“Lalu, nggak perlu juga khawatir untuk menghafal begitu banyak konten untuk bisa mengikuti tes seleksi,” lanjutnya.
Dengan nggak adanya bimbel, maka berdampak positif bagi orang tua dan guru.
Bagi orang tua, mereka nggak perlu lagi terbebani tanggungan finansial tambahan untuk bimbingan belajar para anaknya di lembaga les.
Kalau bagi guru, bisa jadi lebih fokus pada pembelajaran yang bermakna, holistik, dan berorientasi pada penalaran yang mendalam, bukan hafalan.
“Guru juga bisa kembali percaya diri bahwa pembelajaran sesuai kurikulum itu sudah cukup untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi seleksi PTN lewat SBMPTN,” terang Nadiem.
Nadiem menambahkan, kerja sama antara siswa dengan guru lewat pengasahan logika dan daya nalar, maka akan meningkatkan kesuksesan peserta didik jalur SBMPTN.
“Seleksi masuk PTN harusnya nggak menurunkan kualitas pembelajaran pendidikan menengah, harus lebih inklusif dan adil, nggak diskriminatif pada peserta didik dari keluarga yang kurang mampu untuk membimbelkan anaknya,” pungkasnya. (*)