Stan Lee pernah bilang gini, “Jutaan tahun dari sekarang kalo ada orang yang menyebut nama saya, dan kalau masih ada yang kenal…. Saya akan senang kalo ada yang bilang ‘Gila, dia penulis yang baik, cerita yang doi buat selalu bikin gue puas!”

Dan sekarang, satu generasi udah terpengaruh karya-karyanya

Sebenarnya, cukup lucu sih melihat seberapa besarnya sekarang. Awalnya, doi malu banget jadi komikus, sampai-sampai pake nama samaran “Stan Lee”. Toh, akhirnya ia sadar. Hanya dirinya yang bisa bikin komik dan cerita superhero naik kelas.

Stan Lee berhasil bertransformasi dari seorang komikus, menjadi sosok yang kalo disebut sebagai seorang pembuat komik malah jadi “dosa”.

Soalnya, sosok satu ini memang bukan cuma bisa bikin karakter baru atau garap cerita seru. Pemilik nama asli Stanley Martin Lieber ini memang lebih besar dari itu, bahkan sama gedenya dengan Marvel sendiri.

Adalah sebuah anugerah kalo Marvel punya Stan Lee. Tahun 60-an lalu, nggak ada yang kepikiran buat memposisikan komik sebagai sebuah budaya buat pembacanya. Stan Lee sukses bikin pembaca memiliki dunia baru lewat “Bullpen Bulletins.” Di buletin tersebut, ia membuat hubungan antar pembuat komik dengan pembaca tak ada jarak, dengan frase-frase legendaris yang menginspirasi seperti “Face front, true believers” dan tentunya “Excelsior!”

Keunikan lain Stan Lee adalah jiwa selebnya. Pada masa kejayaan komik, dirinya bisa disebut sebagai “marketing berjalan” buat Marvel. Ia mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah persona yang nggak bisa ditandingi. Dari rajin mampir ke Comic Convention, hingga jadi cameo di film-film Marvel, sosok Stan Lee makin dekat dengan penggemar dan jadi figur yang dicintai.

“Kalo generasi remaja dan pembaca komik memilihnya buat jadi pemimpin, Lee bakal dengan bangga menerima jubahnya dan menjadi raja bagi mereka,” kata pemerhati sejarah, Bob Batchelor, memuji kepribadian Stan Lee dalam buku Stan Lee: The Man Behind Marvel.

“Merancang imej dengan berbagai kuliah yang membuatnya keliling negeri, dan tentunya lewat karya-karyanya di Marvel, Lee menciptakan persona lebih besar dari penerbit dan atasannya,” lanjutnya.

Toh, Stan Lee memang layak “ngartis.” Jasanya di dunia komik sulit ditandingi, baik dari kuantitas maupun kualitas. Tercatat, dirinya bikin lebih dari 1.000 karakter Marvel (beberapa ia buat berkolaborasi dengan komikus lain, RED) dan juga menulis ribuan komik.

Gaya Stan Lee membuat cerita patut dipuji. Doi nggak bikin cerita superhero itu cuma sekedar bak bik buk berantem. Ia ngebangun sisi humanis dari superhero dengan cara yang menyentuh. Contohnya seperti Spider-Man yang menggunakan topeng menutupi seluruh wajah, agar semua anak di dunia bisa percaya kalo mereka dapat menjadi pahlawan super, apapun warna kulit dan latar belakang kehidupan mereka. Atau membuat karakter Black Panther di zaman Amerika Serikat menolak kesetaraan ras, dan tetap relevan ketika dirilis sebagai film pada 2018.

Ucapan Stan Lee yang kamu baca di atas sepertinya udah jadi kenyataan. Nggak heran juga sih kalo banyak yang terinspirasi oleh sosok yang wafat pada 12 November 2018 lalu ini. Bukan hanya penggemar superhero dan komik saja, tapi juga bidang-bidang lain. Dalam #GoDeeper kali ini, Hai mau ngajak lo ngasih tribut untuk beliau.

Simak!



Marcellino Lefrandt

Gue kiblatnya sebagian dari karya Stan Lee. Dia nggak terlalu mengangkat manusia sebagai science fiction melulu. Dia lebih kepada manusia yang mengalami perubahan genetic, let’s say mutation, mutasi yang terjadi begitu cepat, jadi tidak evolusi yang terlalu lama. Nggak cuma dari sisi genetik aja, tapi juga dari penceritaannya.

Itu mempengaruhi penciptaan karakter Volt di komik gue, karena itu juga diambil dari mitologi wayang, ada sentuhan wayangnya. Itulah yang mempengaruhi gue. Stan Lee di mata gue itu adalah orang yang humble banget. Kalau kita liat di Comic Con dan ketemu fans, dia nggak jaga jarak, dia terjun langsung. Di San Diego Comic Con, ada antrian panjang, Stan Lee bisa-bisanya, pagi-pagi langsung menegor para penggemar. Seorang Stan Lee mau menegor para tamunya, itu humble banget dan inspiratif!

Franki Indrasmoro
(Pepeng “Naif”)

Gue mengenal Stan Lee sebetulnya sejak kecil - mungkin sekitar kelas 2 SD- saat awal dulu baca komik-komik Marvel (terbitan Cypress, terjemahan bahasa Indonesia). Tapi hanya sebatas kenal nama. Terus, pas tahun '90an awal baru tau mukanya, dari Wizard. Padahal ternyata dia pernah nongol sebagai cameo di film The Trial Of Hulk, dan gue dulu nonton juga film itu, saat SMP.

Secara tidak langsung sih cukup banyak pengaruh Stan Lee. Dalam karya komiknya, Stan Lee banyak memasukkan unsur keseharian, berikut problematika kehidupannya. Sangat relate dengan para pembaca. Unsur itulah yang gue tonjolkan pula di komik gue, Setan Jalanan

M Halim Zunurain
SMA Alhasra Depok

Menurut gue Stan Lee itu berpengaruh karena dia kan bikin komik dari jaman PD dan pertama itu Stan Lee dianggap karena komik di jaman dulu tuh nggak berguna. Dia berpengaruh karena sekarang udah banyak bermunculan animasi yang terinspirasi dari marvel dan bisa jadi hiburan buat remaja sekarang.

Gue nggak kebayang sih kalau nggak ada Stan Lee. Mungkin Marvel gak ada cameo Stan Lee lagi dan pasti akan ada perubahan yang besar dari marvel dan pasti alur ceritanya itu beda banget sama ceritanya Stan Lee.

Trisiena
SMAN 82 Jakarta

Menurut gue Stan Lee itu real-life superhero dan seorang panutan. He used all kind of substances yang ada di otak dia untuk ngebuat superhero fiksi yang orang-orang kenal sekarang, yang bahkan bocah kecil lebih tahu Spiderman daripada pahlawan nasional.

Gue nggak bisa ngebayangin betapa suntuknya dunia sih kalo sekarang gak ada MCU, yang notabene film-film mereka sangat ditunggu pada tiap tahun.

Gue tertarik lebih ke how good and patient Marvel is to build their own universe for the last 10 years sih. Bagi gue itu out of this world banget untuk nyambungin film dari awal sampai film t terakhir dengan plotnya yang sensical dan enak ditonton. Dan they have been doing this for about 10 years dan mereka konsisten. Gokil!

Anissa Kinaya
SMAN 6 Jakarta

Without Lee, Superheroes like all the Marvel’s characters might not exist. Although film-film superhero gitu udah lama ada sebelum Lee, tapi Lee yang ngasih ide pertama kali untuk ngebuat film superhero di mana main character-nya tuh banyak kayak Avengers gitu ngegabungin semua superhero di satu film.

Not just that, film-film superhero yang aku tonton sebelum Marvel pasti terlahir dari dewa atau emang orang kaya gitu, tapi di film-film Marvel dia nyeritain karakter masing-masing tokohnya tuh struggle juga di kehidupannya gitu dan relatable. Jadi, menurutku Lee bikin film yang bakalan berpengaruh ke penontonnya gitu.



"REST IN PEACE STAN LEE (1922-2018)
WE WILL ALWAYS MISS YOU"
REPORTER

Ali Sobri
Alvin Bahar
Dewi Rachmanita
Fadli Adzani
Agung Mustika
Dio Firdaus
Ricky Anugrah
Bayu Galih Permana


EDITOR

Rizki Ramadan

GRAPHIC DESIGNER

M Farhan Haidar

VIDEOGRAPHER

Abbie Alasca

GRAPHIC DESIGNER

Fahmi Fu'adi

FOTO: Doc.HAI, Marvel Studio