Mengenal Profesi Masinis: Kerjanya Cuma Ngerem dan Ngegas, sih. Tapi....

  • Senin, 26 Desember 2016 14:00 WIB

Purwanto, masinis Daerah Operasi VI Yogyakarta. | Rasyid Sidiq

Hayo, ngaku! Siapa di sini yang dulu punya cita-cita jadi masinis? Atau tunjuk tangan deh siapa yang kalau lulus nanti berniat sekolah di Akademi Perkeretaapian Indonesia demi menggeber lokomotif-lokomotif terbaik Tanah Air.

Wah, pasti nggak banyak nih. Atau senggaknya, kalah jumlah dibanding yang bercita-cita jadi pilot.

Padahal, kalau ditengok, profesi masinis itu nggak kalah terkesan gagah. Gimana nggak, seorang masinis dibebani tanggung jawab buat mengoperasikan sebuah lokomotif yang beratnya berton-ton yang juga menarik beban gerbong berisikan manusia maupun barang.

Buat penggemar angkutan kereta api (KA), jelas profesi masinis sangat memudahkan kita yang harus pergi ke daerah satu ke daerah lain dalam waktu singkat. Apalagi kalau sudah tibanya hari raya seperti Lebaran ataupun Natal dimana penumpang KA sudah pasti membludak.

“Bangganya jadi masinis itu adalah ketika kamu jadi satu-satunya orang yang diandalkan saat hari raya misalnya Lebaran atau Natal. Nggak apa-apa deh para masinis nggak bisa lebaran. Yang penting bisa angkut masyarakat buat berlebaran,” kata pak Purwanto, masinis Daerah Operasi VI Yogyakarta.

Secara teknis, nggak ada yang sulit buat seorang masinis mengoperasikan kereta api. Lantaran, sistemnya pengendaliannya hanya gas dan rem serta tinggal mengikuti jalur yang sudah ada.

Nggak heran sih, banyak yang menyepelekan tugas sang masinis. Apalagi kalau dibandingkan dengan profesi serupa, pilot pesawat terbang yang juga menggunakan control arah untuk mengendalikan pesawat.

Tapi jangan sekali-kali meremehkan tugas seorang masinis.

“Ya, jujur lebih sulit belajar naik sepeda daripada mengoperasikan lokomotif. Lima menit saja diajarin, sudah bisa kok. Sulitnya bukan dalam mengerakkan lokomotifnya itu sendiri. Tapi justru memprediksi seberapa lama perjalanan yang harus ditempuh, seberapa kencang kereta harus melaju di titik-titik tertentu, presisi saat memberhentikan kereta sampai mengawasi sinyal sampai sesuatu yang merintang di atas rel,” tegas masinis yang sudah bertugas sejak tahun 2009 ini.

Misalnya, nih, saat melakukan pengereman. Dengan kecepatan 90 kilometer perjam, masinis harus menurunkan kecepatan sampai nol sepanjang satu kilometer. Mereka harus tahu soal presisinya.

Reporter : Adhie Sathya
Editor : Rizki Ramadan

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×