Follow Us

Sejarah McDonald's Sarinah, PIM, dan Blok M Plaza Jadi Tempat Nongkrong Favorit Remaja Jakarta Pada Masanya

Alvin Bahar - Senin, 11 Mei 2020 | 12:30
McDonald's Sarinah pada masanya adalah tempat nongkrong remaja.
Dok. HAI

McDonald's Sarinah pada masanya adalah tempat nongkrong remaja.

HAI-ONLINE.COM - Buat kita yang remaja, mungkin bingung kenapa McDonald's Sarinah sebegitu diromantisirnya karena tutup. Iya sih, memang McDonald's pertama di Jakarta. Tapi masa sebegitunya sampai jadi holy grail?Jawabannya: Memang sebegitunya. Pada tahun 1990-an, McDonald's Sarinah, bersama Pondok Indah Mall, dan restoran Happy Times di Plaza Indonesia, memang jadi tempat nongkrong favorit ABG (Anak Baru Gede, RED).Pada masanya, di tempat-tempat itu lo bisa nemuin remaja dengan gerak-gerik maupun kostumnya mirip-mirip. Mereka ini pula, yang dengan pakaian kebesarannya itu, menyerbu konser-konser musik rap. Mulai dari pertunjukkan Iwa K, sampai ke Kriss Kross. Orang-orang dewasa atau yang lebih gede dari mereka, memberi istilah ABG alias Anak Baru Gede. Sedikit berbau ejekan. Karena itu, kebanyakan dari mereka ini pastilah tak suka dengan istilah itu. "Yang dibilang ABG tuh yang baru selesai SD, ya kelas 1 SMP gitu. Terus biasanya mereka itu korban mode. Celana cutbray dan sepatunya Doc Mart, terus kalau bicara pakai lah ya, lah ya," celoteh Jovanka Mardova, pada 1993 lalu ia seorang siswi SMP 111 kelas III yang suka nongkrong bareng 8 kawannya di Happy Times.

Baca Juga: Konten Dulu, Covid Belakangan: Penutupan McDonald's Sarinah Dihiasi Warga Jakarta yang Melanggar PSBB"Saya mesti tahu dulu, mereka ngatain ABG itu dasarnya apa. ABG itu kan anak-anak yang nunjukin borjunya (borjuis) aja. Mereka pengen orang tahu, saya nih kaya. Kayak gitu tuh yang ABG!" sergah Noni, alumni SMP St. Ursula yang dulu suka main ke McDonald's Sarinah.

Kenapa remaja zaman itu milih nongkrong di McD Sarinah?Apapun istilah yang dilekatkan pada mereka, yang jelas, berkumpul di tempat-tempat semacam itu menurut mereka mempunyai keasyikan sendiri. "Tempatnya enak, komplet, bisa makan, nonton, ngeceng, jalan- jalan," kata Dimas Suryo, yang suka nongkrong di McD Sarinah ketika masih jadi siswa kelas 2 SMP Ora Et Labora, Jaksel. Hal semacam ini niscaya akan disetujui semua ABG pada masanya, baik yang ada di PIM, Blok M Plaza, Plaza Indonesia, maupun di kawasan restoran McDonalds - komplek Sarinah jalan Thamrin. Padahal kalau mengingat awalnya dulu, tak sedikit ABG yang dapat pengalaman pahit. Dimas sempat dipalakin prokem di PIM. Sepatunya dirampas. Waktu itu ia baru turun dari taksi, bahkan belum lagi sempat menutup pintunya. Namun, dari aktivitas nongkrong tersebut, Dimas dan ABG lain mendapat banyak teman. Syukur-syukur ada yang bisa dipacari.

"Kayaknya lebih bersemangat, gitu, kalo lihat cewek kece," katanya.Ia mengaku dulu minimal seminggu sekali pasti ke PIM. "Bisa sama temen, bisa juga sama keluarga." Dari remaja pada masa itu yang ditanyai HAI memang jarang yang mau-mauan datang sendirian. Biasanya selalu bareng sekawanan teman. Mereka bisanya datang dengan kawan satu sekolah. Minimal 3 orang. Kalau toh cuma datang berdua, mereka akan cari teman baru di sana. Dari perkenalan semacam itu, aktivitas baru tak jarang lahir. Dimas misalnya lantas bisa barengan main basket bersama kawannya yang dikenal dari PIM. "Kalau mau ngumpul, ngumpul aja. Mau makan di sini atau jalan-jalan dulu, ayo. Tergantung teman-teman yang lain. Saya suka aja kalau ngumpul kan bisa rada ngocol. Di sekolah kan nggak bisa," tambahnya.Yang jelas, selama berada di tempat-tempat itu, obrolan menjadi hal yang tak kalah penting. Topik yang dibicarakan memang yang berkaitan dengan persoalan yang sama-sama dihadapi mereka. "Kita biasanya ngobrolin soal teman, musik, atau soal guru BP kita yang sirik terus sama anakanak," tukas Jovanka yang dulu suka nongkrong di Plaza Indonesia. "Kita biasa membicarakan teman- teman yang lain, orang tua, mode pakaian, atau soal sekolah," tukas Rani, yang suka nongkrong di Happy Times bareng adiknya, Rika. "Tapi kebanyakan yang kemari memang mencari pergaulan yang lebih luas, dari sekadar teman di satu sekolah saja," tukas Rika, si adik alumni SMP 40.

Ternyata "rusuh" jugaKehadiran pada ABG bukan berarti tak merepotkan pihak amanan setempat. Menurut Pak Armin, salah seorang petugas Satpam di PIM, dikutip dari Majalah HAI nomor 47 tahun 1993, dari mereka itu tak sedikit yang suka iseng. Misalnya, menggoda kawan-kawannya sedemikian rupa, hingga berakhir dengan keributan. Atau ada pula yang secara diam-diam bawa minuman. Bahkan juga melakukan jual beli obat-obat terlarang. Dulu, minuman keras memang dilarang di PIM. Namun lucunya, minuman semacam itu dijual bebas di sebuah supermarket di PIM. Jadi, ya, para ABG itu sebenamya bisa mendapatkannya. Dalam soal ini, pak Satpam biasanya dengan gampang akan menegur ABG untuk tak minum-minum. Yang sulit adalah kalau menegur ABG bule. "Mereka suka pura-pura nggak mengerti bahasa Indonesia," kata pak Satpam. Kehadiran mereka ini, dari segi bisnis, tampaknya juga tak terlalu berarti. Setidaknya seperti pengakuan Rony Davand, asisten manajer toko The Athlete's Foot pada masa itu. Produk yang dijualnya tergolong digandrungi remaja. Bahkan di tokonya pun dipasang tiga video sekaligus, yang menayangkan pertandingan basket NBA. Menurut perhitungannya, tiap hari sekitar 20 anak usia ABG menyatroni tokonya. "Yang membeli nggak lebih dari separuhnya saja. Sisanya kalo nggak numpang nonton NBA, ya sekedar melihat-lihat," katanya.

Editor : Hai

Baca Lainnya





PROMOTED CONTENT

Latest