Guru Besar Unpad: Mengapa Dietilen Glikol dan Etilen Glikol Memicu Gagal Ginjal?

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 17:15
Kemenkes

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. apt. Muchtaridi, PhD, jelaskan mengapa dietilen glikol dan etilen glikol dapat memicu gagal ginjal.

HAI-Online.com - Kematian anak akibat gagal ginjal akut ramai dibahas beberapa hari terakhir, salah satunya kasus di Gambia, puluhan anak meninggal diduga karena kandungan senyawa dietilen glikol dan etilen glikol dalam obat parasetamol.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Prof. apt. Muchtaridi, PhD, menjelaskan, dietilen glikol dan etilen glikol ini senyawa pelarut organik dengan rasa manis yang kerap disalahgunakan untuk pelarut obat.

Kelarutan dan rasa manisnya kerap disalahgunakan untuk mengganti propilen glikol atau polietiken glikol.

“Masalahnya, dietilen glikol dan etilen mengalami oksidasi oleh enzim,” kata Prof. Muchtaridi dilansir dari laman Unpad, Sabtu (22/10/2022).

Ketika masuk ke tubuh, senyawa ini mengalami oksidasi oleh enzim sehingga jadi glikol aldehid kemudian kembali dioksidasi jadi asam glikol oksalat dan kemudian membentuk lagi jadi asam oksalat. Asam oksalat ini memicu membentuk batu ginjal.

Prof. Muchtaridi melanjutkan, asam oksalat kalau sudah mengkristal bakal berbentuk seperti jarum tajam.

“Asam oksalat kelarutannya kecil, kalau ketemu kalsium bakal terbetuk garam yang sukar larut air dan larinya akan ke organ seperti empedu dan ginjal. Kalau lari ke ginjal bakal jadi batu ginjal. Kristalnya tajam bakal mencederai ginjal,” terangnya.

Kalau ini terjadi pada anak-anak yang notabene ukuran ginjalnya lebih kecil, dampak yang ditimbulkan bakal parah.

Baca Juga: Obat Cair dan Sirop Anak dan Dewasa Resmi Dilarang Pemerintah karena Diduga Sebabkan Gagal Ginjal

Nggak cuman memapar di ginjal, efeknya bisa ke jantung dan bisa memicu kematian yang cepat.

“Yang paling berbahaya ketika kondisi ini terjadi di negara-negara kering. Kondisi dehidrasi akan mempercepat pembentukan asam oksalatnya. Contohnya seperti di Gambia,” imbuhnya.

Karena efek sampingnya yang berbahaya, dietilen glikol dan etilen glikol sebenarnya sudah dilarang ketat penggunaannya dalam obat oleh Food and Drugs Administration (FDA) sejak 1938.

Namun, pada 1998, India mencatat ada kasus sedikitnya 150 anak meninggal karena penyakit yang sama dalam lima tahun terakhir.

Setelah diinvestigasi, 26 kasus dinyatakan positif karena dietilen glikol yang terkandung dalam obat flu.

Ia mengungkap, oknum produsen farmasi “nakal” masih menggunakan dua senyawa ini karena mudah diproduksi dan murah dibandingkan pelarut-pelarut lainnya.

Baca Juga: 21 Cara Mengecilkan Perut Tanpa Lapar, Keluar Keringet dan Olahraga, Kok Bisa?

Bagaimana di Indonesia?

Prof. Muchtaridi mengatakan, kematian akibat gagal ginjal akut misterius di Indonesia masih perlu ditelusuri lebih lanjut apakah karena dua senyawa tersebut atau bukan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan, obat yang menyebabkan kematian di Gambia nggak terdaftar di Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan parasetamol adalah analgesik paling aman untuk demam.

“Ada analgesik lain, contohnya ibuprofen. Ketika demamnya tinggi dan terindikasi demam berdarah di mana sel darahnya terganggu, minum ibuprofen justru akan memperparah. Yang paling aman justru parasetamol,” ucapnya.

Buat lo yang ingin menghindari penggunaan parasetamol sirup, Prof. Muchtaridi menyarankan mengonsumsi parasetamol tablet.

Selain itu, penggunaan puyer dinilai lebih manjur untuk dikonsumsi anak-anak.

“Kalau anak-anak susah makan puyer, bisa dicampur air yang bisa diperoleh di apotek. Itu kalau masih takut akan parasetamol sirup,” tutupnya. (*)

Editor : Al Sobry

Baca Lainnya