Bikin Haru, Mahasiswi Meninggal, Wisuda di UNESA Diwakili Sang Ibu

Jumat, 29 Juli 2022 | 19:05
Unesa

Seorang ibu wakili wisuda anaknya yang telah meninggal dunia

HAI-ONLINE.COM -Momen mengharukan terjadi pada wisuda sesi ketiga Universitas Negeri Surabaya, Kamis (28/7/2022) saat seorang ibu yang mewakili anaknya melangkah naik pangung.

Ibu yang bernama Endang Sulistyowati itu nampak berusaha tegar mewakili wisuda putra pertamanya, Mochamad Fathurrizqi yang meninggal dunia pada penghujung Februari lalu karena sakit.

Saat menerima ijazah langsung dari Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, air mata Endang nggak bisa terbendung.

Mochammad Faturrizqi adalah lulusan Prodi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang berhasil menamatkan studinya dengan baik.

Ketua Senat Unesa Prof. Haris Supratno turut menyampaikan dukacita yang mendalam dan mengapresiasi perjuangan dan kegigihan Fathurrizqi dalam menyelesaikan studinya dan untuk membanggakan kedua orangtuanya.

Baca Juga: Unesa Bersama Pemprov Kaltim Siapkan Beasiswa Full S1 Plud Uang Saku!

"Ini harus jadi contoh. Dibalik perjuangan kuliah mahasiswa, ada harapan besar orangtua. Sekali lagi, apresiasi yang sebesar-besarnya untuk mendiang Mochammad Fathurrizqi. Juga untuk orangtuanya yang hebat," ucap Prof. Haris seperti dikutip dari lamanUnesa, Jumat (29/7/2022).

Nggak lupa juga, jajaran senat, ribuan wisudawan beserta para pendamping dan tamu undangan berhenti sejenak untuk mendoakan almarhum Fathurrizqi.

“Semoga almarhum diterima di sisi sang maha Pencipta dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan," ucap Prof. Haris mendoakan.

Sang Ibunda juga menyampaikan rasa terima kasih yang besar untuk seluruh jajaran yang telah menerima dan mendidik Fathurrizqi sehingga bisa menjadi sajana, meskipun nggak bisa menghadiri prosesi wisuda.

Baca Juga: Program di Unesa Ini Wujudkan Lingkungan Kampus Ramah Disabilitas!

Almarhum Fathurrizqi adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang bercita-cita ingin menjadi ASN (guru) di Nganjuk selepas lulus kuliah.

"Dia nggak mau kerja jauh-jauh dari kami (orangtua), dia sempat bilang akan selalu di samping saya dan bapaknya sampai akhir hayat," terang Endang dengan haru.

Menurut pemaparan sang ibu, almarhum mulai merasakan sakit ketika mengurus prosesi yudisium.

"Sakitnya mulai terasa saat mengurus yudisium. Sudah transfusi darah. Namun, takdir berkata lain. Semoga anak kami tenang bersama Sang Khalik. Almarhum memang telah tiada. Namun, kenangan, kebaikan dan perjuangannya masih bersama kami. Doa kami selalu menyertainya di sana," pungkas Endang.

(*)

Editor : Alvin Bahar

Baca Lainnya