Tips

Jangan Jadi Mahasiswa Mager. Ikut Gerakan Sosial!

Mahasiswa mesti memanfaatkan energi muda untuk gerakan sosial.
Foto by : Kiram
- intro 1 +

“Menurut gue, tiap mahasiswa itu perlu ikut di gerakan sosial. Selain sebagai bentuk pengabdian ke masyarakat, ikut di gerakan sosial juga banyak manfaatnya, kok,” ucap Ahmad Sajali atau Jali, mahasiswa semester 9 jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Bersama teman-teman kampusnya, Jali menggagas gerakan bernama Desa Pendidikan. Mereka memberikan bimbingan belajar secara cuma-cuma ke pelajar yang tinggal di daerah sekitar kampus mereka.

Landasan gerakan itu adalah karena mereka tahu banget kalau pendidikan yang anak-anak dapat dari sekolahnya yang gratis itu belum sempurna. Pelajaran tambahan masih dibutuhkan.

Antusiasme para bocah pun terlihat. Kelas yang rutin digelar tiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 15.00-18.00 nggak pernah sepi. Nggak kurang dari 20 anak dari kelas 3-6 SD rutin datang belajar ke kakak-kakak mahasiswa.

“Selain pelajaran kayak di sekolah, kami juga mengajarkan hal-hal lain kayak nilai-nilai keagamaan dan nilai moral,” ujar cowok yang suka mengajarkan pengembangan karakter lewat dongeng ini.

                Desa Pendidikan bukan satu-satunya bukti antusiasme dan semangat Jali terhadap gerakan sosial. Oktober tahun lalu, ia dan peserta Anti-Corruption Youth Camp bikinan Komisi Pemberantasan Korupsi, mendatangi desa Girikerto di Yogya. Setelah melakukan pendekatan dengan pemuda sekitar, Jali dan kelompoknya sepakat untuk membuat sebuah bale dan pengembangan radio komunitas. “Bale itu penting, sebagai public space, tempat warga bisa diskusi dan berkegiatan. Sementara radio komunitas perlu untuk pengumuman bencana sehingga bisa ada penanggulangan dini,” papar Jali.

                Paska Youth Camp tersebut, para peserta yang merupakan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia yang aktif di gerakan sosial.pun membentuk Angkatan Perubahan yang dikemudian diketuai oleh Jali.

                Lewat Angkatan Perubahan, sederetan program yang akan melibatkan anak muda, terutama mahasiswa akan digelar sepanjang tahun. “Rencananya, kami ingin bikin diskusi rutin yang dielaborasi dengan seni, entah musik atau seni rupa. Kami ingin membawa perubahan, tentu dengan caranya anak muda,” tegas cowok berbadan besar ini.

                Jali percaya, gerakan sosial itu nggak bisa cuma sekedar turun ke jalan dan berdemonstrasi,“Gerakan sosial itu harus ngasih sesuatu ke masyarakat dalam  bentuk yang nyata.”

                Semangat yang sama bisa kita liat dari cerita Maria Goreti Ana Kaka dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Cewek yang baru lulus SMA ini memutuskan untuk menunda kuliah. Selain karena kendala dana, Maria ingin memaksimalkan dulu kontribusinya untuk gerakan yang ia ikuti, Forum Inspirasi Potensi Anak Sumba Barat.

“Kami concern dengan isu pelanggaran hak anak. Kami melakukan riset, lalu mengadakan advokasi ke pemerintah setempat. Kami mengupayakan penganangan isu anak, seperti putus sekolah dan kekerasan pada anak,” cerita Maria

Kalau Maria dan Jali fokus pada anak dan pendidikan, Ni Putu Devi Paraheswary atau akrab disapa Devi, mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Mataram mengabdikan dirinya pada desa. Ia aktif di organisasi Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Nusa Tenggara Barat.

“Saya kuliah Teknologi Pangan, saya ingin tahu apa yang bisa dikembangkan dari desa itu, bagaimana tanggung jawab penggunaan dana di desa, kegiatan di desa itu apa saja, dan paling utama adalah bagaimana mengembangkan potensi desa itu bukan hanya dari sisi ekonomi tapi juga misalnya lewat seni seperti menyanyi, melukis dan lainnya," kata Devi

Rizki Ramadan

Berkeliaran di halaman sekolah, sebagai wartawan, sambil mengawal HAI School Crew menulis untuk rubrik My School Pages.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×