Twitwar Berujung Perkelahian, Ini Klarifikasi @redinparis

Kamis, 12 Februari 2015 | 05:01
iamalvin

Twitwar Berujung Perkelahian Ini Klarifikasi redinparis

Setelah melakukan perkelahian dengan Cipta Panca Laksana, pemilik akun @panca66, kemudian Roysepta Abimanyu, pemilik akun @redinparis, menulis klarifikasi. Dia menuliskan rentetan peristiwa awal penyebab adu jotos yang terjadi di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2015) malam.Berikut klarifikasi Roysepta Abimanyu:

"Sehubungan dengan duel atau perkelahian tanding antara saya, Roysepta Abimanyu (pemilik akun @redinparis), dan sdr. Cipta Panca Laksana (pemilik akun @panca66) pada Rabu tanggal 11 Februari 2015, sekitar pk. 19.00 di depan Istora Senayan, saya merasa perlu memberikan beberapa klarifikasi:Awal dari peristiwa tersebut adalah saat saya memberikan pandangan-pandangan saya menyangkut kehebohan penandatanganan kerja sama studi kelayakan pembuatan mobil Indonesia antara CEO Proton dan CEO PT. Adiperkasa Citra Lestari (Bpk. A.M Hendropriyono) yang disaksikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Bisa dilihat dari twit saya pada tanggal 7 Februari 2015, pukul 10.32. Saya berpandangan bahwa dengan melihat pemberitaan yang ada, peristiwa "mobil nasional" adalah bentuk kerjasama perusahaan dengan perusahaan (B2B - Business to Business). Saat itu, saya tidak mengenal sdr. Cipta Panca Laksana yang tiba-tiba mendebat pandangan saya, dan saya menanggapi perdebatan tersebut dengan argumen-argumen yang menurut saya cukup logis, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya mengenai sektor kebijakan pemerintah.

Di saat perdebatan sudah saya anggap selesai, Sdr. Panca melakukan beberapa re-tweet yang diarahkan ke akun saya mengotot mengatakan saya salah. Rangkaian itu saya jawab: "Buat @panca66 sih, semua yang dibuat jokowi pasti salah. lu liat aja TLnya :D". Jawaban Sdr. Panca mulai menyebut Presiden odong2, tapi masih saya tanggapi santai. Re-tweet yang dilakukan, memancing serangan dari akun-akun anonim melaui framing "bigot jokowi kehilangan nalar". Saya menduga ada kesengajaan, maka saya mencari tahu siapa yang mencoba memainkan ini. Suka atau tidak suka, termasuk informasi Sdr. Panca. Saya sengaja menyatakan temuan saya di twitter untuk melihat apakah ada dampaknya juga sekaligus sebagai warning kepada yang bersangkutan jika benar. Di twitter terlalu banyak akun melakukan bullying karena identitas diceraikan dari dunia nyata. Akan tetapi yang bersangkutan menuduh saya mau menerornya.

Saya sampai sekarang gak tahu apa latar belakang dia sampai menyebut twit saya upaya teror. Adalah bodoh jika memang saya melakukan upaya teror dengan menyebutkan terlebih dahulu. Resikonya, teror gagal dan penjara. Saya tidak menyebut di mana dia tinggal, atau nomor HPnya atau apapun yang langsung berhubungan secara personal dengan dia. Yang saya tahu akhirnya Sdr. Panca menantang saya berkelahi.

Dalam proses tantang menantang tersebut, saya sempat memberikan opsi bertemu, yang ditolak karena Sdr. Panca menginginkan perkelahian. Dan soal jalan keluar ini tetap saya tegaskan di twitter kepada orang-orang yang mempertanyakan perkelahian tersebut.

Selama hari-hari menjelang perkelahian, Sdr. Panca dan teman-temannya melancarkan perang urat syaraf dengan kata-kata peyoratif yang menghina kelompok-kelompok LGBT, terutama kaum homoseksual, menggunakan foto-foto pribadi saya untuk dijadikan bahan cercaan dan olok-olok. Saya tidak menanggapinya, namun saya berpikir perilaku bullying ini harus di-challenge.

Saya sempat berpikir untuk melakukan pelaporan atas pencemaran nama baik melalui penggunaan foto saya melalui KUHP dan UU ITE, namun itu bertentangan dengan aspirasi saya untuk menghilangkan pasal-pasal kontroversial UU ITE. Saya mengasumsikan jika saya laporkan, pihak kepolisian punya kecenderungan langsung menggunakan pasal-pasal UU ITE.

Sesaat sebelum perkelahian tanding dimulai, saya serahkan print-out bukti-bukti bahwa perkelahian tanding ini bukan saya yang memulai. Saya tidak mau dipersalahkan. Saya hanya ditemani oleh dua orang yang menawarkan diri menjaga saya. Beberapa kawan lainnya memang datang karena khawatir akan keselamatan saya.

Meski sebagai pihak yang melakukan tantangan, Sdr. Panca membawa beberapa orang yang dia katakan untuk mencegah saya main keroyokan. Kami berdua dipastikan tidak membawa senjata. Semua itu tampak kekhawatiran berlebihan, karena sampai ke sana pun saya tidak berniat berkelahi. Saya tahu saya bukan orang yang bisa berkelahi secara fisik dan tidak ada rencana memenangkan perkelahian. Saya tahu kemungkinan besar saya akan kalah.

Saya datang bukan buat berkelahi. Saya datang karena saya ingin men-challenge perilaku bullying yang saya alami. Saya kalah berkelahi, buat saya tidak masalah. Di saat beberapa kali pukulan menghujam wajah saya, tidak saya katakan ampun sedikitpun. Yang jelas, saya sudah berupaya mengkomunikasikan jalan keluar "damai" sampai saat menjelang perkelahian dan saya telah melakukan upaya terbaik saya untuk membela diri secara fisik.

Dalam peleraian memang teman-teman saya memberikan peringatan mengenai pasal-pasal kriminal kepada Sdr. Panca. Namun, saya memandang tidak perlu melakukan pelaporan ke pihak-pihak yang berwajib seperti yang dituduhkan oleh Sdr. Panca dan kawan-kawan. Semua bukti-bukti yang saya serahkan kepada Sdr. Panca adalah pemberitahuan bahwa saya punya cukup bukti jika muncul persoalan hukum. Saya juga tidak menjebak dengan membawa wartawan, seperti yang disangkakan Sdr. Panca. Twitter adalah media sosial yang paling dipantau oleh wartawan online.

Hingga tulisan ini saya unggah, sekali lagi saya tidak menyesal ataupun merasa malu telah menyanggupi dan kalah dalam perkelahian dengan Sdr. Cipta Panca Laksana. Buat saya wajar satu atau dua kekalahan pertempuran dalam sebuah perang. Saya malah dapat mengidentifikasi siapa-siapa saja yang benar-benar terlibat dari pendukung Sdr. Panca.

Dengan tulus saya ucapkan selamat kepada Sdr. Cipta Panca Laksana dan rekan-rekannya. Semoga sukses dan ketenangan hidup selalu menyertai anda sekalian.Terimakasih atas perhatiannya Roysepta Abimanyu @redinparis"

Editor : Alvin Bahar

Baca Lainnya