Follow Us

Sebut Penembak Iran sebagai Teroris, Atlet Korea Selatan Jin Jong-Oh Meminta Maaf

Hanif Pandu Setiawan - Minggu, 01 Agustus 2021 | 18:21
Jin Jong-oh (kanan) akhirnya meminta maaf setelah dirinya menyebut petembak asal Iran, Javad Foroughi sebagai teroris.
Wikimedia

Jin Jong-oh (kanan) akhirnya meminta maaf setelah dirinya menyebut petembak asal Iran, Javad Foroughi sebagai teroris.

HAI-Online.com – Atlet asal Korea Selatan, Jin Hong-oh akhirnya mengungkapkan permintaan maafnya setelah menyebut lawannya yang berasal dari Iran, Javad Foroughi sebagai teroris.

Pada cabang olahraga menembak di Olimpiade Tokyo 2020 ini sendiri, Javad Foroughi sukses meraih medali emas di nomor 10 meter air pistol, mengalahkan Damir Mikec (Serbia) dan Wei Pang (China).

Meski begitu, raihan Foroughi ini ditanggapi sinis oleh Jin Jong-oh, peraih empat medali emas sepanjang partisipasinya di Olimpiade.

Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual Berlanjut, Kris Wu Resmi Ditahan Polisi Beijing

"Bagaimana bisa teroris memenangkan emas? Hal paling konyol dan membingungkan," ucap Jin kepada reporter di Bandara Seoul, dikutip Korea Times.

Bahkan pada Minggu (1/8/2021), netizen Indonesia membanjiri linimasa Twitter dengan hashtag 'SouthKoreaRacist'. Mereka juga menyindir, protes atas kebencian terhadap warga Asia atau kampanye 'Stop Asian Hate' yang kerap digaungkan Negara Ginseng tersebut nggak sesuai dengan tindakan warganya sendiri.

Baca Juga: 4 Pebulu Tangkis Berdarah Indonesia yang Bela Negara Negara Lain di Olimpiade Tokyo 2020

Ucapan Jin kepada atlet asal Iran tersebut mengacu kepada temuan bahwa Foroughi merupakan anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sayap militer elite di Iran.

FYI, Garda Revolusi adalah pasukan elite yang membawa misi rahasia hingga keluar negara, dan mempunyai posisi penting di dalam negerinya—yang pada 2019 dikelompokkan Amerika Serikat (AS) ke sebagai organisasi teroris.

Nah, ucapan Jin Jong-oh kepada Javad Forough tersebut dilontarkan setelah sebelumnya United for Navid—sebuah kelompok yang dirikan setelah Navid Afkari, seorang pegulat Iran dieksekusi mati di Shiraz karena dituduh membunuh aparat saat demonstrasi 2018 lalu, memprotes keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mengizinkan Forough berkompetisi.

Editor : Hai

Baca Lainnya





PROMOTED CONTENT

Latest