Profile

Suka Merhatiin Pameran Seni? Profesi Kurator Seni Cocok Untukmu. Ini Seluk Beluknya.

Asep Topan, Kurator Muda
Foto by : Doc. Asep Topan

Cinta mati sama segala hal yang artsy? Profesi ini cocok banget buat lo. Selain jadi seniman, kita juga bisa menggiati seni dengan menjadi kurator, lho. Belum banyak yang aware sama seru dan perlunya profesi ini, dan sekarang, keberadaannya dibutuhkan banget!

Berkembangnya ekosistem seni di Indonesia ini nggak cukup cuma diiringi dengan maraknya anak muda yang pengen jadi seniman, butuh peran lain yang bergerak. Salah satunya yang cukup signifikan adalah kurator. 

 “Seniman membuat karya, untuk menjadikan karya itu bisa dilihat publik maka dia harus pameran. Di situlah tugas kurator” kata Asep Topan kurator 25 tahun. 

Kalau awalnya kurator tuh cuma identik sama museum, kini bergeser, sebagai profesi yang kerjanya menjadi perantara antara seni dan publik.

”Kita itu merancang pameran mau seperti apa. Kita seleksi dulu karya seni yang akan dipamerkan, baru kemudian kita komunikasikan seni itu ke publik. Lewat apa? Ya lewat tulisan tentang karya seninya itu pas dipamerkan,” papar Mia Maria kurator yang kini menjabat Curator of Education and Public Program di Yayasan Museum MACAN

Perlu Kuliah Seni Nggak sih?

secara umum kalau mau jadi kurator seni ada beberapa hal yang mesti diperhatiin nih. Lo perlu memiliki background seni rupa. Habis itu mesti belajar atau paham history and philosophy dari seni. Semua bisa didapetin lewat kuliah seni rupa.

Cuma, buat jadi kurator seni, mbak Mia menganjurkan setelah kelar S1, seorang sarjana seni rupa kalo mau jadi kurator seni mesti ambil S2.

“Meskipun sebenernya sah-sah aja kalau background-nya cuma based on experience. Tapi pas melanjutkan studi lagi, ada beberapa studi

atau materi yang lebih fokus kepada kurator. Karena kurator itu kan menciptakan pameran, bikin konsepnya, dan juga mesti nulis juga. Karena kan salah satu tugas kurator seni itu adalah mengkomunikasikan seni ke publik,” tutur Mia yang merupakan alumni Columbus College of Art & Design, Ohio, Amerika Serikat ini

https://2.bp.blogspot.com/-qS8Y4rapD-I/WFjlTbPHyJI/AAAAAAAAAD4/ILKbtg0sVRsNZpSZ6FfmwmObCYtmYACHwCLcB/s1600/KURATOR%2BSENI.jpg

The Coolnest

Kurator itu bikin seni makin dinikmati. Asep Topan pun berpendapat kalau di ekosistem seni rupa, kurator punya dampak yang gede. Di pameran Eko Nugroho misalnya. Kurator mandampingi Eko dari awal punya ide untuk berkarya, terus jadi temen brainstorm saat mulai garap karyanya, setelah karya selesai, kurator membantu merencanakan konsep pameran, dan menceritakan konsep dari karya itu ke publik. Segala jenis tulisan pengantar yang kita temui di pameran, tuh,salah satu kerjaannya kurator.

Belum lagi kalau dalem sebuah pameran seniman yang terlibat nggak cuma satu, wah, kurator bakal jadi orang yang ngerti banget konsep, teori, teknik, dan gaya semua seniman. Kurang keren apa, tuh, coba?  

Udah gitu, saat ada yang mau tau tentang karya, dan lanjut membelinya, kurator jadi orang yang pertama dicari.

Honornya Gimana?

Mia Maria,  kurator yang udah terlibat di banyak pameran cerita kalau di tingkat pemula kurator bisa mendapat kisaran Rp 3  juta per proyek pameran.  Di skala menengah, menurut Asep Topan, kurator bisa dapet Rp 15 juta.  Nah, kalau udah tingkat pameran internasional kocek Rp 100 juta bisa didapet!

Seberapa dibutuhkan?

Ada yang udah nonton Ada Apa Dengan Cinta? 2? Di film itu, Dian Sastro artsy banget. Sehari-harinya kerja di galeri seni bikinannya sendiri. Asep pun setuju, seni rupa di Indonesia tuh lagi menggeliat banget emang. “Seniman muncul bukan cuma dari kampus seni. Udah gitu, kesadaran untuk berkolaborasi seangat tinggi, dan atmosfernya kuat,” kata Asep.

Mia Maria juga bilang kalau Indonesia ke depannya profesi ini bakal dibutuhkan. ”Memang di Indonesia itu kuratornya masih sedikit. Rata-rata mereka ini di Indonesia kerjanya independen. Ya ada beberapa yang kerja di museum, tapi nggak banyak. Mungkin ke depannya akan banyak, karena pekerjaan ini memang dibutuhkan seiring berkembangnya minat masyarakat Indonesia akan seni,” jelas wanita yang menjabat Curator of Education and Public Program di Yayasan Museum MACAN ini.

Sebagai kurator muda, Asep Topan pun percaya kalau kebutuhan akan kurator berkualitas bakal terpenuhi..

“kita kekurangan kurator yang berkualitas, dan untuk hal ini gue percaya sama temen-temen kurator generasi terbaru,” Asep Topan, kurator muda yang sedang menjadi salah satu partisipan di de Appel Curatorial Programme, Amsterdam.

 

Rizki Ramadan

Berkeliaran di halaman sekolah, sebagai wartawan, sambil mengawal HAI School Crew menulis untuk rubrik My School Pages.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×

Fact

Rating :
Profesi : Kurator Seni
Cocok untuk Yang : Suka Seni, Suka Datang Ke Pameran, Suka Mengorganize Acara
Pendidikan : Jurusan Seni Rupa, Jurusan Art History
Job Desk : Mengonsep Pameran, Berkolaborasi dengan Seniman, Membuat Pameran
Rate This :