sekolah menegah, tak punya kekuatan gaib seperti yang mereka tuduhkan. Aku adalah sang pandu yang sedang menimba ilmu kepada alam. Berkelana ke tempat-tempat baru untuk menemukan hal-hal baru pula.

Akan tetapi, karena sudah telanjur terjadi, aku biarkan saja pengalaman itu berlalu. Menjelaskan kepada mereka belum tentu akan menghentikan kesalahpahaman. Bisa jadi malah akan memperpanjang permasalahan yang secara tidak langsung akan membuatku tertahan lebih lama di sini. Hal terpenting bagiku sekarang adalah memikirkan langkah selanjutnya.

Ilustrasi: Gio
Ilustrasi: Gio

***

Hari sudah larut malam. Aku tak tahu mesti beristirahat di mana. Kalau kembali ke rumah Andi, nanti malah memperkeruh masalah. Lagi pula, Andi menyuruhku untuk pergi saja sementara waktu ini. Kalau sudah agak lama, barulah aku diperbolehkan bertamu lagi ke rumahnya.  Belum genap 24 jam, aku sudah berpisah dengan Andi. Persahabatan yang singkat dan mesti aku rajut lagi di pertemuan selanjutnya.

Hal yang terlintas di benakku, kali ini aku akan mencari masjid saja untuk rehat. Bagiku, masjid memanglah tempat persinggahan yang paling nyaman. Pedal pun aku kayuh untuk mencari-cari tempat ibadah yang sekiranya bisa didatangi. Dengan perlahan, aku meniti jalan sepi. Kulebarkan pandangan, mencari-cari bangunan yang memiliki kubah. Pencarian itu terus aku lakukan, namun sudah beberapa kilometer kutempuhi, belum juga kutemukan tempat ibadah yang bisa aku singgahi. Mau bertanya lokasi masjid, tak ada orang yang aku temui. Maklumlah, malam sudah cukup larut.  

Bukan karena frustrasi, aku rapatkan sepeda ke samping lampu jalan. Aku ingin merenung sejenak sambil meluruskan kaki-kakiku yang terasa pegal. Temaram lampu jalan menyorot tubuhku. Aku terduduk, bersandar pada tiang besi yang menyangga lampu dengan sinar kekuningan. Aku raih botol minuman dari bawah palang besi sepeda dan membuka katupnya. Tegukan pertama sungguh meredakan kegundahan. Ketenangan kini aku dapatkan setelah air bening itu mengalir ke tenggorokanku. Pun dengan tegukan kedua yang semakin menentramkan ragaku malam ini. Tapi, belum sempat aku meneguk yang ketiga kali, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki orang. Aku taruh botol minuman di atas trotoar dekat ban depan sepeda.  Segerombolan pemuda datang menghampiriku. Ketenangan yang baru aku raih mendadak sirna. Ada rasa waswas saat orang-orang itu membentuk lingkaran. Mereka  mengepungku dengan wajah penuh pertanyaan.

    Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya tatapan tajam yang kudapatkan. Tatapan penuh kecurigaan. Mereka seolah ingin menelanjangiku. Aku tentu saja gundah dan bertanya-tanya. Aku bukan gembel. Aku bukan pengemis yang tak punya rumah. Mengapa mereka manatapku seperti itu, seolah meremehkanku?

    Aku bangkit dari dudukku. Berdiri dan menyapa mereka yang sejak tadi tak bersuara. Tadinya, aku ingin meminta bantuan orang lain, tapi aku tengok sekeliling tak ada orang lain yang bisa aku mintai pertolongan. Lagi pula belum waktunya aku berontak. Mereka belum melakukan apa-apa. Mereka belum menyakiti diriku.

Hal yang membuatku lebih tenang, tak satu pun di antara mereka memegang senjata yang bisa mengancam jiwaku. Untuk mencairkan kekakuanku, aku bersikap seolah tak ada yang ditakuti. Aku melemparkan senyum kepada mereka, satu per satu. Rupanya hal itu membuat mereka berubah. Raut muka dan tatapan mata mereka tak lagi seperti tadi. Salah seorang dari mereka malah lantas menyapaku dengan ramah.

    “Awak siapa?” Seorang pemuda berambut poni bertanya, sekaligus menjadi pembuka pembicaraan di malam yang sudah larut ini.

“Nama saya Fauna, dari Indonesia,” jawabku. Kemudian, aku menjelaskan perjalananku secara singkat kepada mereka. Kuterangkan motivasiku berkeliling dunia dengan mengayuh sepeda. Kukisahkan pula hal yang membawaku ke tempat itu.

“Rupanya awak manusia yang hebat,” puji pemuda satu lagi yang berkepala botak.

“Iya, sekarang saya sedang mencari masjid untuk bermalam.” Aku mengutarakan keinginanku. Barang kali saja mereka tahu lokasi masjid terdekat.

“Masjid jauh sekali dari sini. Awak ikut saja bersama kami.” Ajakan itu tentu melegakanku sekaligus mengkhawatirkanku. Betapa tidak? Orang asing yang baru saja menghampiriku dan menatapku penuh kecurigaan justru menawarkan tumpangan.

“Ke mana?” Aku meneliti terlebih dahulu sebelum memutuskan jawaban atas ajakan mereka. Aku harus tetap waspada agar tak terjadi sesuatu yang tak dinginkan. Lebih berhati-hati.

“Ke rumah saya.” Kalau dari logatnya, pemuda yang baru saja menjawab pertanyaanku tak berlogat Melayu. Aku yakin dia orang Indonesia. Setelah aku menanyakan identitas mereka, ternyata benar. Sekumpulan pemuda itu tiga orang Malaysia dan dua orang Indonesia. Karena di antara mereka ada yang berasal dari negara yang sama, aku agak lebih percaya. Aku pun menuruti ajakan mereka.

“Baiklah,” kataku. Aku sepakat dan menerima tawaran mereka.

“Nah, bagus. Awak istirahat saja malam ini di rumah saya,” tambahnya.

Kami berenam beranjak menuju rumah yang berlokasi tak jauh dari lampu jalan tadi. Hanya butuh waktu 2 menit dengan berjalan kaki untuk sampai di rumah milik salah satu pemuda tadi.

Tak hanya baik, mereka ramah sekali menerimaku. Sungguh berbeda dengan dugaanku saat mereka mengepung pada awal pertemuan. Aku manut saja diajak bermalam di rumah megah ini. Namun, aku tetap harus waspada walau kesan yang diberikan para pemuda itu baik-baik. Pasalnya, sangat langka ada segerombolan pemuda yang punya empati seperti yang kudapatkan sekarang ini.

          “Nyaman sekali tempat ini,” gumamku. Rumah itu tak terlalu besar, namun penataan barang-barangnya sungguh baik sehingga terkesan luas dan sangat bersahabat.

    “Awak tidur di sana,” seru pemilik rumah sambil menunjuk ke sofa panjang berwarna cokelat yang merapat di sudut ruangan. Tentu ini menggembirakan. Bisa tidur di kursi empuk. Malam ini bakal menjadi malam yang sangat membahagiakan. Saat sulit menemukan tempat bermalam, aku dipertemukan dengan para pemuda baik yang sudi memberikan tumpangan istirahat.

     “Terima kasih...” Aku segera mendekat ke kursi nyaman itu sambil mengelus-ngelus sandarannya.

    “Awak tak usah malu. Anggap saja rumah sendiri.” Kalimat itu tentu sungguh menenteramkanku. Para pemuda itu meninggalkan ruang tamu tempatku tidur. Di sebelah, ada ruangan lain yang dijadikan tempat mereka bersenda gurau. Bukannya beristirahat, mereka malah mengobrol hingga larut. Ya, mungkin mereka bersahabat dekat. Tak peduli dengan itu, aku langsung merebahkan diri di sofa yang memanjakan tubuhku ini.

    Tak lama aku bisa memejamkan mata. Pasalnya, selain lelah melanda, tempat yang nyaman ini juga menambah ketenteraman yang ada. Mimpi indah adalah cita yang aku inginkan saat ini. Berintrospeksi dan menata rencana-rencana selanjutnya.

    
 ***

Aku terbilang orang  yang responsif terhadap apa pun yang terjadi di sekitar. Mungkin sudah bawaan atau terbiasa menghadapi dan merasakan segala kondisi serta situasi.  Termasuk mendengarkan suara-suara meskipun dalam keadaan terlelap tidur. Sebelum subuh tiba, suara-suara itu terdengar di telingaku. Aku terbangun dari peraduan, lalu menengok ke ruang sebelah, tempat para pemuda itu berkumpul bersama. Pasalnya sumber suara itu berasal dari sana.

Rupanya mereka tak tidur semalaman. Mulanya aku memaklumi, karena mungkin mereka adalah sahabat yang ingin menghabiskan malamnya dengan bercengkerama bersama. Begadang untuk ngobrol ngalor-ngidul saja. Namun, ada perasaan curiga di benakku. Terbersit perasaan yang kurang mengenakan.

Makanya, aku memutuskan untuk mengendap. Merangkak dengan perlahan untuk mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan. Untungnya ruang tamu tempatku tidur terbilang gelap. Jadi, mereka tidak mengetahui kehadiranku.

Astagfirullah. Mataku mendadak terbelalak. Tak menyangka pemandangan yang baru saja kudapati. Aku cubit lengan kiriku. Benar, ini bukan mimpi. Bukan pula imajinasi. Aku melihat sendiri apa yang sedang mereka lakukan. Tak kusangka, para pemuda seramah mereka melakukan hal yang dilarang oleh agama. Di luar yang aku pikirkan, mereka berpesta dengan obat-obat yang aku yakini dilarang di negeri ini. Setahuku, para pemakai obat-obat terlarang yang aku pastikan narkotika itu taruhannya nyawa. Kalau ketahuan memakai, apalagi menjadi pengedar, akan berujung menjadi pesakitan. Hukuman mati akan mengancam di hadapan.

Aku memang bukan pemakai, bukan pula pengedar. Tapi, aku berada di  tempat mereka bersenang-senang menenggak obat terkutuk. Minuman haram yang tergeletak di atas meja juga menambah ketakutanku. Bagaimana kalau nanti ada polisi yang tiba-tiba menggerebek? Bagaimana dengan nasibku yang ada di sini, di antara mereka yang sedang berpesta? Tentu, mau tak mau, aku akan terseret dan dianggap bagian dari mereka.

Dalam sekejap, masih dalam keadaan telentang di atas lantai, aku berdoa. Semoga pikiran-pikiran negatif yang bergelayut itu tak akan pernah terjadi. Di pertengahan doa, aku sesekali menengok lagi. Pemuda berambut poni itu menyuntikkan obatnya ke lengan. Aku meringis, padahal suntikan itu tak menancap di tanganku. Kemudian, aku alihkan pandangan lagi dan melanjutkan doa agar aparat tak menghampiri rumah yang nyaman buat beristirahat ini. Semoga malam ini tak berujung mengenaskan.

Tidur nyamanku menjadi terganggu. Karena terbangun oleh ulah para pemuda yang sebelumnya aku duga baik itu. Mereka mabuk, tubuh mereka lunglai. Mereka terbuai oleh racun-racun narkotika. Candu menjadi penyebab mereka melakukan aktivitas yang sedang aku lihat ini. Narkoba berubah wujud sebagai setan-setan yang mengendalikan manusia ke jurang neraka.

Prakk... Gelas yang ada di sampingku terjatuh. Tanganku tak sengaja menyenggol gelas itu. Suaranya  mengejutkan para pemuda yang sedang menikmati pestanya mirasnya.

“Fauna?” Entah siapa yang memanggilku. Demi menutupi kecurigaan mereka, aku mau tak mau harus muncul dengan sikap biasa. Seolah tak mengerti dengan apa yang aku lihat.

“Saya mau ke toilet.” Aku berdalih ingin buang air kecil ke belakang untuk menutupi rasa kikukku.

“Oh, di sana toiletnya!” Aku menuruti arahan lokasi yang harus kutuju.

Tak berlama-lama aku di dalam toilet karena memang tak ada niatan untuk buang hajat, apalagi mandi. Biar terkesan memanfaatkan toilet, aku cuci muka saja. Kemudian, tak selang lama aku menuju ke ruang tamu yang mau tak mau mesti melewati para pemuda itu bersenang-senang. Kepulan asap yang bersumber dari rokok di atas asbak cukup menggangguku. Aku paling tak suka mengisap asap rokok. Kalau berhadapan dengan kabut putih tak ramah itu, aku langsung batuk-batuk. Buatku, aktivitas merokok itu sangat merugikan. Merokok adalah media yang bisa menjerumuskan  ke jurang keburukan. Kesehatan akan terganggu, spirit akan menurun dari waktu ke waktu. Untungnya, seumur hidupku, aku menghabiskan setengah batang saja. Itu pun dipaksa untuk coba-coba sewaku aku duduk di kelas 3 SMP. Setelah itu, tak pernah lagi, sekalipun hanya menyentuh bungkusnya.

“Fauna, kamu mau mencoba?” Pemuda yang duduknya sudah setengah terkulai itu menawarkan serbuk putih yang dibungkus plastik. Warnanya putih dan aku yakin itu bukan bubuk yang baik. Ngeri.
“Apa itu?” Aku berpura-pura tidak tahu. Padahal aku yakin yang ditawarkan kepadaku adalah barang haram yang tak patut dikonsumsi.

“Ini Dadah. Awak akan senang jika menghirupnya,” ucap pemuda itu. Mereka memang baik, mengajakku bermalam di rumahnya dan diminta istirahat saja. Dan, kalaupun aku tak menghampiri pasti aku tak pernah ditawarkan. Namun, karena mesti terpaksa berpapasan di dalam ruangan ini membuatku bingung. Apa yang mesti aku tanggapi dengan tawarannya.

“Tidak...” Aku menolak saja dengan nada suara halus. Aku takut sekali dengan apa yang ditawarkan. Untungnya mereka tak memaksa. Tapi, tetap saja rasa khawatirku mengebu-gebu. Pasalnya aku resah kalau-kalau ada polisi yang datang ke rumah ini. Rumah yang tadinya nyaman mendadak terkesan sumpek. Aura ruangannya menjadi seperti neraka jahanam. Untuk melanjutkan tidur saja aku sudah tak mau. Sudah tak bisa meneruskan mimpi seperti yang sebelumnya diidamkan.

Kalau aku lebih lama lagi tinggal di sini, yang ada malah rasa waswas itu menjadi-jadi. Aku tidak tenang di sini. Aku tidak betah. Aku langsung pamit saja menuju ruang tamu tempat sofa itu menunggu kehadiranku. Aku bukannya merebahkan tubuh seperti semalam. Aku dengan perlahan berkemas. Ingin rasanya pergi dari tempat yang sedang aku singgahi ini. Namun, kepergianku tentu harus tak sepengetahuan mereka.

Edan... Aku telah masuk ke sarang pemakai dadah. Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini dari sesuatu yang buruk. Aku membaca situasi di ruangan sebelah. Nampaknya mereka berlima sudah tak sadarkan diri. Dengan berjinjit, aku menuju pintu depan. Bersiap keluar dari rumah itu tanpa pamit. Selanjutnya, aku akan mencari masjid sebagai tempat yang paling nyaman di dunia ini. (*)

Oleh: Edi Dimyati

hai-online.com

Berdedikasi di hai online

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×