METAMORFOSIS BMTH:
MENINGGALKAN METAL DEMI CINTA

Kegarangan BMTH udah cuma tinggal di tato Oli Sykes. Sementara musik metalnya sudah pudar. Lirik-lirik yang sebelumnya mengandung amarah, kini penuh cinta. Amo jadi bukan cuma jadi fase baru BMTH tetapi juga para personelnya.

Udah pada dengar Amo? Kalau Hai liat di Spotify, sih, ke-13 lagunya udah diputar minimal 500 kali. Bahkan Trek kelima, Wonderfull Life udah sampe 10 juta kali dan Mantra, single jagoannya, udah 30 juta kali putar.

Angka yang menakjubkan. Soalnya, musik Bring Me The Horizon (BMTH) di album keenamnya ini udah bikin heran banyak penggemar. Temponya jadi selow, teriakan gahar Oli Sykes cuma santer di lagu Mantra. Di lagu Mother Tongue yang Oli bikin untuk sang istri, jadi bernuansa EDM-pop. Terus, di lagu Medicine, Oli bernyanyi layaknya vokalis yang lagi duet sama DJ musik pop.

Ada sih lagu yang metal. Tapi cuma di judulnya, Heavy Metal. Tapi lagu yang berkolaborasi dengan rapper Rahzel aja suara synthesizer ala musik elektronik yang lebih terdengar dibanding distorsi gitar. Lirik bait terakhirnya menarik untuk disimak, guys. Bunyinya gini, “Some kid on the 'gram said he used to be a fan But this shit ain't heavy metal.”

BMTH dikenal sebagai ikon musik metalcore dekade ini. Album pertamanya, Count Your Blessings (2006) kerap disebut sebagai album penanda zaman di skena metalcore. BMTH, terutama Oli Sykes, juga sukses jadi trendsetter gaya rambut gondrong poni lempar, kaos oblong bergambar warna-warni, celana superskinny dan tato di sana-sini.

Tapi sejak album Sempiternal (2013) arah musik BMTH emang terasa berubah. Di album ini juga mereka udah ditinggal Jona sang gitaris kedua, dan malah memasukkan kibordis Jordan Fish. Sempiternal jadi album terakhir yang dirilis oleh Epitaph, labelnya para band metal. Sejak That’s The Spirit (2015), unit metal dari Inggris ini ada di bawah bendera label Amerika Serikat, RCA Records (Sony Music) barengan Alan Walker, Foo Fighter, Chris Brown dan musisi-musisi mainstream lainnya.

Sebelum Sempiternal, Oli ngaku kalau dirinya emang pecandu narkoba. Namun, ia bisa kembali diterima di keluarga dan band-nya sejak ia mengikuti rehabiltasi selama sebulan.

“Setelah keluar dari rehab, gue nggak mau teriak lagi,” kata Sykes pada 2014.

Yang lebih penting adalah masalah-masalah cinta yang dialami Oli. Di 2016 ia cerai dengan Hannah Pixie karena istrinya itu selingkuh. Walau langsung nikah lagi di 2017, masa-masa berat yang dialami Oli meninggalkan endapan di hidupnya.

Oli cerita, masalah-masalah hidupnya itu ingin ia ceritakan lewat musik, tapi dia ngerasa metal nggak akan cocok untuk membicarakan cinta.

Layaknya Linkin Park di album One More Light dan Thirty Second To Mars di album America, BMTH putar haluan ke arus utama. Walau ada penolakan dari para penggemarnya, BMTH tetap ingin membuat lagu yang menurut mereka enak dan tetap berkualitas.

Banyak yang protes karena mereka berharap lagu-lagu gahar penuh growl lagi dari BMTH. Tapi menariknya, banyak juga yang tetap suka sama musik barunya BMTH ini.

Karena itulah Go Deeper kali ini, HAI mau kupas tuntas album Amo yang artinya cinta ini. HAI bakal tampilkan cerita langsung dari Oli Sykes cs tentang metamorfosis BMTH.

#10yearschallenge
2009
2019
Oli Sykes Mengubah BMTH Setelah Melewati Masa Kelam
Oli Sykes melewati sejumlah masa-masa berat di hidupnya. Ia pernah merasa dibenci keluarga dan teman karena kencanduan obat terlarang, namun ia bangkit. Lalu ia diselingkuhi istrinya dan bercerai. Semua curhatan itu ia tumpahkan di Amo.

Oli Sykes adalah pentolan dari unit metalcore asal Inggris BMTH. Segala yang terjadi pada dirinya, menentukan warna musik band. Pertimbangannya pun memengaruhi keputusan band. Kali ini, keputusan tersebut adalah meninggalkan metal.

BMTH udah sadar kalo bakal banyak penggemar yang heran dengan metamorfosis musik mereka. Tapi Amo tetap mereka rilis. Berbagai manuver dilakukan oleh Oli Sykes cs. Di album yang dirilis oleh label mainstream RCA Records (Sony Music) BMTH bahkan kolaborasi dengan penyanyi pop Grimes dan rapper Rahzel.

Tapi bermusik itu nggak cuma sekedar urusan pasar, kok. Keputusan Oli mengubah genre BMTH juga terpengaruh oleh pengalaman hidupnya. Oli sempat kecanduan obat terlarang sampe perlu direhabilitasi. Doi juga diselingkuhi mantan istrinya sampe mereka cerai dan Oli menikah lagi. Sekarang ini, Oli udah 32 tahun, sob. Ia udah ngelewatin fase hidup yang gonjang-ganjing. Di album Amo ini, dia pengen menebar cinta.

Biar lebih seru, langsung aja deh lo baca pengakuan Oli Sykes cs. Hai udah rangkumin berbagai wawancara BMTH dengan berbagai media.

Lo cerai dengan Hannah Pixie pada 2016 dan menikah dengan Alissa Salls setahun setelahnya. Apa itu yang membuat album baru lo ini bertema cinta?

OS: Semua orang tau apa yang telah terjadi di dalam hidupku, seperti perceraian, itu merupakan waktu yang sulit. Wajar, kan, kalau gue mau bernyanyi tentang itu semua, namun gue nggak mau, karena sangat klise. Gue nggak mau memberikan orang (mantan istri) itu sebuah 'penghargaan' karena gue menyanyikan lagu tentangnya.

Gue nggak mau orang-orang berpikir kalau gue masih peduli, karena jujur, gue udah nggak peduli. Tapi, ketika gue berusaha untuk nggak menulis lagu tentang itu semua, gue nggak punya apa-apa untuk diceritakan (dijadikan lirik), gue nggak bisa buat-buat cerita. Gue bukan penulis yang bisa membuat cerita palsu. Politik, gue nggak tertarik, gue punya pandangan dunia, namun nggak cukup (untuk ditulis).

Gue berusaha keras untuk mencari tema yang bisa dinyanyikan, karena gue nggak mau nyanyi tentang perceraian gue di saat gue udah bahagia sekarang.

Banyak penggemar yang kontra dengan keputusan lo ini, gimana tanggapan lo?

(Kejadian ini) mengubah cara penggemar memandang gue. Mereka nggak tau apa yang terjadi, dan gue berusaha melindungi mantan istri gue yang udah selingkuh (agar nggak diserang penggemar).

Para penggemar berpikir gue yang meninggalkan dia, dan mereka menganggap cewek baru gue sebagai penyebabnya. Gue nggak peduli, orang-orang yang tau sama gue tau percis kalau gue nggak pernah peduli dengan orang-orang yang gue nggak kenal. Namun di sisi lain, ternyata ada pengaruhnya juga. Gue kayak, 'Ini gila, gue udah tersingkir dan lo masih ngebuat keadaan jadi lebih buruk'.

Tentang single pertama album Amo, Mantra, itu sebenernya tentang apa sih? Tentang sekte kah? Atau ada makna lain?

Itu lagu pertama yang secara nggak sadar telah bikin gue nyanyi tentang cinta. Mendirikan sekte itu seperti metafora membangun hubungan. Dan sebelum gue menyadarinya, itu semua malah bikin gue curhat, ujung-ujungnya gue ngerasa, 'gue harus ngomongin itu semua'.

Banyak banget yang terjadi, dan seperti yang gue bilang, gue seneng dengan apa yang terjadi, pada akhirnya, gue menikahi orang ini, gue menemukan hal buruknya, dan walau lo nggak peduli, gue masih membawa luka dan perasaan itu.

Oh, jadi dari situ jantungnya Amo mulai terbentuk. Terus gimana dengan musiknya? Kok nggak metal, sih?

OS: Intinya, itu (tema cinta) nggak banyak dibahas di musik cadas, jadi gue merasa nggak ada referensi. Nggak ada yang bisa menginspirasi juga.

Terus gue inget, di album That's The Spirit, seringkali gue pengen ngomongin masalah (cinta) ini, namun nggak gue lakukan karena nggak cocok sama musiknya.

Gue juga inget di Throne, gue ingin mengatakan, 'the way that you played me', dan gue tau itu bukan lirik yang jelek, namun karena musiknya, gue merasa itu jadi lagu yang berbeda banget. Itu salah satu contoh random, namun ada banyak hal yang terasa harus seperti (emosi) amarah atau kesedihan, lo nggak bisa memiliki segalanya di antaranya.

Kalau dari segi sound, Bring Me The Horizon dapat inspirasi darimana untuk album Amo?

OS: Kami mungkin mengambil sedikit (inspirasi) dari Sempiternal, sedikit juga dari That’s The Spirit, kemudian membawanya ke arah yang berbeda. Selama itu menarik, itulah yang gue perdulikan,” lanjut Jordan Fish ketika membicarakan tentang sound baru di Amo.

Setiap lagu di dalam album Amo bakal terdengar berbeda. Album Amo bakal lebih eksperimental dibandingkan album kami sebelumnya.

Kalian terinspirasi dari twenty one pilots untuk album ini. Apakah rumor itu benar?

Jordan Fish (JF): Kamu masih bisa melakukan hal keren di luar musik rock, kok, kalau kamu mencoba. Ketika Oli berbicara tentang twenty one pilots, gue bisa mengapresiasi apa yang ia katakan. Twenty one pilots datang dari skena rock, mereka nggak pernah ikut apa kata orang, mereka terus membuat banyak macam musik.

Itu adalah hal yang selalu kita ingin lakukan, dan dari situlah, rasa respect bakal datang.

Banyak musik rock yang sudah terpaku di jalannya, banyak band besar yang ‘terpenjara’ untuk nggak bisa melaju ke sana dan ke sini karena merasa sudah sukses di skenanya. Tapi di band ini, nggak ada rasa takut untuk berubah.

Apa, sih, yang membuat kalian jadi masuk ranah mainstream?

OS: "Gue pikir para penggemar BMTH nggak akan kaget kalau album terbaru BMTH nanti akan berbeda dari album-album sebelumnya. Kami suka untuk masuk ke ranah mainstream, kami nggak malu akan hal itu. Kami melihat hal itu sebagai sebuah tantangan; untuk membuat musik yang bisa disukai orang banyak tanpa harus melupakan siapa kami sebenarnya. Itulah misi kami.".

Ketika penggemar pengen lo balik ke era 'Suicide Season', gimana pendapat lo?

OS: Itu (Suicide Season) keren, namun saat itu gue masih 20 tahun, sekarang umur gue udah 30an. Jika kami berusaha untuk kembali ke era Suicide Season, itu nggak bakal berhasil karena ada unsur paksaan, itu bukan kami lagi. Kami tentu saja masih cinta sama lagu-lagu di album itu, namun gue udah jadi orang yang berbeda.

Matt Nichols (MN): Sejujurnya, kami udah nggak mainin lagu-lagu dari dua album pertama. Kami udah punya lagu-lagu yang lebih baik. Kami udah nggak suka lagu-lagu kayak gitu lagi, apalagi album pertama. Namun tetap aja, itu adalah bagian dari band, dan itu adalah bagian dari sejarah band

Bagaimana harapan kalian untuk album Amo, nih?

“Nggak penting kalau lagu-lagu (di album Amo) ini komersial dan pasaran, kami hanya ingin melakukan yang bagus. Gue merasa kita sekarang berada di titik di mana orang-orang akan mengatakan, ‘Band ini boleh juga, lah!”.

FYI:
Fans Review: Metalnya Ilang, sih, Tapi Amo Tetep Ena~

"Kalau saya sih salah satu orang yang menikmati perubahan musiknya, kok. Saya menghindari istilah 'pendewasaan', ini lebih ke strategi mereka buat grab pasar yang lebih luas."

“Secara kualitas musik, album ini solid banget, nggak kalah sama album-album BMTH sebelumnya. Saat ‘mantra’ rilis, gua sempet dengerin beberapa kali, dan itu ngobatin kangen ke suara scream-nya Oli hehe. Gue sebagai fans sangat menghargai keputusan BMTH untuk mengubah aliran musik mereka, dan gue akan tetap support Bring Me The Horizon apapun karya yang mereka keluarin. Album ‘Amo’ ini gua kasih rating 8.5/10”

“Menurutku ‘Amo’ bagus-bagus aja sih karena di lagu-lagunya liriknya dalem-dalem, meski musiknya nggak seasik dulu juga. Mantau album ‘Amo’ udah lama pas ada kabar mau bikin album dan katanya emang beda banget. Yaudah, jadi nggak kaget. Sejauh ini udah denger ‘Amo’ 6-7 kali, dan yang paling ngena sih ‘wonderful life’. Kalau bisa ketemu Oliver Sykes mau bilang tetep main musik aja, lagunya ena-ena, sayang kalau bubar.”

“Menurut gue album ini bentuk pendewasaan dan eksperimen yang luar biasa dari BMTH. Banyak lagu mereka yang berubah drastis dari album-album sebelumnya tapi jiwa BMTH masih ada pada album baru ini. Dari single pertama sampai sekarang nggak ngebosenin lagunya, jadi tiap hari juga dengerin lagu-lagu barunya. Kalau ketemu Oli Sykes, gue bakal bilang makasih atas semua karya yang BMTH buat, dan makasih udah buat gue jatuh cinta sama BMTH hehe.”

“Gue sebenernya suka BMTH dengan style-nya yang lama (album ‘Sempiternal’). Masukin genre kek EDM nggak masalah sih, keren, tapi jangan sampe ngilangin genre dia yang lama juga gituuu. Itu sih yang gue nggak terlalu suka sama album ‘Amo’. Gue baru dengerin ‘Amo’ 2 kali sih, tapi udah gue pantau dari bulan Desember sampai-sampai tanggal rilisnya pun gue tandain di kalender wkwk. Kalau bisa ketemu Oli gue pengen minta supaya kerukunan anggota BMTH terus dijaga. Karena kalau nggak, nanti fans-fans lu gabisa nikmatin karya-karya dari lu semua sama anggota yang lain.”

“Album ‘Amo’ ini menurut gue bener-bener luar biasa, karena bikin gebrakan baru yang bisa dibilang nekat yah. Album ini emang banyak pro kontra, apalagi dari fans fanatik. Tapi menurut gue, semakin kesini BMTH semakin baik dalam karyanya. Gue udah mantau ‘Amo’ dari awal sih, dan sejauh ini hampir tiap hari dengerin beberapa lagu dari ‘Amo’. Contohnya ‘medicine’, ‘mother tongue’, ‘nihilist blues’, dan yang masih favorit banget sih ‘MANTRA’ sama ‘wonderful life’. Kalau bisa ketemu Oli gue mau bilang makasih karena udah bikin karya luar biasa yang bener-bener masuk ke jiwa gue. Apalagi di saat gue lagi di masa-masa depresi, cuma lagu-lagunya BMTH yang bener-bener gue dengerin tiap hari, tiap jam dan gue nyanyiin di mana pun.”

FYI:
Bukan Cuma BMTH
Yang Ganti Genre

Perubahan warna musik atau ganti genre dalam dunia musik memang bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Selain BMTH, ada juga band-band lain yang pernah menerapkan cara ini, terlepas dari apa pun itu alasan mereka.