“Ada teori, pengayaan, dan kunjungan. Jadi kita membuat 4 kurikulum, pertama kurikulum untuk semua guru dari kelas 4 sampai kelas 6.
"Kedua, kurikulum panduan guru untuk masing-masing kelas. Ketiga, kurikulum teks siswa, dan keempat kurikulum LKS Siswa. Saat ini kami masih fokus untuk sekolah dasar, namun untuk ke depannya tidak menutup kemungkinan akan diterapkan juga untuk SMP dan SMU,” jelas Erni.
Perlu diketahui juga, edukasi terkait bakau sudah dimulai sejak tahun 2016 di tiga sekolah. Saat itu, hanya bekerja sama dengan mahasiswa KKN dari UGM.
Kemudian pada 2017, bertambah menjadi 11 sekolah. Dari sini mulai dibentuk kurikulum khusus terkait bakau, hingga akhirnya pada tahun 2018 bertambah menjadi 26 sekolah.
Goks, kan?
Hmmmm, harusnya program kayak gini bisa diterapin kan, sob, di banyak lingkungan hidup terutama di perkotaan yang rentan polusi udara? (*)