Arman Dhani: "Kerjaan Saya Waktu SMA Cuma Belajar dan Baca. Cabut sekolah aja nggak pernah"

  • Selasa, 31 Januari 2017 13:30 WIB

Bagi Arman Dhani, menulis adalah bagian dari membela. Dan ia sudah memulainya sejak remaja. | Doc. Arman Dhani

Bagaimana,sih awal ketertarikan Kakak dalam dunia tulis-menulis?

Awalnya, sih, karena sejak SMP saya suka baca, dan merespon bacaan itu, saya jadi merasa punya sesuatu untuk disampaikan. Terkadang, itu jadi kegelisahan tersendiri.Karena dulu saya nggak punya temen waktu SMP dan SMA, jadi saya menulis saja. Tulisan itu saya simpan sendiri, dan baru sadar kalau itu punya nilai baru ketika saya kuliah. Ternyata apa yang saya tulis bisa dibaca orang, dan orang suka.

Berarti dari pernyataan Kakak, Kakak bukan tipe social-butterfly nih waktu SMA?

Bisa dikatakan kerjaan saya waktu SMA cuma belajar, dan baca. Bahkan cabut sekolah aja nggak pernah. Hahaha. Baru nakalnya itu pas kuliah, ketika saya menemukan organisasi yang cocok di kampus dan bisa jalan-jalan keliling Indonesia karena nulis. Saya gabung di pers mahasiswa, lalu dapet akses untuk nulis dan jalan-jalan. Kemudian saya ketemu orang-orang baru dengan pemikiran yang berbeda-beda, dan itu ngajarin saya bahwa ternyata dunia itu nggak sebesar ‘kampung’ saya aja. Ada hal-hal lain yang nggak bisa dijabarkan oleh buku atau artikel di internet.

Kakak sendiri dulu kuliah di bidang apa?

Saya dulu kuliah di Ilmu Kesejahteraan Sosial (Universitas Jember, RED)

Berarti, mulai suka nulis itu sejak SMP?

Iya. Dulu nulis cerita fiksi lucu-lucuan aja, sih. Misalnya bikin cerita lucu ngerespon komik Dragon Ball. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan juga karena itu. Dulu pas SMP, saya pernah suka sama perempuan, saya nulis buat dia. Dia bilang, “Apaan nih?!” kemudian dia bacain cerita itu di depan kelas. Itu jadi pengalaman traumatik bagi saya. Yang menarik, sampai hari ini saya jadi takut nulis fiksi karena pengalaman dulu suka sama perempuan dan dipermalukan gitu.

Dulu kakak suka baca buku apa aja? Dan apa buku yang jadi influence terbesar hingga jadi penulis seperti sekarang?

Influence terbesar saya temukan ketika kuliah; Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie, Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahid, terus Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, dan salah satu yang hingga hari ini instens saya baca lagi adalah kumpulan-kumpulan artikelnya Gus Dur,

Reporter : hai-online.com
Editor : Rizki Ramadan

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×