Cerita di Balik Foto Legendaris Ramones Yang Tanpa Rencana

Selasa, 10 Februari 2015 | 09:13
iamalvin

Cerita di Balik Foto Legendaris Ramones Yang Tanpa Rencana

Jaket kulit hitam, jeans, sneakers, tatapan arogan, plus tangan dimasukkan ke jaket. Latar belakang sebuah gedung tua, penuh dengan bata dan vandalisme pemuda sekitar, bikin imej punk makin terlihat. Foto legendaris Ramones yang dijadikan debut album mereka memang nggak salah pilih, benar-benar punk rock!

Foto legendaris nan ikonik tersebut dipotret oleh seorang fotografer bernama Roberta Bayley. Roberta memang fotografer spesialis punk. Selain Ramones, ia juga menyumbangkan jasa untuk Iggy Pop, Blondie, Richard Hell, Elvis Costello, The Sex Pistols, Johnny Thunders and The Heartbreakers, dan banyak band punk lain.

Uniknya, untuk foto cover Ramones itu semuanya tanpa perencanaan.

"Saya memotret Ramones untuk Punk magazine. Awalnya itu bukan untuk cover album, jadinya saya nggak ada tekanan." akunya.

Ramones sendiri yang memilih karya Roberta sebagai cover debut album mereka.

"Perusahaan rekaman The Ramones, SIRE, sudah menyewa seorang fotografer "profesional" untuk memotret sampul album, tapi para personel band membenci fotonya dan seperti mereka cukup putus asa dan akhirnya menelepon saya! Saya dibayar $ 125 untuk gambar itu dan beberapa lainnya yang akan digunakan untuk publikasi. Take it or leave it. Dan saya mengambilnya," kisahnya.

Roberta sendiri sadar foto itu memang bukan sebuah foto biasa. Bahkan ia mengakui itu adalah salah satu karyanya yang paling sempurna.

"As soon as it was released I knew somehow that it was iconic. Selama bertahun-tahun banyak orang, terutama di Inggris, mengatakan mereka "terkesima" melihat sampul album itu, dan membeli album hanya karena foto tersebut. Tidak pernah ada foto lain dari Ramones yang menangkap momen yang sempurna," paparnya.

Memotret band punk ternyata nggak mudah. Tapi Roberta tau tips dan triknya.

"Orang-orang yang difoto oleh saya adalah orang-orang yang saya kenal selama beberapa tahun. Sebagian besar dari mereka (semua dari mereka?) nggak punya pengalaman di depan kamera, juga nggak bisa berpose alami di belakang kamera. Saya punya bakat alami untuk menenangkan subjek saya. Juga saya bekerja dengan cepat. Sebagian besar model saya tidak suka difoto. Mereka adalah musisi dan bukan model. Jadi saya mencoba untuk bersantai, mengambil foto dan mengakhirinya. Saya juga mencoba menggoda mereka, membuatnya tertawa, supaya santai," bocornya.

Simak inspirasi fotografi lainnya dalam #LOVE2SHOOT

Editor : Alvin Bahar

Baca Lainnya