Follow Us

Film Drama Psikologi Indonesia, Everyday is A Lullaby Tayang di Busan Festival 2020

Al Sobry - Jumat, 18 September 2020 | 10:41
Everyday is A Lullaby diperankan aktor Anjasmara lolos festival film Busan

Everyday is A Lullaby diperankan aktor Anjasmara lolos festival film Busan

HAI-Online.com - Film panjang Indonesia berjudul Everyday is A Lullaby lolos ke ajang bergengsi Busan Internasional Film Festival (BIFF) 2020.

Produksi film ini diketahui telah digarap sejak tahun 2016, namun baru rampung pada tahun ini dan siap diputar di Festival Film Busan pada Oktober mendatang.
"Film ini selesai lama karena memang, proses pengeditannya yang cukup lama. Beberapa kali menemukan bagian-bagian yang kurang pas sampai akhirnya diputuskan kalau film ini adalah film dan bukan sekadar sebuah pekerjaan," ungkap Putrama Tuta dalam konferensei pers virtual Kamis (17/9/2020).

Baca Juga: Kurangi 2 Jam Bermain di Media Sosial, Hidup Lo Bakal Tenang dan Bisa Jadi Pemenang!

Menurut Tuta, film bergenre drama dengan pendekatan psikologis ini menampilkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dalam melawan rasa takut.

Karakter tokohnya menggunakan imajinasi tanpa batas, mendobrak ruang dan waktu demi mencari jalan pulang yang terbaik.

Ia lalu menyadari bahwa dirinya telah mati dan hidup dalam ceritanya sendiri.

Naskah skenarionya ditulis oleh Ilya Sigma, diproduseri oleh John Badalu, dan disutradarai Putrama Tuta.

Pemerannya adalah Anjasmara Prasetya (Den Rektra), Fahrani Pawaka Empel (Marissa), dan Raihaanun (Shakuntala). Film ini juga didukung oleh Aghi Narottama, Wulan Guritno, dan Almarhum Deddy Sutomo.

Ia merasa karakter Den Rektra berdampak besar dalam kehidupannya sehari-hari.

"Kalau boleh jujur ya, saya setiap kali ditanya karakter ini, film ini, saya deg-degan sampai detik ini. Nggak tahu kenapa," kata Anjasmara dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/9/2020).

Menurut John Badalu, masuknya Everyday is A Lullaby ke ajang BIFF 2020 dilewati dengan seleksi yang cukup ketat lantaran kuota film yang bisa diputar pada masa pandemi ini berkurang setengah dari tahun-tahun sebelumnya.

"Kompetisinya lumayan ketat, jadi kita juga ketar-ketir untuk kira-kira masuk nggak ya. Karena kita juga submit-nya itu hampir di menit-menit terakhir pas hari terakhir. Tapi, responsnya lumayan cepat dibalas pihak BIFF, paling dua minggu," jelas John Badalu, dalam konferensi pers yang sama.

Editor : Hai

Baca Lainnya





PROMOTED CONTENT

Latest