Dari Ricky Yacob Sampai Egy Maulana. Ini Kisah Para Bintang Yang Berkilau di Lapangan Hijau

  • Rabu, 31 Januari 2018 17:00 WIB

Jagoan Sepakbola Indonesia Dari Masa Ke Masa | Kompas.com

HAI-online.com -  Sepak bola adalah identitas sebuah bangsa. Buktinya bisa kita lihat dan rasakan langsung ketika ada gelaran besar dimulai, misalnya kaliber Piala Asia, sampai Piala Dunia.

Selalu ada kebanggaan tersendiri ketika Timnas negara kita sukses lolos bahkan juara. Yap, lewat kehadiran si kulit bundar, peliknya hidup hingga segala situasi konflik dan perang di dunia ini sering kali bisa terlupakan sejenak.

Yap, sepak bola bisa menjadi “obat sementara” yang mujarab bagi segala kesulitan di berbagai belahan dunia, dan pastinya nggak terkecuali di Indonesia. Bahkan ketika nama Indonesia belum “lahir”, dengan nama Hindia Belanda, para pemuda sebelum era kemerdekaan udah ikutan Piala Dunia 1938 di Prancis. Indonesialah negara di Asia pertama yang ikut Piala Dunia, bro.

Setiap era selalu ada sosoknya. Kali ini, kita akan membahas sosok-sosok muda yang pernah membawa harum nama bangsa di Timnas Sepak Bola Indonesia. Ada empat sosok dengan semangat #YoungnLoud dari era 80 hingga 2010-an yang kisahnya bakal HAI ceritakan.

Semuanya punya benang merah yang sama, sejak masih muda seperti kita, mereka telah berkilau di lapangan hijau. Kalo mereka aja bisa, kita juga mungkin bisa, dong?

1. Ricky Yacob

undefined
Ricky Yakob (kedua dari kanan) dalam SEA Games 1987 di Jakarta. Foto: imgrum.org.
Sosok fenomenal yang bersinar di era 80-an adalah Ricky Yacob, yang kemudian lebih dikenal sebagai Ricky Yacobi (Nanti bakal diceritain kenapa namanya bisa berubah). Om Ricky lahir di Medan pada 12 Maret 1963. Dia dikenal sebagai penyerang yang memiliki kelebihan dalam hal kecepatan. Dia juga menjadi ujung tombak andalan tim nasional pada era 80-an.

Sepanjang kariernya di Indonesia, Om Ricky pernah memperkuat PSMS Medan, Arseto Solo, BPD Jateng, dan PSIS Semarang. Pada 1980, doi berperan mengantarkan PSMS Medan yunior juara Piala Soeratin, yang notabene adalah turnamen khusus pemain di bawah usia 18 tahun.

Selepas dari PSMS, Om Ricky menyeberang ke Pulau Jawa untuk bergabung dengan salah satu klub anggota Galatama, Arseto Solo. Di klub inilah, Om Ricky nggak pernah sekalipun mencicipi gelar juara Galatama. Akan tetapi, doi sukses menjadi top skorer Galatama sebanyak dua kali, yakni pada 1987 dan 1990.

Karier Om Ricky di level tim nasional lebih mentereng ketimbang di klub. Dalam balutan seragam merah putih, Ricky sukses mengharumkan nama Indonesia di sejumlah ajang internasional. Pada Asian Games 1986 di Korea Selatan, Om Ricky menjadi kapten tim.

Reporter : Rian Sidik
Editor : Rizki Ramadan

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×