Para dokter menggambarkan Mallon sebagai orang yang sehat.
Ia menularkan penyakit namun ia sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda mengidap tifus.
Ada bukti bahwa orang punya "kemampuan yang berbeda dalam menyebarkan virus" dan Mary Mallon masuk dalam kategori orang yang "efektif menularkan penyakit" membuatnya mendapat predikat "super-spreader" atau "si penyebar super".
Ketika itu, demam tifus menimpa ribuan warga New York dengan tingkat kematian 10 persen.
Baca Juga: Yang Harus Lo Ketahui Soal Transisi Sekolah ke Dunia Kerja, Supaya Masa Depan di Genggaman
Ilustrasi Virus Corona
Mengapa ada ilmuwan yang nggak suka dengan istilah pasien nol?
Apakah adil menuding satu orang sebagai penyebab munculnya wabah penyakit?
Banyak pakar kesehatan yang tidak setuju dengan identifikasi pasien pertama yang menularkan penyakit, khawatir orang tersebut akan mengalami akan dianggap sebagai "biang masalah".
Selain itu, identifikasi seseorang mungkin juga tidak sepenuhnya akurat.
Misalnya dalam kasus wabah AIDS. Gaetan Dugas, seorang pramugara berkewarganegaraan Kanada, menjadi sasaran kemarahan setelah dinyatakan sebagai sumber penyebaran AIDS di Amerika pada 1980-an.
Namun tiga dekade kemudian, para saintis menyimpulkan Dugas tak mungkin sebagai pasien pertama AIDS.
Baca Juga: 8 Jenis Makanan Sehat yang Bisa Kamu Santap Untuk Cegah Virus Corona