Skulizm

Demi Kenangan Manis Masa SMA, Panitia Buku Tahunan Sekolah Merasakan 7 Perjuangan Ini

Buku Tahunan Sekolah
Foto by : Northkreatif.com

Buku tahunan sekolah memang sudah jadi tradisi turun temurun buat mereka yang ada di penghujung tahun ajaran. Apalagi buku tahunan sekarang juga menjadi ajang tampil di sisa-sisa masa sekolah yang pastinya harus keren dan fotonya harus instagramable. Proses bikinnya pun gak semudah membalik telapak tangan. Demi mendokumentasikan kenangan manis semasa SMA itu, asam-pait mesti dilalui oleh para panitia BTS. Ini beberapanya.

"Menantangnya" Nagihin Uang Iuran

“Duh gue lupa nih, besok ya?” atau “Uangnya belum ada nih, nanti deh,” pasti sudah menjadi sapaan yang familiar buat tim bendahara panitia buku tahunan. Butuh kesabaran ekstra dan nggak baper walau sudah digantung berkali-kali. Apalagi kalau sudah menjelang deadline dan masih banyak yang belum bayar. Rasanya sudah kayak debt collector aja nagihin ke perwakilan kelas.

Berjuang buat izin

Wajib hukumnya untuk izin ke pihak sekolah dulu sebelum foto kalau mau semuanya berjalan lancar. Perizinan bisa dibilang tahap paling krusial bagi panitia buku tahunan. Masalahnya, kalau izin nggak turun, semuanya mau gak mau batal. Ditambah dengan berbagai aturan dari pihak sekolah yang harus kita turuti demi kelancaran pemotretan. Gampang nggak sih, izinnya?

“Kami sempet ngalamin yang namanya proposal udah disetujui dan udah ditandatangan tapi akhirannya malah dicoret-coret karena keteledoran kita,” jelas Fiqri selaku ketua panitia BTS SMAN 37 Jakarta. “Tapi untungnya ada panitia yang memang udah dekat dengan pihak sekolah dan setelah berunding lagi dan minta maaf, nggak sia-sia perjuangan kami.” Lanjutnya.

Dilema Antara Rapat dan Bimbel

Berhubung panitia buku tahunan beberapa sekolah adalah siswa kelas 12, gak jarang alasan bimbel jadi alasan paling mainstream untuk absen di rapat panitia. Dua-duanya memang jadi prioritas teman-teman kita yang panitia. Tapi, itu gak berarti karena banyak yang bimbel, rapat jadi gak jalan.

“Agak sedikit riweuh memang, ngatur jadwal untuk rapat di luar. Apalagi banyak yang nggak dateng dengan alasan ada les atau acara lainnya. Tapi kami tetap harus lanjut dan saling ngabarin di multi chat Line,” jelas Fiqri sewaktu ditanya tentang anggotanya yang berhalangan hadir.

Dikejar-kejar deadline

Eits, siapa bilang jadi panitia cuma ngatur-ngatur dan rapat-rapat cantik aja? Panitia punya job desc masing-masing yang semua punya deadline tersendiri. Misal, penanggung jawab biodata harus ngumpulin 200 biodata dalam waktu 3 hari, gokil, kan, bro!

Problem internal panitia

“ketua gue lembek”, “ketua gue pasif”, “penanggung jawab kelas gue nggak mau kerja” yup, masalah internal panitia itu pasti ada. Macam-macam pula alasannya, ada yang hobinya nyari alasan kalau rapat, ada yang hobinya ngulur-ngulur waktu, ada juga yang hobinya tiba-tiba hilang saat project buku tahunannya udah ditengah jalan. Sebagai panitia yang aktif, itu pasti berat banget! Karena masalah-masalah internal panitia itu kadang menghambat kerja team panitia. Makanya, harus kompak, dong!

Nyusun jadwal sampai berantem

Kalau dilihat sekilas, menyusun jadwal foto emang nggak sulit. Toh, paling Cuma butuh beberapa hari untuk foto 6 kelas dan 2 hari untuk foto disekolah. Eits, siapa bilang? Kalau terikat dengan pihak pertama, panitia juga harus mengukuti jadwal yang sudah ada dari pihak pertama. Beruntung kalau jadwalnya nggak ada bentrok sama jadwal lain, kalau ada harus re-schedule lagi sampai harus berantem. Repot,kan?

Susun puluhan strategi lapangan

“Gue bolak balik ngundur foto drone krn jakarta lagi hujan terus” kata Alifa, panitia buku tahunan SMAN 81 Jakarta. Yup, kalau masalah cuaca, emang Cuma Tuhan yang tau, dan panitia harus siapin ratusan plan untuk puluhan kejadian nggak terduga. Misalnya, kelas A punya tema foto outdoor, tapi ternyata hujan dan panitia harus punya rencana pengganti untuk menghemat waktu, nah, lho.

 

Penulis:

  • Latifah Khairunnisa - SMAN 37 Jakarta
  • Wukufahdni Trijayanti - SMAN 100 Jakarta

 

hai-online.com

Berdedikasi di hai online

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×