Follow Us

Sejarah Musik Emo di Indonesia: Dari Muncul, Redup, hingga Bangkit Lagi

Alvin Bahar - Senin, 21 Desember 2020 | 09:00
Killing Me Inside
HAI

Killing Me Inside

HAI-ONLINE.COM - "Ichod anti jab**y, Ichod anti jab**y," sebuah suara memecah keheningan ketika Killing Me Inside sedang bersiap-siap untuk memainkan sebuah tembang andalan From First To Last, Ride The Wings of Pestilence.

Di dalam video yang diunggah di YouTube pada 12 Februari 2007 tersebut, tampak Sansan (vokal), Josaphat (gitar), Onad (bas), Rendy (drum), dibantu oleh Dochi (additional gitar) tampil all out, di sebuah gig yang di gelar di News Cafe Kemang.

Tanpa ada batasan, antara band dengan penonton membaur jadi satu dalam gig yang intim tersebut.

Gambaran suasana gig di atas adalah hanya salah satu contoh dari sekian banyak gig yang banyak digelar di Jakarta dan sekitarnya pada saat itu.

Selanjutnya, virus emo dengan cepat menyebar, selain musik, emo juga menjalar sebagai fashion statements anak muda kala itu.

Berselang lebih dari 8 tahun kemudian, tepatnya pada, Jumat, 30 Oktober 2015, gig berkonsep serupa kembali di gelar di Rossi Fatmawati, Jakarta Selatan.

Saat itu, di atas panggung yang tingginya nggak lebih dari setengah meter, terdapat Sansan (vokal), Josaphat (gitar), Rudye (Keyboard), Angga Tetsuya (Bas), Dochi (gitar), dan Davi (drum) kembali memainkan sebuah tembang emo legendaris dari Saosin, Seven Years.

"Padahal belum sempat latihan, tuh, yang Seven Years, langsung hajar aja, hehehe...," kata Dochi setelah turun panggung.

Kenangan ini mau nggak mau menyeruak ketika HAI melihat poster sebuah acara yang pernah berlangsung di Borneo Beerhouse, Kemang, pada 23 September 2017 yang menghadirkan para pionir scene emo di Jakarta.

Arck, Too Late To Notice, Side Project, dan Seems Like Yesterday bakal manggung bareng di acara yang diberi nama Party Like It's 2008.

Baca Juga: Ketahuan Bikin Rave Party di Toilet Sekolah, Peralatan DJ Bocah 12 Tahun Disita Guru

Editor : Hai

Baca Lainnya

PROMOTED CONTENT

Latest