Ceyco Georgia: Sang Pendekar yang Pernah jadi ”Babu”

Reporter : Ali Sobri
Editor : Ali Sobri

Ceyco Georgia: Sang Pendekar yang Pernah jadi ”Babu” | Budi Ismail/HAI Magazine

”Mungkin aku orang yang nggak punya cita-cita, tapi ada prestasi itu berkat dan anugerah dari Tuhan,” kata Ceyco Georgia Zefanya Hutagalung, Juara Karate Dunia.

Kalau melihat tampang cewek yang akrab disapa Ceyco (baca: Keyko), kita bakal ngeliat beberapa bagian tubuhnya kekar terlebih pada bagian lengan dan kakinya. Jika dalam posisi kuda-kuda, guratan keras di wajah bataknya bakal tampak jelas. Bukan karena mau marah, tapi Ceyco bakal mengubah posisi menyerang. Kalo sudah begitu, matanya bakal menatap lebih tajam.

Nggak heran, banyak lawan Ceyco yang angkat tangan. Seperti yang dialami Altemur Eda, atlet karate dari Turki yang  pernah dilumpuhkannya pada ajang kejuaraan karate yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun lalu.

Setelah sempat enam kali bertarung mengalahkan lawannya dari India, Jepang, Polandia, Brazil, Hungaria dan Turki. Kemenangan Ceyco melawan Altemur Eda itu membawa cewek kelahiran Jakarta, 24 Juni 1999 jadi juara karate dunia.

”Mungkin aku orang yang nggak punya cita-cita, tapi ada prestasi (juara dunia) itu berkat dan anugerah dari Tuhan,” kata Ceyco saat mampir untuk kali kedua ke markas HAI.

Ngomongin soal prestasi Ceyco di dunia karate, anak bungsu dari Om Batara dan Tante Dessy ini merasa usianya masih belum cukup umur untuk melanjutkan prestasinya tersebut. Meski tercatat pernah juara dunia, Ceyco masih tidak diperkenankan untuk ikut dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun ini lantaran belum genap 18 tahun. Meski begitu, seperti kata Ceyco, seorang karateka sejati nggak boleh berhenti berlatih.

”Latihan itu kayak ngasah mata pisau. Kalau rajin diasah lama-lama bakal tajem, tapi kalo nggak diasah, bisa tajemnya segitu aja atau malah tumpul,” bijak penyuka bakso yang akhirnya tetap ikut PON meski bukan sebagai atlet.

”Aku tetap ikut sebagai official, jadi pendampingnya atlet senior gitu. Aku nemenin mereka, bantuin kalo mereka butuh peralatan aku yang bawain, mau minum aku yang sediain, kayak babu gitu sih, tapi babunya senior,” kenang Ceyco di PON kota Bandung kemarin.

Kata Ceyco, nggak hina menjadi ”babu” untuk atlet senior yang didampinginya. Selama kita mau mengambil pelajaran berharga dari mereka, ada saja yang bisa dipetik oleh seorang atlet karate yang masih diposisi junior sepertinya. Untuk itu, Ceyco suka memperhatikan sikap para atlet sebelum mereka menghadapi pertandingan.

”Ngeliat gimana, sih, pengalaman jadi atlet karate, aku belajar soal mengatasi ketegangan sebelum bertanding. Karena pada kenyataannya, dalam situasi perlombaan atlet pasti bakal merasa tegang karena ajang PON ini digelar empat tahun sekali. Mereka udah latihan dan nunggu momen ini, pas event-nya berlangsung kadang ada rasa takut kalah dan itu wajar, tapi aku belajar untuk meredam ketegangan biar mainnya maksimal,” jelasnya pintar mengambil hikmah.

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×