Mengenal Syed Saddiq, Menteri Muda Malaysia yang Usianya Baru 25 Tahun

Selasa, 03 Juli 2018 | 09:09
@syedsaddiq

Syed Saddiq

Dalam sebuah video yang disaksikan 841.000 kali hanya di akun Facebook-nya saja, Saddiq menyamakan nasib para pekerja itu dengan ayahnya yang harus bekerja 17 jam sehari untuk menghidupi keluarganya.

Hubungan antara Mahathir dan Saddiq amat jelas. Dalam sebuah video berdurasi 29 menit yang diunggah ke YouTube awal tahun ini, keduanya mendiskusikan keuntungan para pemuda Malaysia kalo bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Di satu momen, Syed Saddiq menyebut Mahathir sebagai "Cikgu Mahathir", sebuah julukan yang nggak banyak orang berani menggunakannya.

Meski kini Saddiq jadi salah satu menteri kabinet Mahathir, masih terlalu pagi kalo menggadang-gadang dia sebagai "penerus" sang perdana menteri.

Sebab, bagi siapa saja yang memahami politik Malaysia, pasti memahami betapa hubungan yang terlalu dekat bisa jadi racun di satu hari nanti.

Mampukah dia bertahan dari realitas pemerintahan? Apakah Saddiq memiliki kharisma yang cukup?

Ditambah dengan gaya hidup yang cepat berubah dan siklus media sosial, apakah momen gemilang ini bisa bertahan?

Saddiq juga harus membuktikan telah memiliki kedewasaan dan kemampuan politik untuk sukses dalam pemerintahan Mahathir.


Terlebih lagi, terlepas dari penghormatan yang diberikan rakyat Malaysia terhadap Mahathir, ada perbedaaan nyata antara warga muda Malaysia dan Mahathir.

Perbedaan itu nggak hanya terkait sejumlah isu klasik seperti kebebasan sipil dan tradisi sosial, tetapi juga masalah substansial seperti perekonomian Malaysia.

Di masa kampanye, sederet komentar kontroversial Mahathir yang menyebut banyak pemuda Malaysia yang ingin jadi pengemudi Uber atau penjual nasi lemak, memicu perdebatan di banyak sektor.

Di sinilah Saddiq harus berperan. Dia harus mampu jadi jembatan saat permasalahan dua generasi yang dalam hal usia terpaut amat jauh, muncul.

Halaman Selanjutnya

Pertanyaannya adalah mampukah dia? maukah dia?
Tag

Baca Lainnya