Seluk-Beluk Data Scientist: Profesi “Seksi” Di Era Digital

  • Sabtu, 27 Januari 2018 13:40 WIB

profesi data scientis sangat diubutuhkan oleh industri di era digital ini | Kiram

HAI-online.com - Satu hal yang perlu kamu tahu dulu: di dunia digital yang terkoneksi internet ini, seluruh tingkah laku users, bisa terekam. Sekecil apapun itu. Website yang kita kunjungi, tombol atau link yang kita klik, kata kunci yang kita ketik, posting yang kita likes, bahkan jejak cursor mouse kita di halaman website, terekam dengan baik. Yap, sekali masuk ke dunia digital kita menjadi the quantified self. Data segala tingkah laku dan jejak diri kita bisa jadi bahan ukuran.  

Tentu, karena pengguna internet banyak dan aktif, data yang seliweran di internet banyak banget, karena itulah muncul konsep big data. Nah, bagi para pelaku industri digital, big data itu adalah sumber uang. Jika digali dan diolah, bisa menjadi panduan untuk membuat para users makin tertarik sama bisnis mereka.

Butuh keahlian khusus untuk menambang data-data itu lalu mengolahnya. Karena itulah profesi data scientist ini muncul. “Istilah data scientist itu digaungkan oleh Facebook, untuk menyebut orang yang punya skill statistika, ngerti coding, dan bisa ngerti bisnis juga,” kata Teguh, Data Scientist dari Bukalapak.com

undefined
Tegu dan Kautzar, duo Data Scientist Bukalapak.com

 Yap, seorang data scientist kerjanya menjaring data-data digital, mengolahnya, dan membuat suggestion untuk memandu perusahaan mengambil keputusan. “Singkatnya, data scientist itu menggunakan ilmu statistika secara IT,” Kautzar rekan kerja Teguh menambahkan.

Di kantor e-commerce kayak tempat kerja Teguh sendiri, data scientist dibagi menjadi dua. “Yang satu mengurusi perkembangan bisnis, yang satu lagi di urusan fraud¸ untuk membaca pola behaviours pengguna yang punya niat nipu,” cerita Teguh.

Teguh, yang gawe di bagian data untuk perkembangan bisnis berurusan dengan data-data transaksi penjualan, dan perilaku pengguna di situs Bukalapak.,“Misalnya, ada users yang melihat info detil produk, tapi nggak sampe beli. Kita cari tau polanya, dan cari tau apa penyebabnya.” Teguh dan timnya mengumpulkan data berupa produk yang dicari, produk yang paling banyak dibeli, bahkan sampai mencari tau apakah, misalnya, pengguna lebih suka menklik tombol ‘Beli’ jika taruh di bagian atas produk atau disamping.

“Dari tes eksperimen itu kami jadi tau mana yang lebih sering diklik. Kalau temuan itu signifikan bisa jadi rekomendasi untuk meningkatkan penjualan, kan,” ucap lulusan jurusan Matematika ITB ini.

Profesi satu ini tentu potensial banget. Prospek bagus. Kautzar menjelaskan, “Sekarang kan dot com jadi menjamur banget. Perusahaan digital pasti punya data, dan data itu nggak cuma untuk disimpan dan dilihat. Data  bukan pajjangan. Data itu mainan yang bisa diolah untuk menumbuhkan bisnis, dan juga menjaga keamanan bisnis. Kebutuhan untuk data scientist makin tinggi,” kali ini Kautzar, data scientist bagian fraud, berbicara.

Udah gitu, tanpa data scientist, perusahaan digital buta arah. Sekalipun bisa berjalan, mereka hanya menebak-nebak, menggunakan intuisi dan dugaan belaka. “Perusahaan bisa tetap hidup, sih, tapi pertumbuhannya jauh lebih lambat dari yang punya data scientist. Kalau bisa diukur dengan data, keputusan bisnis bisa lebih terencana dan akurat. Nggak cuma berdasarkan asumsi,” kata Kautzar.

So, ini adalah masa kejayaan untuk kamu yang doyan angka dan komputer, bro!
 

Reporter : Rizki Ramadan
Editor : Yorgi Gusman

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×