Covid-19 Berubah Jadi Sindemi, Epidemiolog Beri Penjelasan!

Sabtu, 14 November 2020 | 14:12
SBH

Covid-19 Berubah Jadi Sindemi, Epidemiolog Beri Penjelasan!

HAI-Online.com-Bukan lagi pandemi, Covid-19 yang masih terus menjangkiti warga di berbagai negara ini telah berubah jadi sindemi.
Sudah hampir setahun sejak Covid-19 menjakit di China, kini jumlah orang yang terinfeksi di seluruh dunia sudah mencapai angka lebih dari 50 juta jiwa.

DiberitakanKompas.com, Jumat (13/11/2020), mengutip data dari Worldometers pukul 05.15 WIB, virus corona telah menginfeksi sebanyak 53.003.790 orang di seluruh dunia.

Baca Juga: Diduga Elon Musk Terinfeksi Covid-19, Gimana Nasib Peluncuran Astronot SpaceX?

Menilik kemajuan tim medis, hingga kini lebih dari selusin kandidat vaksin Covid-19 masih dalam tahap pengujian, beberapa telah hampir menyelesaikan fase akhirnya yaitu uji klinis.

Semakin tingginya angka infeksi Covid-19, sejumlah negara juga kembali memberlakukan lockdown setelah mencatat rekor penambahan jumlah kasusnya.

Kendati berbagai strategi dan kebijakan telah dilakukan, sejumlah ilmuwan dan pakar kesehatan menilai hal itu masih terlalu terbatas untuk menghentikan laju infeksi yang disebabkan virus corona baru, SARS-CoV-2.

"Semua intervensi kita berfokus pada memotong jalur penularan virus untuk mengendalikan penyebaran patogen," kata Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal ilmiah The Lancet, seperti dikutipBBC, Kamis (12/11/2020).

Melihat kondisi Covid-19 saat ini, Horton menilai semestinya bukan dianggap sebagai pandemi, melainkan sebagai "sindemi".

Lantas, apa itu sindemi dan bagaimana seharusnya penanganan Covid-19 dilakukan?

Sindemi adalah akronim yang berasal dari kata sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak boleh berdiri sendiri.

Pada satu sisi, ada virus SARS-CoV-2, yaitu virus penyebab Covid-19 dan disi lain ada serangkaian penyakit yang sudah diidap oleh seseorang.

Baca Juga: Filosofi Makanan di Jawa Banyak yang Manis, Ini Penjelasannya!

Nah, kedua elemen ini saling berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.

Mengingat pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada awal tahun 2020, yang mengatakan bahwa dampak pandemi Covid-19 dialami secara tidak proporsional pada kelompok masyarakat paling rentan.

Di antaranya orang yang hidup dalam kemiskinan, pekerja miskin, perempuan dan anak-anak, serta penyandang disabilitas dan kelompok marjinal lainnya.

Sindemi bukanlah istilah baru dan telah muncul sekitar tahun 1990-an yang diciptakan oleh antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer.

Epidemiologdari Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengutip hal serupa untuk menjelaskan apa itu sindemi.

"Sindemi adalahkumpulan atau kejadian dari dua atau lebih epidemi secara bersamaan atau berurutan atau bisa juga suatu kejadian kelompok penyakit dalam suatu populasi dengan interaksi biologis, yang memperburuk prognosis dan beban penyakit yang sudah ada," kata Dicky saat dihubungiKompas.com, Jumat (13/11/2020).

Menurutnya, sindemi melibatkan banyak faktor yang ada di suatu negara, sehingga tidak bisa disamakan dengan negara lain.

Chatree Jaiyangyuen/iStock

Ilustrasi SARS-CoV-2 penyebab COVID-19

"Kalau negara seperti Selandia Baru atau Australia, yang penyakit lainnya cenderung terkendali, maka sinergitas itu tidak terpenuhi," kata Dicky.

Namun, Dicky mengungkapkan bahwa kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini sudah tepat untuk disebut sebagai sindemi.

"Kalau Indonesia sudah pas. Misal sindemi Covid-19 pada anak. Infeksi Covid-19 pada anak di Indonesia memang secara angka belum terlalu kelihatan, karena rendahnya cakupan tes pada anak," ujar Dicky.

"Tapi kalau dibandingkan dengan negara lain kita salah satu yang paling tinggi. Nah, kalau kita lihat dari aspek sindemi, angka infeksi Covid-19 pada anak di Indonesia itu tinggi karena cakupan imunisasi bisa jadi pada masa pandemi ini menurun," imbuhnya.

Baca Juga: Antibodi 47D11 Telah Diuji Coba ke Tikus, Efektif Netralkan Virus Corona

Cakupan imunisasi itu akan memengaruhi banyak aspek lain, terutama daya tahan tubuh dari anak dan potensi infeksi wabah lain. Selain itu, Dicky juga menyebut stunting di Indonesia termasuk epidemik.

"Stunting di Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia, dan ini berkontribusi pada Covid-19. Jadi kalau melihat sindemi kayak gitu. Selain itu kalau sindemi pada anak juga ada masalh lain, yaitu sanitasi dan hygiene," kata Dicky.

"Walaupun di kota, tapi kalau di lingkungan kumuh, itu sanitasi danhygiene-nya jelek. Nah ini berkontribusi pada anak yang tinggal di lingkungan itu untuk cenderung memiliki daya tahan tubuh rendah, gizi buruk, sehingga ketika orang tuanya terinfeksi Covid-19, kemungkinan dia terinfeksi akan lebih mudah. Nah sindemi seperti itu analisisnya," katanya melanjutkan. (*)

Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul Muncul Istilah Sindemi Covid-19, Apa Itu?

Editor : Al Sobry