Selfie Saat Wisuda Batalkan Kelulusan Mahasiswa Diploma

Sabtu, 23 Mei 2015 | 09:50
Hai Online

Selfie Saat Wisuda Batalkan Kelulusan Mahasiswa Diploma

Naas, niat untuk berbangga atas jerih payah menuntut ilmu 2,5 tahun, mahasiswa ini gagal mendapatkan kelulusannya. Pasalnya dia selfie dekat rektor Universitas, maka batal sudah gelar diploma yang akan diterimanya tersebut.

Yap, apa salahnya mahasiswa Diploma jurusan Fotografi Universiti Teknologi Mara (UiTM) Muhammad Hasrul Haris Mohd Radzi sehingga ia terpaksa harus mengalami penundaan kelulusan? Lantaran hanya berselfie saat wisuda digelar, gelar Diploma yang seharusnya diterima batal sudah.

Mungkin kalau sekadar selfie bareng teman-temannya tidak akan ada kejadian tersebut. Hanya saja, naasnya Hasrul ini selfie dekat Wakil Rektor UiTM Prof Dr Sahol Hamid Abu Bakar di atas panggung penyerahan gelar tersebut. Profesor ini tidak terima sehingga ia mengatakan kalau tindakan mahasiswanya itu kasar dan mengabaikan tradisi Melayu.

"Tindakannya mempermalukan UiTM," ujar Sahol kepada Harian Metro berbahasa Melayu, dikutip darithemalaymailonline.com,pada Kamis (21/5) lalu.

Profesor Sahol mengatakan, sebelum acara wisuda dimulai, para mahasiswa mendapat arahan untuk menjaga kesopanan. Hal ini mengingat wisuda merupakan prosesi yang terhormat. "Dia seharusnya menghormati upacara dan para pengajar. Ini merupakan tradisi penting yang menjadi sorotan," kata Sahol nggak setuju dengan ulah kekinian muridnya.

Atas kejadian ini, Hasrul telah menyatakan permintaan maaf. Dia mengaku tidak bisa mengontrol kegembiraannya setelah menerima ijazah kelulusan. Hasrul awalnya tidak berpikir ada yang salah dengan tindakannya tersebut. Dia hanya ingin mengabadikan momen yang bersejarah dalam hidupnya saat meriah gelar Diploma.

"Saya tidak berpikir ada yang salah ketika saya mengambil foto setelah bekerja keras selama dua setengah tahun untuk meraih diploma," katanya.

Tapi sayang, Hasrul mengaku tidak tahu kalau selfie merupakan tindakan yang dilarang universitas.Terlebih, Profesor Sahol tidak ingin kejadian sama terulang lagi.

"Saya harap kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi semua mahasiswa sehingga kejadian serupa yang mencemarkan nama UiTM tidak terjadi lagi," ungkap dia, nggak peduli kalau nanti banyak yang mengenalnya sebagai sosok kejam.

"Biarkan mereka menyebut saya kejam, tapi saya lebih suka anak mati ketimbang harus kehilangan tradisi," terang Suhol.

Waduh!

Editor : Hai