Follow Us

Inilah Sejarah Mudik, Tradisi Masyarakat Indonesia Saat Lebaran

Dok Grid - Selasa, 19 Maret 2024 | 10:16
Mudik lebaran di tol Cikampek
Kompas.com

Mudik lebaran di tol Cikampek

HAI-Online.com - Mudik sudah menjadi momen yang ditunggu-tunggu dan menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia menjelang Lebaran. Banyak yang berbondong-bondong pergi ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama sanak-saudara.

Baca Juga: 3 Benda yang Wajib Banget Dibawa Saat Mudik Jauh, Biar Lo Anti Bete

Tetapi, mudik ini ternyata ada sejarahnya, hingga akhirnya menjadi tradisi yang lazim dilakukan hingga saat ini oleh masyarakat Indonesia.

Diberitakan Kompas.com, 6 Juni 2018, kebiasaan mudik sudah ada sejak zaman kerajaan. Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan, kebiasaan mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam, di wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.

"Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam," kata Silverio.

Akibat wilayah kekuasaan yang luas, Kerajaan Majapahit menempatkan pejabat-pejabatnya di daerah-daerah kekuasaan. Suatu ketika, pejabat itu akan ingin pulang ke pusat kerajaan untuk menghadap Raja dan mengunjungi kampung halamannya.

Hal inilah yang kemudian dikaitkan dengan fenomena mudik, "Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," kata Silverio.

Baca Juga: 4 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Kalau Nggak Mudik, Jalanan Sepi, Sob!

Akan tetapi, istilah mudik baru populer sekitar tahun 1970-an. Kata ini menjadi sebutan untuk perantau yang pulang ke kampung halamannya.

Dalam bahasa Jawa, masyarakat mengartikan mudik sebagai akronim dari mulih dhisik yang berarti pulang dulu. Sementara, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai 'kembali ke udik'. Dalam bahasa Betawi, udik berarti kampung.

Akhirnya, lambat laun secara bahasa mengalami penyederhanaan kata dari "udik" hingga menjadi "mudik" seperti sekarang.

Silverio berpendapat, mudik zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu, menurut Silverio, mudik dilakukan secara natural untuk mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga.

Sekarang, mudik lebih lekat dengan ajang eksistensi diri. Masyarakat datang ke kampung untuk membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.

Nah, itu tadi sejarah mudik hingga kini menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Bisa dikatakan mudik merupakan hal yang wajar dilakukan untuk mereka yang perantauan untuk kembali ke kampung halamannya untuk bertemu sanak saudara dan orang tua.

Source : Kompas.com

Editor : Hai

Baca Lainnya

PROMOTED CONTENT

Latest