Mahasiswi ITS Pemenang Writing Competition Bikin Fetox, Oksimeter Janin untuk Deteksi Hipoksia Kandungan

Minggu, 16 Oktober 2022 | 15:25

Mahasiswi ITS, Najla Rasikha Putri Harza bikin Fetox, alat oksimeter janin untuk mendeteksi hipoksia kandungan.

HAI-Online.com - Mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Najla Rasikha Putri Harza bikin Fetox, alat oksimeter janin untuk mendeteksi hipoksia kandungan.

Ide ini berangkat dari mata kuliahnya, Project Design. Saat itu, Najla diminta untuk membuat inovasi.

“Karena aku dari teknik biomedik jadi aku terkait itu. Waktu itu aku bingung banget cari idenya, karena aku di biomedik, penjurusanku itu tentang instrumentasi. Jadi intinya tentang mendeteksi sinyal-sinyal fisiologis tubuh,” ujar Najla saat ditemui secara virtual, Kamis (13/10/2022) lalu.

Setelah menelusuri topik tersebut, ia akhirnya tertarik dan mengulik lebih jauh tentang sinyal saturasi oksigen atau SpO2.

“Terus aku ketemu soal hipoksia bayi, ketemu juga tentang alat invasif. Karena mata kuliah itu, aku bisa eksplor dan gabungin ide-ide yang aku udah dapetin tadi jadi sebuah gagasan di writing competition ini,” ungkapnya.

Cara kerja Fetox

“Simpelnya, alat ini bentuknya kayak ikat pinggang, lalu disambungkan ke control board, lalu disambungkan lagi ke laptop untuk menunjukkan hasilnya. Jadi sinyal yang diambil dari perut ibu itu, merupakan sinyal campuran dari sinyal saturasi oksigen ibu dan bayinya,” terangnya.

Baca Juga: Mahasiswi Juara Writing Competition Beswan Djarum Ingin Mengurangi Limbah Plastik dan Limbah Medis

Ia menambahkan, “Setelah itu, kita olah lebih lanjut signal prosesing di software nya, jadi di ekstraksi sinyalnya di control board, lalu disambungkan ke smartphone atau laptop, di mana sebagai interface untuk menunjukkan sinyalnya apakah aman atau perlu diwaspadai,” imbuhnya.

Dalam penggunaannya, Najla berharap alat Fetox ini bisa untuk pemakaian pribadi seperti di rumah, dan untuk saat ini, penggunaannya perlu pengawasan dokter

“Cuman kemarin buat rancangan pra program, biar lebih mudah proses distribusi ke rumah sakitnya, kita pinjamkan. Penggunaannya nanti diawasi dokter, karena dokter yang menentukan pasien mana yang harus dipinjamkan alat tersebut. Semisal kehamilan yang berisiko dan harus dimonitor terus kandungannya,” jelasnya.

Soal batas peminjaman, Najla menjelaskan, dalam rancangan pra-program, peminjamannya dibatasi hanya selama 3 bulan.

“Karena yang dipinjamkan itu untuk kehamilan di trimester terakhir. Karena itu yang paling krusial,” tuturnya.

Dari seluruh komponen, Najla menyebut kalau alat-alat yang ia butuhnya masih dijual bebas di pasaran, kecuali mikro controller, dibeli lewat marketplace yang dikirim dari China.

“Kalau kemarin aku bikinnya skala mahasiswa, jadi aku pakai komponen-komponen yang carinya di toko elektronik deket kampus. Kecuali mau kapasitor yang buatan German gitu misalnya,” pungkasnya. (*)

Editor : Al Sobry

Baca Lainnya