Cuma Makan Daging Mentah (Ayam Juga!) selama Tiga Tahun, Cowok Ini Ngaku Lebih Sehat

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:27
@therealnaturalhumandiet/Instagram

Weston Rowe ngaku cuma mengonsumsi dagung mentah selama tiga tahun terakhir.

HAI-Online.com – Menjalani diet vegan mungkin udah jadi hal yang cukup umum dilakukan orang-orang belakangan ini.Kebiasaanini dilakukan atas pertimbangan kesehatan serta upaya perlindungan terhadap hewan dan lingkungan.

Namun gimana jika diet tersebut dibalik? Yakni cuma mengonsumsi daging, bahkan secara spesifik yang masih mentah aja?Hal inilah yang dilakukan oleh seorangcowok bernama Weston Rowe.

Melansir laporanThe New York Post, cowok asal Nebraska, AS, ini mengonsumsi makanan berbasis daging mentah, termasuk ayam selama tiga tahun terakhir.Setidaknya hingga saat iniiabelum berencana untuk menghentikan pola makan tersebut.

Rowe memakan makanan mentah kaya protein, seperti daging sapi, hati, ayam, dan organ dari hewan lain.

Semua produk merupakan produk lokal dari peternakan sapi perah dan unggas. Rowe meyakini, diet berbasis daging mentah membantu meningkatkan kadar energinya.

"Aku berada dalam kondisi kesehatan yang lebih baik secara fisik maupun mental daripada yang pernah kualami di hidupku,"ujar Rowe.

Baca Juga: Cowok Ini Keliling Indonesia Buat Makan Soto Setiap Hari Selama Setahun

Selain meninggalkan makanan olahan, cowok berusia 39 tahun itu juga nggak mengonsumsi camilan. Ia hanya makan sebanyak dua atau tiga kali sehari, dan menghabiskan sekitar 140 dollar AS (sekitar Rp 2 juta) dalam seminggu untuk kebutuhan makannya.

Terkadang, dia jarang sarapan. Sebagai gantinya, Rowe memakan tiga atau empat telur mentah disertai sepotong buah.

Baca Juga: Chris Martin Ngaku Pernah Makan Magic Mushroom Buat Cari Inspirasi

Ngaku nggak pernah sakit gara-gara makan daging mentah

"Buah adalah salah satu makanan langka yang aku makan yang bukan berbahan dasar daging. Saat ini aku memakan 99 persen daging mentah segar pertanian dan nggak pernah sakit karena pola makanku," ujarnya.

Ia juga beralasan, jumlah pengeluarannya wajar untuk makan makanan yang menurutnya terbaik dan paling bergizi di dunia tersebut sebenarnya sama dengan jumlah yangia habiskan untuk junk food.

Namun, ada satu jenis makanan dalam diet Rowe yang menimbulkan pro dan kontra, yakni ayam mentah.

Seperti yang diketahui, pada ayam yang masih mentah, terdapat bakteri salmonella yang bisa menyebabkan berbagai infeksi, seperti diare dan keracunan makanan, jika dikonsumsi.

Meski demikian, Rowe mengeklaim, dirinya nggak pernah mengalami infeksi kendati sudah memakan banyak sekali ayam mentah.

"Aku sudah memakan puluhan kilogram ayam mentah dan aku nggak pernah sakit," ucap cowok itu.

"Ini (memakan daging mentah) sangat kontroversial, tetapi aku percaya daging mentah memiliki keseimbangan alami bakteri yang bekerja secara simbiosis dengan tubuh kita dan memiliki tujuan."

Pada waktu makan siang, menu makanan Rowe terbilang banyak. Ia menikmati setengah kilogram daging mentah dengan seperempat kilogram mentega mentah tanpa garam dan tiga atau empat telur mentah. Biasanya, menu makan siang itu dilengkapi dengan sepotong buah.

Untuk makan malam, Rowe mengonsumsi menu makanan yang sama seperti makan siang, ditambah kentang yang dimasak.

"Kentang mungkin satu-satunya makanan matang yang aku makan,"tuturRowe.

Baca Juga: Ada Restoran Konsep Unik dengan Tema Monopoli, Bisa Makan Sambil Main Game!

Nggak butuh bumbu penyedap rasa

Hidangan penutup sehari-hari cowok ini adalah es krim yang dibuat dari krim, susu, telur, dan madu segar.Sementaraia menyebut makananfavoritnyaadalahhati ayam, daging sapi mentah yang diberi mentega, serta otak domba.

Dalam menyantap makanan, Rowe mengaku nggak memerlukan bumbu sebagai penyedap rasa.

"Nggak butuh waktu lama buat aku untuk menyadari bahwa aku lebih suka tanpa bumbu."

Memang pola makan ini menimbulkan pro dan kontra, tetapi Rowe mengatakan, baik keluarga maupun teman-temannya mendukung gaya hidupnya.

"Semua orang di sekitar aku benar-benar menerima kebiasaan makan aku dan selalu tertarik ketika mereka pertama kali mempelajarinya,"pungkas Rowe. (*)

Editor : Alvin Bahar

Sumber : New York Post

Baca Lainnya