Cerita Bersambung HAI: Menembus Langit Ep 24

  • Rabu, 15 Maret 2017 19:00 WIB

Ilustrasi: Gio


Malang nian episode ceritaku hari ini. Kelam, mengiris hati, dan sungguh mengerikan. Sudah dimaki orang, dituduh dukun santet pula.

Ada-ada saja pengalamanku ini. Bendera semafor yang terikat di palang sepeda dianggap benda mistis yang bisa mendatangkan bencana. Padahal, itu hanya sebuah kain berwarna kuning-merah yang digunakan untuk memberikan pesan. Sebuah bendera untuk menyampaikan kode rahasia. Ternyata masih banyak juga orang yang sangat tradisional dan percaya hal-hal berbau mistik.

Ah, mungkin sebagian orang saja yang menyangka aku ini dukun santet. Tadinya, aku mau meyakinkan mereka bahwa aku ini orang biasa. Aku ini cuma pemuda yang baru lulus sekolah menegah, tak punya kekuatan gaib seperti yang mereka tuduhkan. Aku adalah sang pandu yang sedang menimba ilmu kepada alam. Berkelana ke tempat-tempat baru untuk menemukan hal-hal baru pula.

Akan tetapi, karena sudah telanjur terjadi, aku biarkan saja pengalaman itu berlalu. Menjelaskan kepada mereka belum tentu akan menghentikan kesalahpahaman. Bisa jadi malah akan memperpanjang permasalahan yang secara tidak langsung akan membuatku tertahan lebih lama di sini. Hal terpenting bagiku sekarang adalah memikirkan langkah selanjutnya.

Ilustrasi: Gio
Ilustrasi: Gio

***

Hari sudah larut malam. Aku tak tahu mesti beristirahat di mana. Kalau kembali ke rumah Andi, nanti malah memperkeruh masalah. Lagi pula, Andi menyuruhku untuk pergi saja sementara waktu ini. Kalau sudah agak lama, barulah aku diperbolehkan bertamu lagi ke rumahnya.  Belum genap 24 jam, aku sudah berpisah dengan Andi. Persahabatan yang singkat dan mesti aku rajut lagi di pertemuan selanjutnya.

Hal yang terlintas di benakku, kali ini aku akan mencari masjid saja untuk rehat. Bagiku, masjid memanglah tempat persinggahan yang paling nyaman. Pedal pun aku kayuh untuk mencari-cari tempat ibadah yang sekiranya bisa didatangi. Dengan perlahan, aku meniti jalan sepi. Kulebarkan pandangan, mencari-cari bangunan yang memiliki kubah. Pencarian itu terus aku lakukan, namun sudah beberapa kilometer kutempuhi, belum juga kutemukan tempat ibadah yang bisa aku singgahi. Mau bertanya lokasi masjid, tak ada orang yang aku temui. Maklumlah, malam sudah cukup larut.  

Bukan karena frustrasi, aku rapatkan sepeda ke samping lampu jalan. Aku ingin merenung sejenak sambil meluruskan kaki-kakiku yang terasa pegal. Temaram lampu jalan menyorot tubuhku. Aku terduduk, bersandar pada tiang besi yang menyangga lampu dengan sinar kekuningan. Aku raih botol minuman dari bawah palang besi sepeda dan membuka katupnya. Tegukan pertama sungguh meredakan kegundahan. Ketenangan kini aku dapatkan setelah air bening itu mengalir ke tenggorokanku. Pun dengan tegukan kedua yang semakin menentramkan ragaku malam ini. Tapi, belum sempat aku meneguk yang ketiga kali, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki orang. Aku taruh botol minuman di atas trotoar dekat ban depan sepeda.  Segerombolan pemuda datang menghampiriku. Ketenangan yang baru aku raih mendadak sirna. Ada rasa waswas saat orang-orang itu membentuk lingkaran. Mereka  mengepungku dengan wajah penuh pertanyaan.

    Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya tatapan tajam yang kudapatkan. Tatapan penuh kecurigaan. Mereka seolah ingin menelanjangiku. Aku tentu saja gundah dan bertanya-tanya. Aku bukan gembel. Aku bukan pengemis yang tak punya rumah. Mengapa mereka manatapku seperti itu, seolah meremehkanku?

    Aku bangkit dari dudukku. Berdiri dan menyapa mereka yang sejak tadi tak bersuara. Tadinya, aku ingin meminta bantuan orang lain, tapi aku tengok sekeliling tak ada orang lain yang bisa aku mintai pertolongan. Lagi pula belum waktunya aku berontak. Mereka belum melakukan apa-apa. Mereka belum menyakiti diriku.

Reporter : hai-online.com
Editor : Alvin Bahar

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×