Ketjilbergerak: Di Tangan Anak Muda, Seni Harus Bisa Bawa Perubahan Sosial

Sabtu, 28 Oktober 2017 | 04:30
Fadli Adzani

Ketjil Bergerak

HAI-online.com - Siapa, sih, yang nggak suka sama seni? Sambil ngerjain tugas, kita dengerin musik. Tiap weekend, pergi ke galeri seni liat pameran. Seni bikin hidup jadi lebih nikmat.

Tapi, buat Greg Sindana dan Invani Lela Herliana, seni mesti digunakan lebih dari itu. Seni, nggak cuma mesti nikmat saja, tetapi juga berdampak pada perubahan.

Dari dorongan itulah, akhirnya dua sejoli ini mendirikan Ketjilbergerak, sebuah komunitas berbasis di Yogyakarta yang ngajakin anak-anak muda untuk peduli dengan masalah di sekitarnya dan menyuarakan perubahan lewat aksi seni.

Ketjil Bergerak
Ketjilbergerak pernah bikin unjuk rasa dengan menampilkan performance art untuk memprotes maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta. Mereka bikin mural sampai band virtual kayak Gorillaz yang kemudian menghasilkan lagu-lagu anthemic bermakna pergerakan anak muda. Kerennya, ketjilbergerak bahkan digandeng KPK untuk membuat forum anak muda untuk membahas pemberantasan korupsi.

“Kami adalah anak-anak nakal yang pengin eksperimen dan belajar tentang diri sendiri dan permasalahn di sekitar,” begitulah Invani Lela Herliana atau akrab disapa Vani mendeskripsikan komunitasnya.

Berawal dari Mading Kampus

Mulai terbentuk pada 2006, ketjilbergerak bermula sebagai perkumpulan mahasiswa yang suka menulis. "Waktu itu semacam majalah dinding (mading) gitulah, nah nama madingnya itu ketjilbergerak," ujar laki-laki lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma ini.

Nama gerakan ini nggak sembarang dipilih. Menurut Greg dan Vani, perubahan kecil, jika dilakukan terus-menerus, dampaknya akan besar.

Ketjil Bergerak
Setelah berjalan sekian lama, berkembanglah ketjilbergerak jadi kelompok diskusi lintas fakultas bahkan lintas kampus. Diskusi yang diadakan bisa ngebahas banyak hal. Dari politik, sejarah, ekonomi dan masih banyak lagi.

"Tapi setelah lama, cuma diskusi ngomong tok ya capek juga, makanya kami pilih media yang lebih asyik yaitu seni," ujar Greg.

Sejak tahun 2008, ketjilbergerak memilih kesenian sebagai media pengantar pesan. Kesenian dipilih sebagai media pengantar gagasan karena Greg mengaku suka menggambar dan bermusik.

Ketjil Bergerak
Namun penyampaian lewat pertunjukan musik atau seni tertentu terasa belum cukup. Pertunjukan seni nggak melibatkan penonton sebagai subjek. Makanya, sejak 2010 kegiatan seni yang mereka adakan selalu berkolaborasi dengan berbagai pihak

Kolaboratif dalam Bergerak

Semenjak memilih seni jadi cara menunaikan misi pendidikan, Ketjil Bergerak terus-menerus berkolaborasi dengan banyak perkumpulan anak muda.

Bersama dengan Jaringan Kampung Jogjakarta (kumpulan anak muda Jogja dari berbagai daerah) misalnya, diadakanlah Festival Seni Mencari Haryadi. Dalam festival yang bertajuk "Bocah Jogja Nagih Janji" mereka bikin pawai seni sebagai protes terhadap Jogja yang ruang publik terbuka ramah anak (RPTRA)-nya makin abis gara-gara pembangunan liar.

Ketjil Bergerak
Mereka berkolaborasi juga dengan Media Sastra, komunitas balet, Cirakaka, dan beragam komunitas lainnya.

Nggak sampai di situ! ketjilbergerak juga pernah bikin aksi yang bikin salah satu kesenian di Yogyakarta hidup lagi. Di Kota Gede, Yogyakarta, ada kesenian khas yaitu Ketoprak Ongkek.

Sayangnya kesenian tersebut udah nggak pernah diadakan lagi. "Lalu ada anak-anak muda yang ingin tahu Ketoprak Ongkek, makanya kami temani mereka memetakan masalahnya," ujar Greg.

Kemudian bersama teman-teman mahasiswa Fakultas Seni Rupa Universitas Gadjah Mada, mereka membuat mural sebagai bentuk kritik sosial. Karena posisi mural tersebut banyak dilalui para generasi tua, bikin mereka kangen juga nonton Ketoprak Ongkek.

"Sehingga yang terjadi, generasi tua ngajarin yang muda buat main Ketoprak Ongkek. Dan kesenian tersebut jadi rutin diadakan di Kota Gede," cerita Greg.

By the way, mereka rutin mengadakan acara kolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi sejak 2015, guys! Yaitu Youth Camp Anti Korupsi, yang mana pesertanya seleksi dari seluruh Indonesia.

Karena acaranya anak muda, peserta ditanamkan agar punya integritas dan tanggungjawab. Bukan cara Operasi Tangkap Tangan (OTT), hehe. Hingga kini Youth Camp Anti Korupsi ini mau menginjak tahun ketiga lho.

Cari Dana Lewat Merchandise

Wajib lo ketahui juga nih kalau ketjilbergerak ini organisasi independen. Maka dana berjalannya organisasi ini juga diusahakan dengan berbagai cara.

Salah satunya dengan menjual merchandise. Mulai dari topi, t-shirt, sticker, sampai album kompilasi band-band indie Jogja lho. Hmmm, kreatif banget kan?

Selain itu mereka juga memiliki Unit Koperasi Ketjil Bergerak. Jadi seniman yang tergabung dalam komunitas ini bisa menjual hasil karyanya ke unit koperasinya, lho.

"Karena kegiatan kami nggak membutuhkan dana yang terlalu besar jadi nggak terlalu jadi masalah," ujar Greg.

Individualis dan Timbunan Informasi

Sebagai inisiator dari komunitas anak muda, Greg juga curhat nih soal keresahannya melihat anak muda zaman sekarang. "Remaja zaman sekarang semakin individualis. Individualis dalam kadar tertentu emang perlu, tapi kalau terlalu ekstrem berbahaya," ujarnya.

Baginya, sifat individualis jadi ekstrem lama-lama anak muda bakal 'mati rasa' sama hal sekitarnya.

Lebih lanjut Greg curhat soal anak muda yang tertimbun informasi yang belum tentu fakta. Gara-gara hal kayak gitu, anak muda dikhawatirkan nggak bisa ngambil keputusan yang dalam suatu kondisi.

Hal ini tentu nggak sesuai sama eksistensi anak muda yang hakiki sebagai agen perubahan. "Lha, yang masih punya tenaga kan anak muda, yang idenya meluap-luap juga anak muda, memang masa depan bangsa ada di tangan anak muda," ujar Greg.

Buat yang pengen gabung sama komunitas ini, gampang banget. Karena ini komunitas seni, jadinya kesempatan buat gabung terbuka lebar. Ikut nimbrung dan terlibat aja! Gampang kan?

"Kalau punya keresahan atau masalah di kotamu, anggota kami tersebar dari Sabang sampai Wamena. Kami juga sering keliling jadi ajak kami diskusi aja terus bikin karya seni yang keren!", pungkas Greg.

See, nggak ada alasan lagi untuk lo cuma berpangku tangan mager-mageran melihat masalah di lingkungan sekitar. Rencanakan gerakan-gerakan kecil, konsistenlah, dan bawa perubahan!

(Penulis: Agung Mustika)

Editor : Fadli Adzani

Baca Lainnya