Wawancara Anton Ismael Tentang Alasannya Masih Menggunakan Kamera Analog untuk Kerja Profesional

Minggu, 16 April 2017 | 03:45
Rizki Ramadan

Anton Ismael, Fotografer Profesional sekaligus founder Kelas Pagi (Doc. Anton Ismael)

Keluar, tumbuh, liar. Itulah prinsip yang kerap dikoar-koarkan Anton Ismael, baik kepada murid-murid di lembaga pendidikan fotografi gratis Kelas Pagi, atau kepada followers-nya. Cowok yang akrab disapa Pak E’ ini punya karakter khas dalam karya-karyanya, baik di ranah komersial atau pun ranah seni. Karya-karya cowok kelahiran ini dikenal nyeleneh, nakal, dan kadang mengandung pesan perlawanan. Ia sudah sering juga berkarya untuk pameran seni nasional hingga internasional. Anton Ismael tentu mengalami masa kejayaan analog dulu. Namun, kerennya, walau kecanggihan fotografi digital makin menjadi-jadi, ia masih suka menggunakan kamera analog untuk berkarya. “For the sake of memory,” kata cowok yang saat kuliah dulu bisa seharian di kamar gelap.

Q: Sesering apa pake kamera analog?

A: Nggak terlalu sering tapi ada saat-saat tertentu gue pake analog, yaitu ketika gue pengen flashback, mengalami proses kayak waktu dulu gue berkarya, dalam artian gue nggak terlalu “peduli” dengan keteraturan.

Terakhir gue pake analog bulan lalu (Februari) untuk karya art gue. Tapi sampe sekarang belum gue cetak.

Q: Ketika pake analog, lebih sering untuk proyek personal atau untuk komersial juga?

A: Nggak selalu untuk art. Komersial juga, tapi yang udah kenal, yang udah jadi temen. Jadi udah tahu gimana. Tapi saat motret tetap ada backup pake digital. Nggak mungkin pake film gitu, tanpa bisa ngelihat hasilnya. Pasti pada nanya “seperti apa, sih, Ton, hasilnya.”

Foto pre-wedding pake analog juga pernah. Itu temen gue juga.

Karya foto kamera analog oleh Anton Ismael. Difoto dengan kamera Hasselbad 500 CW film Kodak Portra
Karya foto kamera analog oleh Anton Ismael. Difoto dengan kamera Canonet dan film Fuji kadaluarsa
Q: Jadi apa sih yang bikin lo suka dengan analog?

A:Warna bisa diambil dari digital. Kalau gue, for the sake of the memory. Ada nilai psikologi berkarya yang gue hadirkan di situ (ketika motret pakai analog). Yang gue lakukan adalah membangun komunikasi dengan apa yang di depan gue secara total. Berkomunikasi dengan mereka yang gue foto, instead of dengan monitor di belakang kamera. Tiap motret pakai film gue lebih dekat dengan subyek foto, automatically. Lebih memperhatikan, lebih sayang, lebih mindfull.

Q: Cuci cetak sendiri nggak sekarang?

A:Nggak . gue pake lab. Kalau dulu jaman kuliah sih iya. Gue dulu bisa full di studio dari pukul 9 pagi sampai pukul 9 malam.

Q: Sejauh ini kamera yang paling lo suka pakai apa?

A:Leica M6. Dengan filmnya Kodak Portra atau Ektar. Gue pake film itu karena temen-temen gue pake itu. Nggak ada alasan tertentu. Gue nggak peduli, sih. pake film busuk pun gue sikat. Gue orang yang kasar. Gue suka dengan gambar yang grainy. Kalau ada rusak di gambar gue malah seneng. Gue nyari rusaknya.

Q: Wah, implementasi prinsip lo banget ya, “Keluar, tumbuh, liar.”

A:Iya. Haha.

Q: Inget nggak kamera pertama lo dulu apa?

A:Pentax K100. Gue dapet dari bokap. Dulu harganya Rp 450 ribu. Itu tahun 1994, saat kuliah. Gue pake terus, eh rusak. Terus gue beli Nikon 90x. Sampe sekarang masih mulus. Masih suka gue pake.

Q: Lo kan pake Leica M6 juga. Apa yang bikin lo suka sama kamera itu?

A:Karena kuat. Untuk lempar anjing juga nggak rusak. Udah gitu ukurannya kecil, orang nggak nyadar gue bawa kamera. Gue bisa masuk ke suatu tempat jadi bayangan. Kualitas lensanya juga oke. Dan beratnya pas. Membuat gue stabil.

Q: Kalau lagi pergi-pergi, suka lo bawa juga nggak kamera analognya?

A:Nggak. Karena gue kan fotografer. Kerjaan gue motret. Jadi kalau gue pergi, gue nggak bawa-bawa kamera. Kalau liburan gue taro kamera gue. Gue mengingat dengan mata gue aja.

Editor : Rizki Ramadan

Baca Lainnya