Follow Us

Bilang Ini Pada Gurumu, Kebanyakan Tugas Sekolah Itu Bikin Jiwa Nggak Sehat.

Rizki Ramadan - Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:00
pelajar sma mengerjakan tugas yang banyak
Rizki Ramadan

pelajar sma mengerjakan tugas yang banyak

HAI-online.com - Masa remaja itu nggak baik jika hanya terisi dengan urusan akademis. Remaja perlu punya waktu untuk berinteraksi dengan keluarganya, bermain dengan sahabat-sahabatnya, dan melakukan kegiatan untuk mengekspresikan dirinya.

“Manusia itu terdiri dari tiga, kognitif, emosional, dan motorik. Tugas sekolah hanya akan mengembangkan sisi kognitif saja. Kalau terlalu banyak, remaja jadi nggak punya waktu untuk mengembangkan aspek emosional, dan motorik,” kata Fhardian Putra, psikolog remaja pemerhati pendidikan sekaligus founder Altru.ID.

Fhardian menyebutkan, sebenarnya memang nggak ada batasan jumlah tugas yang wajar, namun guru mesti sadar pemberian tugas yang terlalu banyak, nggak akan mengoptimalkan masa perkembangan remaja.

Perlu diketahui juga, bahwa kebanyakan tugas, tuh, terbukti memicu stres, lho. Teman kita, Billqis Meuthia Jaysti, dari SMAN 6 Surabaya punya cerita keluhan yang membuktikannya nih. (BACA: 4 Modus Si Guru Curang, Lihat Siswa Kesusahan Baru Tuh Ajak Les Tambahan!)

“Gara-gara (dapet) tugas setiap hari kerjaan gue mendekam mulu di kamar sampai jarang kumpul keluarga, jarang hangout. Makanya gue sering sakit gara-gara stress dan kecapekan. Please deh ya, Pak, Bu Guru, gue juga manusia yang bisa capek. Gue bukan robot yang bisa seenaknya lo forsir gini tenaga gue,” jelasnya.

Pintar Mengatur Waktu

Jika kita udah terlanjur dapet sekolah yang guru-gurunya hobi ngasih tugas—bahkan tanpa nyari tau dulu apakah guru lainnya sudah ngasih tugas atau belum—kita perlu bersiasat. Pertama, Fhardian mengingatkan bahwa pelajar SMA perlu jago mengatur waktu dan menaksir kemampuan dirinya.

“Siswa kan nggak bisa mengubah kebijakan akademik itu. Jadi, untuk menghadapi tugas, siswa perlu belajar manajemen waktu. Kalau begitu, tugas pun jadi bisa dicicil. Misalnya, ketika sedang di angkot, tugasnya diingat-ingat, dan dipikirkan jawabannya. Lalu, sampai di rumah, jadi tinggal menuangkannya menjadi jawaban saja,” kata Fhardian.

Selain itu, remaja juga kudu tau rentang konsentrasinya. Tiap orang beda-beda, lho. Ada yang bisa konsentrasi dalam waktu yang panjang. Ada juga yang hanya sebentar.

“Cara mengerjakan tugasnya perlu disesuaikan dengan rentang konsentrasi kita. Kalau kita nggak bisa konsentrasi lama-lama, maka biasakan ngerjain tugas dengan dicicil. Tiap hari setengah jam, misalnya. Tapi ingat, harus konsisten,” lanjutnya.

Yap, bener banget. Tugas itu tujuannya baik, lho, sebenernya. Biar kita berlatih dan belajar. Tapi, tetap, kalau jumlahnya udah nggak wajar, kita harus bersiasat. Biar psikologi kita tetap bisa berkembang dengan sehat, bro.

Editor : Hai

Baca Lainnya





PROMOTED CONTENT

Latest