Sistem Zonasi:
Kontroversi Atau Solusi?
 
PPDB Sistem Zonasi 2019 munculin banyak masalah. Padahal, sistem ini punya tujuan buat pemerataan pendidikan di Indonesia. Jadi sebenernya, ini kontroversi apa solusi?

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China,” gitu kata pepatah yang udah kita denger sejak kecil. Toh, pepatah itu kayaknya udah nggak bisa diterapin lagi, gara-gara munculnya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sistem Zonasi.

Sistem ini udah diluncurkan sejak 2017, tapi penerimaan siswa baru di sekolah negeri berdasarkan jarak terdekat dari rumah ke sekolah-masih menuai polemik hingga sekarang.

Kebijakan penerimaan siswa berbasis zonasi ini mengalokasikan minimal 80% kuota sekolah negeri untuk menerima calon siswa berdasarkan jarak rumah-ke-sekolah, 15% sisanya untuk prestasi, dan 5% perpindahan.

Berkat sistem ini, siswa SMA emang berada dekat dengan sekolahnya. Tujuannya juga bagus, supaya nggak ada lagi tuh sekolah favorit dll. Jadinya rata!

Tapi gara-gara hal ini, banyak siswa yang punya nilai tinggi nggak diterima di sekolah impian gara-gara nggak dekat rumah. Ada pula tuh, kasus pemalsuan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) palsu supaya masuk sekolah favorit.

Hal ini karena ada kewajiban bahwa sekolah peserta PPBD harus menerima siswa dengan SKTM minimal 20% dari daya tampungnya, seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018.

Mau tau lebih lanjut soal PPDB Sistem Zonasi 2019? Langsung kebet aja, Go Deeper+ kali ini!

PPDB Sistem Zonasi menurut remaja
PPDB Sistem Zonasi udah oke atau banyak masalah?

1456 VOTES

PPDB Sistem Zonasi harus lanjut atau dievaluasi?

1337 VOTES

Kelebihan dan Kekurangan
dari Sistem Zonasi Sekolah
Penerapan sistem zonasi sekolah melahirkan sejumlah dampak. Ada yang baik, ada yang buruk. Ini dia kelebihan dan kekurangan dari zonasi sekolah:
Kelebihan
- Pemerataan kualitas
- Persaingan sehat antar sekolah tiap domisili
- Mendekatkan ligkungan keluarga dan sekolah
- Menghilangkan eksklusivitas dan diskriminasi di sekolah
Kekurangan
- Keterbatasan daya tampung
- Perpindahan tempat tinggal secara tiba-tiba
- Sekolah yang jauh dari pemukiman sepi peminat
- Kelebihan peminat karena berada di zona padat penduduk
- Masalah penyesuaian kemampuan guru mengajar
- Komposisi kelas yang heterogen
- Ketidakadilan akses sekolah
Kata Mereka yang Kena Sistem Zonasi
PRO
“Kalo bagi saya sistem zonasi ini sangat bagus, dan sangat membantu. Karena kita bisa menghemat waktu untuk ke sekolah dan terbebas dari kemacetan.”
“Menurut saya sih sistem zonasi ini cukup efektif, tapi masih banyak pihak yang tidak diuntungkan. Seperti siswa yang berprestasi namun jauh dari sekolah favorit. Untuk saya sendiri, saya cukup beruntung karena rumah dekat dengan sekolah yang saya tuju.”
KONTRA
“Walaupun adanya sistem ini, tapi tetep aja kegeser sama murid yang main belakang, sedih sebenernya. Seharusnya papa saya beli tanah di deket sekolahan daripada masukin saya ke swasta, perbulannya mahal.”
”Menurut aku positifnya, sekolah jadi nggak jauh dari rumah. Nggak enaknya, kalau ada yang dapat NEM bagus tapi nggak bisa ke sekolah yang diinginkan karena zonasi. Penempatan sekolah sebenernya atas keputusan orang tua aku. Awalnya aku kurang suka, tapi setelah coba masuk sekolah di sini selama satu tahun jadi enjoy dan nyaman.”
“Sistem zonasi itu mungkin caranya kurang tepat, tapi tujuannya bagus. Aku kurang setuju sama sistem zonasi ini. Selain nggak bebas pilih sekolah, juga merasa kecewa udah belajar buat dapet NEM yang bagus, tapi malah terhalang karena zonasi.”
“Sistem zonasi ini kurang efektif. Karena walaupun setau aku sistem ini diadakan agar nggak ada yang namanya sekolah unggulan, tapi karena itu banyak siswa yang semangatnya belajarnya malah berkurang, karena mereka udah nggak punya pilihan atau tujuan untuk sekolah yang diinginkan. Aku kebetulan memang ingin masuk ke SMA aku sekarang, jadi nggak merasa menjadi korban dari sistem zonasi ini.”
Zonasi di Luar Negeri!

"Tujuan diterapkan sistem zonasi (di Indonesia) adalah menghapus sekolah favorit, karena semua harus sama, tidak boleh ada yang status favorit kemudian yang lain buangan," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Intinya zonasi dilakukan untuk pemerataan pendidikan. Memang saat ini masih menuai protes, namun sistem zonasi dalam PPDB tetap dipertahankan. Pasalnya pemerintah percaya kalo sistem ini dilanjutkan bakal terjadi yang namanya keadilan bagi peserta didik dan masyarakat.

Sistem ini juga dibuat untuk memberi akses yang sama bagi semua siswa agar bisa masuk sekolah negeri di lingkungannya. Baru dalam 2-3 tahun mendatang, sekolah negeri di berbagai tempat bagus tanpa ada kastanisasi lagi.

Sistem ini bukan original buatan Indonesia. Sejumlah negara udah menerapkannya dan berhasil. Nah, bagaimana dengan zonasi di luar negeri, gambaran apa yang bisa kita dapatkan jika mengintip sistem mereka?

Daftar Korban Sistem Zonasi
Sejumlah “Korban” berjatuhan gara-gara Sistem Zonasi. Nggak cuma gagal masuk sekolah favorit, bahkan, ada yang hampir bunuh diri. Seperti apa aja kisahnya?
Kata Ahli Soal Sistem Zonasi
Pendapat para siswa udah ditampung. Tapi gimana dengan opini para ahli? HAI pun mewawancarai Retno Listyarti selaku komisioner dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Annisa Pramadi S.Pd, yang telah 25 tahun mengajar kimia di SMA.
Gimana Sistem Zonasi
ke Depannya?

Sebenarnya kan, banyak banget keuntungan dari Sistem Zonasi. Tapi memang nggak mungkin semuanya terwujud dalam waktu sekejap. Pembangunan infrastruktur dll jadi PR pemerintah biar sistem zonasi menguntungkan semua orang.

Jelas, nggak bijak kalo PPDB Sistem Zonasi diterapin setelah semua infrastruktur merata. Tapi, bikin sistem zonasi tanpa persiapan juga nggak bijak sih. Pemerataan harus dilakukan secara bertahap, guru-guru juga wajib dikasih pelatihan yang tepat.

Selain itu, pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan harusnya kompak. Contohnya kayak DKI Jakarta yang punya sistem zonasi sendiri. Kalo gini kan bingung?

Di sisi lain, sepertinya memang persentase siswa yang masuk lewat sistem zonasi terlalu besar. Mungkin, nggak harus sampai 80%. Jangan sampai juga NEM seorang siswa sia-sia karena zonasi.

Sistem zonasi sebenarnya baik dan memudahkan, tapi perlu banyak yang dievaluasi nih. Semoga ke depannya nggak ada polemik lagi, yaaa…