Follow Us

Aksi Boikot Produk Perancis, Tempat Les Bahasa di Bandung Ikut Kena Segel

Bagas Rahadian - Selasa, 03 November 2020 | 13:43
Bukan Cuma Khabib Nurmagomedov, Warga Medan pun Ikut Injak Poster Presiden Prancis Emmanuel Macron
TDBN

Bukan Cuma Khabib Nurmagomedov, Warga Medan pun Ikut Injak Poster Presiden Prancis Emmanuel Macron

HAI-Online.com - Buntut kecaman warga Indonesia terhadap Presiden Perancis Emmanuel Macron turut berimbas dengan disegelnya pusat kebudayaan dan pendidikan bahasa Perancis, Institut Français d'Indonésie (IFI) di Bandung pada Senin (02/11) kemarin.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam se-Bandung Raya, menggelar aksi Bela Islam dan Bela Kehormatan Nabi sebagai bentuk protes terhadap sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menghina umat muslim.

Baca Juga: Pelajar SMKN 1 Kudus Ujicoba Belajar 2 Jam di Kelas Tatap Muka Selama Dua Pekan

Berdasarkan laporan dari TribunJabar, selain menggelar orasi dan menyampaikan kekecewaannya, massa melakukan penyegelan dengan memasang sebuah spanduk di depan gerbang yang ditulis dengan cat semprot merah DISEGEL UMAT ISLAM.

Selain itu, dilaporkan bahwa aksi juga diwarnai penginjakan dan pembakaran gambar wajah Presiden Perancis Emmanuel Macron di depan gerbang IFI Bandung.

Kabarnya, selama satu jam aksi massa tidak direspon oleh perwakilan dari IFI yang gedungnya tampak sepidengan hanya ada penjagaan dari personel di halaman dan luar gedung.

Massa pun dilaporkan meminta petugas keamanan dari IFI Bandung, mengambil map biru berisikan dokumen pesan dan tuntutan kepada Pemerintah Perancis.

Baca Juga: Huru-hara Wacana Boikot, Ini Deretan Merek dan Produk Terkemuka Prancis di Indonesia

Salah seorang koordinator aksi, Muhammad Budiman mengatakan, aksi penyegelan terhadap gedung lembaga pendidikan dan kebudayaan Perancis adalah bentuk protes dan kekecewaan terhadap sikap yang ditunjukkan Pemerintah Perancis terhadap umat Islam seluruh dunia, khususnya di Jawa Barat dan Bandung Raya.

"Penyegelan ini merupakan sikap protes kami terhadap Pemerintah dan Presiden Perancis, dan tentu saja penyegelan ini bersifat sementara. Sebelum Presiden Perancis melalui kedutaannya melakukan permintaan maaf secara terbuka, penyegelan ini tidak boleh dibuka, kenapa demikian, karena dalam rangka mengawal keutuhan dan rasa keadilan bersama, jadi tidak boleh ada aktivitas dulu sebelum dia (Emmanuel Macron) minta maaf kepada umat Islam. Kalau mereka (Pemerintah Perancis) sudah minta maaf, baru ini (segel) boleh di buka," katanya.

Editor : Hai

Baca Lainnya

PROMOTED CONTENT

Latest