Serial Stranger Things Angkat Kemampuan Musik Redakan Stress, Ternyata Begini Fakta Psikologinya!

Jumat, 08 Juli 2022 | 14:05
Netflix

Adegan saat Max kerasukan monster Vecna dalam Stranger Things season 4

HAI-Online.com - Serial Netflix Stranger Things angkat kemampuan musik untuk redakan stress lewat plot cerita ketika Max yang mengalami tekanan mental, berhasil selamat dari jeratan monster berkat mendengarkan lagu.

Lagu tersebut berjudul Running Up That Hill milik Kate Bush, yang beberapa minggu terakhir ini merajai tangga lagu global.

Lagu lawas tersebut viral lantaran digunakan sebagai soundtrack serial tersebut.

Kemampuan musik meredakan stress ini ternyata memang ada dalam ilmu psikologi. Musik atau lagu dapat menjadi media terapi bagi individu dengan masalah kesehatan mental.

Hal ini diungkapkan Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana SPsi MSc. Ahli Konseling Terapeutik itu sebut kalau musik masuk dalam kelompok terapi seni yang umum digunakan sebagai media psikoterapi.

Psikoterapi lewat musik ini bisa dilakukan mandiri dan termasuk dalam kategori self-help.

Baca Juga: Healing dengan Mencuci Piring, Psikolog: Bisa Redakan Stress, Tenangkan Pikiran dan Jauhkan Overthinking!

Kenali Musik Kesukaan lo

Untuk memaksimalkan efek penyembuhan lewat musik, pertama, lo harus kenal jenis atau genre musik kesukaan lo.

Ini penting karena musik memberikan efek terapeutik yang nggak secara langsung, melainkan lewat bagaimana lo memberikan apresiasi dan persepsi musik tersebut.

Musik klasik seperti Beethoven atau Bach sempat populer tahun 90-an untuk menstimulasi otak bayi. Namun, Atika menekankan kalau penggunaan musik sebagai psikoterapi ini nggak terpaku pada satu atau dua genre tertentu.

Musik sebagai terapi sifatnya custom dan sangat personal.

“Seseorang bisa saja merasa tenang mendengarkan musik beritme cepat seperti rock. Berarti dia memang disitu genrenya. Ada juga yang bisa lebih tenang dan lancar belajar jika mendengar musik instrumental,” jelasnya dilansir dari laman Unair, Rabu (6/7/2022).

Langkah kedua yakni mengamati respon emosi dan fisik ketika mendengarkan musik.

Hayati dan dengarkan musik secara mindful untuk melihat bagaimana respon tubuh dan emosi. Langkah ini penting untuk menentukan musik apa yang benar-benar memberikan efek pada diri sendiri.

“Let’s say mendengarkan dangdut kalo kita merasa rileks, nyaman, happy, genre itu bisa dipilih. Tapi, kalau tiap mendengarkan gendang atau seruling dangdut yang ramai kita jadi pusing, ya jangan digunakan,” katanya.

Baca Juga: Mari Kenali 5 Pola Pikir Ikigai, Kelola Stress Jadi Lebih Mudah

Bukan Sekadar Lagu

Musik sebagai media terapi ternyata nggak hanya terbatas pada musik dan lagu yang diproduksi di studio. Atika menyebut suara alam seperti air, angin, burung, atau deburan ombak juga termasuk musik karena menghasilkan nada.

Pada sesi meditasi misalnya, Atika lebih merekomendasikan suara-suara alam yang menimbulkan efek tenang dan rileks.

Selain itu, Atika bercerita bahwa banyak rumah sakit besar di Indonesia, bahkan Eropa, sering menggunakan gamelan untuk terapi musik.

“Jadi terapi nggak terbatas pada mendengarkan saja, tapi juga bisa dengan memainkan musik itu sendiri,” imbuhnya.

Obat Berbagai Masalah Kesehatan Mental

Menurut Atika, semua gangguan terkait emosi seperti stress, depresi, hingga masalah kecemasan bisa diatasi dengan terapi musik. Untuk itu, Atika menyarankan agar memilih lagu bernada positif.

“Untuk pasien konseling saya yang mengalami gangguan emosi negatif atau bad mood misalnya, saya akan betul-betul memastikan playlist mereka jauh dari nada atau lirik lagu beremosi negatif,” ungkapnya.

Nada dan lirik pada lagu ternyata sangat berpengaruh pada mood seseorang. Kalo lo lagi sedih, sebaiknya hindari musik dengan nada dan lirik sedih.

Sebaliknya, kalo lo ingin meluapkan kemarahan bisa pakai lagu dengan nada kencang.

Tetapi, untuk gangguan jiwa berat, musik saja nggak bisa membantu proses psikoterapi.

Gangguan halusinasi atau kecenderungan bunuh diri memerlukan psikoterapi yang lebih progresif dengan bantuan psikoterapis.

“Sebagai manusia kita pasti menghadapi tantangan. Dan orang yang tangguh pasti bisa menemukan jalan keluarnya,” pungkasnya. (*)

Editor : Al Sobry

Baca Lainnya