Lulusan Ilmu Komunikasi Nggak Harus Jadi Jurnalis, Menurut Penelitian, Ini Peluang Besar Lainnya!

  • Selasa, 31 Januari 2017 18:00 WIB

Ilustrasi

Kalo denger kata ilmu komunikasi, pasti ingetnya sama jurnalis, Sufyan, dan pekerjaan-pekerjaan sejenis. Malah nggak jarang juga pekerjaan lulusan ilmu komunikasi ini direbut sama jurusan lain. Waduh, apa jurusan ini cuma gitu-gitu aja ya?

Jawabannya: masih banyak kok pekerjaan lain yang bisa jadi mata pencaharian para lulusan ilmu komunikasi. Menurut Muhammad Sufyan, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University, inilah waktu tepat dan akurat kalo para alumni komunikasi tak selalu harus bekerja pada profesi yang itu-itu saja: Jurnalis/humas/iklan/manajemen komunikasi.

Pada hari ini, ketika new media kian tumbuh eksponensial bergerak melampaui utilitas dan peluang pasar media konvensional, maka dibutuhkan kompetensi unik, spesifik, dan menarik yang harus dimiliki lulusan ilmu komunikasi dalam arungi medan ketat.

Kompetensi tersebut, selain merujuk pada keahlian dasar ilmu komunikasi (Sufyan menyebutnya kemampuan menulis, public speaking, multimedia, dan event management), juga harus seiring dan sejalan dengan kebutuhan dari new media. Atau dalam istilah lain yang dipopulerkan Indra Utoyo dalam buku Silicon Valley Mindset (Gramedia Pustaka Utama, 2016), haruslah beriringan dengan peradaban ekonomi konseptual yang menekankan high think, high tech, namun high touch.

Setelah era manufaktur digantikan era informasi, kini adalah saatnya era yang nggak selalu bertumpu pada irisan antara padat modal dan padat kerja. Inilah era yang penuh usungan akan nilai-nilai ide, konsep, kreativitas, dan inovasi. Selamat datang di era ekonomi kreatif (ekraf), wahai lulusan ilmu komunikasi! Sebuah zaman di mana peluang terlihat sempit pada bidang aplikasi ilmu konvensional, namun sangat terbuka lebar dengan aneka peluang ilmu komunikasi penyokong ekonomi kreatif.

Namun, di sisi lain, ada ratusan hingga ribuan startup se-Indonesia yang memerlukan sentuhan skills spesifik lulusan komunikasi. Dengan rerata pendiri berlatar teknik informatika, mereka perlu mitra yang faham berkomunikasi ke publik.

Nggak hanya itu. Merujuk data Badan Ekonomi Kreatif Kota Bandung Agustus 2016 contohnya, peluang juga terbuka lebar selain usaha rintisan digital tadi, juga pada bidang ekraf dengan serapan terbesar yakni fashion sebesar 52,78%, kerajinan (16,76%), kuliner (16,16%), desain (3,1%), dan seterusnya (simak tabel di bawah).

Sumber: Badan Ekonomi Kreatif Kota Bandung, FISIP Unpad, 2016

Dengan barometer ekraf ini berasal dari Barat, terutama Silicon Valley, Amerika Serikat, maka lulusan komunikasi yang ingin kompetitif ini harus pula dilengkapi kemampuan orientasi global dengan diawali kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Paling aktual kita bisa lihat merger agensi iklan dan humas terbesar tanah air, Dwi Sapta Group, dengan agensi global asal Inggris, Dentsu Aegis Network pada pekan ini, yang memang ditujukan dalam meluaskan pasar Dwi Sapta ke 145 negara yang sudah dikuasi Dentsu.

Karena itu, sebagai konklusi, ilmu komunikasi malah makin aktual dan diperlukan --sekalipun bidang ilmunya inklusif dan dalam proses in making-- terutama untuk ranah implementasi ilmu berbasis new media dan ekonomi kreatif. Maju terus Ilmu Komunikasi Indonesia! (Kompas.com)

Reporter : Alvin Bahar
Editor : Alvin Bahar

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×