HAI-Online.com - "Keadilan tidak bisa diarep-arep (diharapkan), tapi harus didatangkan ke dalam hati agar tercipta bumi yang harmoni," tulis sebuah pesan di salah satu dinding pameran Ratu Adil.
Seniman Petrus Agus Herjaka gelar pameran seni rupa bertajuk Ratu Adil di kantor Tribun Jogja, Jumat (7/10) lalu.
Mengambil tema kepemimpinan, Herjaka menampilkan imajinasi dunia pewayangan yang berkisah tentang sang ratu adil.
Istilah ratu adil biasanya ditujukan kepada seseorang yang diharapkan datang membawa perubahan bagi orang banyak.
"Setiap orang bisa menjadi ratu adil untuk diri sendiri, ketika bisa membawa matahari. Artinya matahari, bisa membawa perubahan dari gelap menjadi terang. Sehingga, bisa membangunkan semua orang secara organik, untuk bersemangat dan berkarya penuh suka cita," ucap Herjakayang juga aktif sebagai Koordinator Seni dan Kebudayaan di Rumah Tembi Budaya.
Baca Juga: Shaggydog Rayakan 25 Tahun Berkarya dengan Pameran Arsip di JNM Bloc Yogyakarta!
Di sisi lain,kurator muda Karen Hardini juga mengatakan kalau istilah ratu adil merupakan suatu konsep yang kontekstual di segala zaman.
"Ratu adil sebagai konsep kuno dan magis turut hadir dan selalu kontekstual dalam segala zaman," ungkap Karen.
Beragam karya dihadirkan Herjaka dalam pameran Ratu Adil, di antaranya terdiri dari 12 karya lukisan bermedia kanvas, 16 karya bermedia kertas, dan 14 karakter wayang kulit berjudul 'Wayang Mbangun Desa'.
Menurut Karen, karya-karya yang digoreskan oleh Herjaka dapat dilihat dari dua sudut pandang.
Pertama, Herjaka meminjam figur dan atau simbol-simbol bagian tubuh wayang tubuh dari wayang purwa untuk menyampaikan kepentingan gagasan tertentu.