Follow Us

Interview Eksklusif: Feel Koplo Geser Stigma Dangdut Melalui 'A Culture A 6'

Mohammad Farras Fauzi - Sabtu, 20 Maret 2021 | 20:00
Feel Koplo
Feel Koplo

Feel Koplo

HAI-ONLINE.COM - Menindaklanjuti perilisan single “Akulturasik” (November, 2020) dan official remix dari “Gurita Kota” (Februari, 2021), duo elektronik asal Bandung, Feel Koplo, akhirnya meluncurkan mini-album perdananya berjudul A Culture A 6. Rilisan ini berisikan enam lagu – tiga lagu orisinal dan tiga remix dari teman-teman Feel Koplo, yakni The Panturas, Closehead, dan Rocket Rockers.

Baca Juga: Feel Koplo Rilis Mini Album, Ngeremix Rocket Rockers Hingga Closehead

Dirilis pada hari Jumat 20 Maret 2021, tim HAI berkesempatan untuk mengupas tuntas dua personel grup musik dangdut elektronik ini pada Kisum Live bersama Feel Koplo di tanggal yang sama dengan perilisan mini album pertama mereka "A Culture A6".

Kedua personel yang diisi oleh Maulfi Ikhsan dan Tendi Ahmad notabene adalah barudak keneh (masih terlibat dalam satu tongkrongan) dari saya yang didapuk untuk menjadi host saat itu.

Sehingga, pembicaraan kemarin cenderung lebih mengalir layaknya sedang nongkrong bersama di pinggiran jalan Kota Bandung.

Berikut rangkuman pembicaraann HAI dengan Feel Koplo. Sebelum membaca, sikat dulu nih video musik remix Feel Koplo untuk lagu Closehead - Berdiri Teman di bawah:

Selamat Feel Koplo atas rilisnya anak pertama kalian "A Culture A6", jadi apa sih yang jadi bahan bakar utama kalian ketika sedang nongkrong bikin lagu?

Iksan: [Sembari menunjukkan tattoo D.Y.I-nya yang bertuliskan "Mini Album Feel Koplo A Culture A 6 Sudah Keluar"] makasih dong! bahan bakar dari kami yang utama mah kuncinya selalu bercanda dengan serius.

Instagram / @ikshaano

Maksudnya bercanda dengan serius ini ya gimana yah... Karena awal terbentuknya Feel Koplo sendiri juga atas dasar bercanda tongkrongan yang menjelma jadi karya aja. Karena cukup produktif dan diterima oleh para pendengar, ya kami sepakat untuk terus bergerak untuk melanjutkan apa yang kami kerjakan.

Tendy: Aku mah coba tarik sejarah gimana Feel Koplo kebentuk aja yah, waktu itu mah awalnya aku cuma diajak sama si Iksan yang harus tampil di sebuah event.

Karena menganggap belum terlalu penting untuk tampil di atas panggung, aku cuma ngebantu Iksan untuk ngeremix lagu-lagu kekinian dengan apa yang udah kami ramu, kebeneran aja

Kapan sih kalian mulai berkenalan dengan dangdut?

Iksan: Kalo aku, dangdut mah emang udah mengakar kuat di dalam hidupku. Sedari kecil, di lingkungan tempat aku tinggal juga lagu dangdut sangat mudah didengarkan sehari-hari.

Coba kalian perhatikan, lagu dangdut sedari intro selalu memunculkan hook yang ramah di kuping. Begitu masuk, kita sebagai pendengar dimanjakan dengan nada dan melodi-nya tanpa harus bertele-tele menunggu bagian reff.

Selain itu, mang (paman) aku juga dulunya sangat berjasa dengan mengenalkan berbagai jenis musik dangdut ke aku. Kebetulan beliau adalah salah satu pemain lama di skena orkes keliling kampung yang bermodalkan keyboard digital. Nggak salah kalo perbendarahan beliau atas musik dangdut sangatlah kaya.

Kalo aku perhatikan mah ya, sebenernya konsep orkes keliling tuh sama banget sama apa yang Feel Koplo bawakan. Cuma alih-alih kami tampilkan secara konvensional, Feel Koplo membungkusnya dengan semangat modernisasi dan kontemporer sehingga lebih mudah untuk diterima sama khalayak banyak, terutama anak muda di kota besar.

Tendy: Karena aku sama Iksan temen lama dan nongkrong bareng sejak zaman SMP, jadi perbendarahan lagu dangdut dari lingkungan Iksan lama-lama juga nular ke aku.

Awalnya kan pasti agak gimana gitu ya anak seusia kami dengerin musik dangdut, tapi ada satu momen yang merubah pandanganku.

Waktu itu di pertengahan era 2000-an kan lagi musimnya mp3 bajakan yang dijual di pinggir jalan, nah kebetulan saat itu bank lagu dari mang-nya Iksan numpuk semua di PC si Iksan.

Dari situ aku mulai penasaran dengan puluhan hingga ratusan musisi dangdut seantero Indonesia yang ternyata ada berbagai jenis. Tertarik deh untuk ngulik beat dan melodinya, terutama tersadar karena musik dangdut sendiri

Dikarenakan sudah sedikit lelah untuk menjawab secara bersamaan, saya dan mereka berdua sepakat untuk merangkum secara singkat pembicaraan kami untuk pertanyaan selanjutnya.

Feel Koplo sendiri menganggap kalian ini grup dangdut atau gimana? Lalu apa pandangan kalian terhadap Feel Koplo yang berperan besar atas stigma buruk musik dangdut yang kini mulai diterima oleh khalayak luas?

Feel Koplo: HAHAHAHA gimana yah, kami juga bukan yang sehari-harinya dengerin musik dangdut atuh. Kalo dideskripsikan mungkin kami lebih suka disebut sebagai grup dangdut elektronik aja kali yah?

Atas peran Feel Koplo terhadap pergeseran stigma musik dangdut itu, ya kami cuma bisa bilang Alhamdulillah aja.

Tapi ini pertanyaan yang cukup out of context mungkin yah, konsep parodi nggak bisa dilepaskan dari self branding kalian sebagai grup musik.

Terlihat di judul-judul lagu orisinal kalian "Akulturasik", "Angin Berderu Kencan", dan “Hura-Haru“, yang juga semakin menguatkan gestur Feel Koplo yang selalu berhasil menangkap dan menyajikan fenomena pop culture secara jenaka. Ada komentar?

Feel Koplo: [Saling memandang satu sama lain] Alhamdulillah. Berarti kami berhasil bercanda dengan serius.

Masuk pertanyaan agak serius, apa sih pesan utama yang ingin kalian sampaikan kepada pendengar ketika membungkus mini album pertama “A Culture A 6” ini?

Feel Koplo: Pada intinya sih apa yang ingin kami sampaikan melalui mini album pertama ini adalah jangan terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi di diri kalian. Terutama di tengah masa pandemi seperti ini, perasaan gundah gulana pasti melanda semua orang.

Untuk itu kami pengen mengajak para pendengar untuk merayakannya dengan perasaan bungah (bahagia) untuk merayakan kesedihan bersama.

Pressure teu sih kalo kalian disemati dengan pelabelan “Feel Koplo is the new wave of Indonesian dangdut music scene”

Feel Koplo: KA MANA WAE ATUH NEW WAVE, JAUH TEUING!! (ke mana atuh new wave, jauh banget mikirnya!!) [sembari tertawa bersama]

Tiga lagu lain yang disediakan di Mini Album A Culture A 6 diisi oleh band-band ikonik asal Bandung, ada alasan khusus kah kenapa 3 band tersebut secara special dipilih untuk kalian ajak kolaborasi dalam rilisan pertama Feel Koplo?

Feel Koplo: Rocket Rockers dan juga Closehead adalah pahlawan kami di masa kami remaja. Kami bagaimanapun sangat terbawa dengan musik dan vibe yang mereka bawa.

Teringat saat kami sering menjadi panitia pensi atau event yang sering banget mengundang mereka, sekarang kami bisa ngobrol dan bahkan ngerjain proyek bareng. Tentu pengalaman yang sangat menyenangkan dan tentu saja, surreal.

Untuk The Panturas, rekanan yang masih satu era dan generasi dengan kami, namun pergerakan mereka sangatlah edan dan selalu menarik untuk diantisipasi. Suatu kehormatan untuk bisa kolaborasi dengan Panturas dan meremix salah satu lagu andalan mereka "Gurita Kota" dan masuk dalam mini album kami.

Pertanyaan terakhir, bagaimana anda melihat diri anda dalam 5 tahun ke depan?

Feel Koplo: Meuni siga HRD (Kenapa jadi kayak HRD).... Kalo aku [Iksan] sangat berharap untuk segera merilis album penuh kami ya dalam waktu dekat.

Sembari mengamini perkataan Iksan, Tendy selaku penanggung jawab musikalitas Feel Koplo bersiap untuk menutup percakapan ini dengan menyiapkan peralatan "perang" Feel Koplo untuk menampilkan dua lagu terbaru mereka.

Demikianlah perbincangan yang terjadi antara HAI dan Feel Koplo yang mengupas tuntas mini album "A Culture A6" dan fenomena musik dangdut di Indonesia yang dapat diakses pada fitur IG TV akun @hai_online di bawah:

Editor : Hai

Baca Lainnya





PROMOTED CONTENT

Latest