Skulizm

Arman Dhani: 'Kerjaan Saya Waktu SMA Cuma Belajar dan Baca. Cabut sekolah aja nggak pernah'

Bagi Arman Dhani, menulis adalah bagian dari membela. Dan ia sudah memulainya sejak remaja.
Foto by : Doc. Arman Dhani

Sabtu siang pada 10 Desember kemarin, saya mengikuti seminar Student Writing Camp, di Universitas Indonesia. Sialnya, karena terlambat, saya cuma kebagian beberapa menit terakhir dari pembicara pertama. Tapi, itu terbayar pada sesi pembicara kedua, yang diisi oleh Arman Dhani.

Saya cukup surprised karena awalnya nggak tau Arman Dhani jadi pengisi seminar. Mungkin bagi kalian yang suka berselancar di media sosial, pasti nggak asing lagi dengan nama Arman Dhani, yang kini sering disebut sebagai selebnya dunia literasi. Belakangan, saya juga tahu bahwa Arman Dhani sudah menulis buku, yaitu Dari Twitwar ke Twitwar, ia juga menulis opini untuk banyak media daring, dan kini menulis tetap di Tirto.id. Tulisan Arman Dhani memuat argumen dan data dengan lancar. Kalau dibaca, kadang bikin tersindir, kadang terenyuh, dan seringnya, jadi tergerak.

Itulah yang menjadikan untaian katanya menarik. Karena di balik semua itu, tersirat kejujuran dari seorang penulis yang membela kemanusiaan secara substansial. Diiringi rasa penasaran dan nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya pun mengajak Arman Dhani berbincang-bincang sebentar di akhir seminar tersebut.

Bagaimana,sih awal ketertarikan Kakak dalam dunia tulis-menulis?

Awalnya, sih, karena sejak SMP saya suka baca, dan merespon bacaan itu, saya jadi merasa punya sesuatu untuk disampaikan. Terkadang, itu jadi kegelisahan tersendiri.Karena dulu saya nggak punya temen waktu SMP dan SMA, jadi saya menulis saja. Tulisan itu saya simpan sendiri, dan baru sadar kalau itu punya nilai baru ketika saya kuliah. Ternyata apa yang saya tulis bisa dibaca orang, dan orang suka.

Berarti dari pernyataan Kakak, Kakak bukan tipe social-butterfly nih waktu SMA?

Bisa dikatakan kerjaan saya waktu SMA cuma belajar, dan baca. Bahkan cabut sekolah aja nggak pernah. Hahaha. Baru nakalnya itu pas kuliah, ketika saya menemukan organisasi yang cocok di kampus dan bisa jalan-jalan keliling Indonesia karena nulis. Saya gabung di pers mahasiswa, lalu dapet akses untuk nulis dan jalan-jalan. Kemudian saya ketemu orang-orang baru dengan pemikiran yang berbeda-beda, dan itu ngajarin saya bahwa ternyata dunia itu nggak sebesar ‘kampung’ saya aja. Ada hal-hal lain yang nggak bisa dijabarkan oleh buku atau artikel di internet.

Kakak sendiri dulu kuliah di bidang apa?

Saya dulu kuliah di Ilmu Kesejahteraan Sosial (Universitas Jember, RED)

Berarti, mulai suka nulis itu sejak SMP?

Iya. Dulu nulis cerita fiksi lucu-lucuan aja, sih. Misalnya bikin cerita lucu ngerespon komik Dragon Ball. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan juga karena itu. Dulu pas SMP, saya pernah suka sama perempuan, saya nulis buat dia. Dia bilang, “Apaan nih?!” kemudian dia bacain cerita itu di depan kelas. Itu jadi pengalaman traumatik bagi saya. Yang menarik, sampai hari ini saya jadi takut nulis fiksi karena pengalaman dulu suka sama perempuan dan dipermalukan gitu.

Dulu kakak suka baca buku apa aja? Dan apa buku yang jadi influence terbesar hingga jadi penulis seperti sekarang?

Influence terbesar saya temukan ketika kuliah; Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie, Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahid, terus Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, dan salah satu yang hingga hari ini instens saya baca lagi adalah kumpulan-kumpulan artikelnya Gus Dur,

soal Tuhan tidak perlu dibela, misalnya. Karena jujur, ketika SMA saya seseorang yang fundamentalis. Dalam artian bahwa saya dulu adalah islam yang sangat tertutup, yang sering ngomong “Harus dibunuh!” “Ini kafir!”“Itu kafir!”.

Dulu saya benci banget sama Gus Dur, tapi ketika saya baca tulisannya dan ngerti, bahwa bukan berarti dia ngotak-ngatik islam, seperti kata orang-orang yang mengatakan dia liberal. Pemikiran Gus Dur itu jernih, argumentasinya juga lancar. Dan yang terpenting, dia humanis. Sebenci apapun kamu terhadap suatu hal, ketika kamu menemukan suatu fakta baik tentang hal tersebut, kamu harus ungkapkan itu.

Sebenarnya, apapun yang saya baca sejak masih sekolah hingga sekarang adalah apa yang menjadi influence saya. Lalu, akhirnya sekarang ini saya jadi cenderung getir dan sarkas, kerap kali memandang dunia dari sisi yang paling muram. Tulisan saya tuh satir, marah, nyinyir. Entah, mungkin karena udah capek aja sama Indonesia ini, yang diomongin baik-baik udah nggak bisa. Yaudah lah, ketawain aja.

Wah, tadi Kakak mengatakan bahwa dulu kakak adalah fundamentalis, berarti sekarang Kakak berdiri di golongan mana?

Saya sulit mendefinisikan diri. Teman saya yang marxis kekirian, bilang saya terlalu liberal atau kanan karena saya menolak subsidi. Sedangkan bagi yang liberal sendiri, saya dianggap terlalu kiri. Jadi, saya juga nggak tau harus menempatkan diri di golongan mana. Bukan saya berdiri di atas semua golongan, tapi saya berdiri di atas kemanusiaan itu sendiri. Kalau misalnya apa yang dianggap sebuah golongan itu salah, tapi secara substansial kemanusiaan benar, saya bela. Dalam banyak kasus, kan, kita cuma melihat apa yang ada di lapangan, tanpa menerawang lebih jauh kenapa itu terjadi. Kita sering kali mengkritik aksi orang tanpa peduli alasan mereka.

Jadi, kakak mengatakan diri sebagai humanis?

Enggak. Saya juga nggak tau. Saya nggak pernah demo dan turun ke jalan, jadi pengajar anak jalanan, atau kegiatan sejenisnya. Tapi ketika buruh dikata-katain, saya akan bela dengan menulis. Makanya, orang-orang mengatakan saya aktivis. Tapi bukan, saya adalah penulis. Pernah sekali saya ikut demo pas kuliah, itu capek. Jadi, saya bilang ke temen saya, “Udahlah, gue siapin bahan orasi, lo yang demo.”

Lalu, apa bagi kakak menulis merupakan bagian dari aktivisme?

Bisa jadi iya. Yang pasti, menulis adalah bagian dari membela.

Memangnya, apa sih idealisme yang kakak pegang dalam menulis?

Jujur dengan diri sendiri. Terdengar klise, sih, tapi berat. Jujur dengan diri sendiri berarti kamu harus siap dengan resiko menyakiti hati orang lain. Kalau kamu tau kebenaran suatu fakta, ya kamu tulis. Dan resikonya harus kamu terima. Kadang itu menyakitkan. Nggak semua orang suka ditunjuk salah.

Kakak sendiri punya rencana apa dalam jangka pendek ini?

Saya lagi nulis sebuah buku, judulnya “How To Survive a Broken Heart and Then Die Anyway”.

Poin bukunya apa tuh kak?

Nggak ada! Hahaha. Exactly. Nggak ada. Akhir ini saya menulis soal bagaimana menghadapi perselingkuhan, bagaimana kalau misalnya ditikung teman sendiri, dan lainnya. Nah, kumpulan tulisan itu lalu mau saya bukukan. Saya terobsesi oleh patah hati, dan bagaimana peradaban dibentuk oleh patah hati. Banyak karya seni rupa, film, musik, teater yang diciptakan karena patah hati. Patah hati yang saya maksud gak harus dalam relasi asmara, bisa juga karena ditinggal mati keluarga, atau teman.

Kasih saran dong, kak, untuk anak-anak muda yang mau nulis.

Ketika kamu menulis, kamu nggak punya kewajiban untuk meyakinkan orang lain. Di Indonesia ini ada tiga jenis orang: Pertama,  mereka yang pro. Kedua, mereka yang kontra. Ketiga, mereka yang belum punya pendirian. Tulisan yang baik dapat mempengaruhi orang yang belum memilih tadi. Orang yang pro dan kontra tadi populasinya lebih sedikit dibanding yang sudah menentukan. Tugas penulis adalah meyakinkan mereka yang belum yakin. Kamu bukan penggaris, tidak punya tugas untuk meluruskan.

Tugas penulis hanyalah menulis, dan pembaca bertugas membaca. Yang pasti, jujurlah dengan diri sendiri. Terutama kalian generasi yang sudah punya akses untuk informasi, akan jadi PR bagi kalian untuk menyuarakan kebenaran dengan jujur, kepada siapapun itu.

Noted, kak! Lalu, buku apa aja yang kakak rekomendasikan untuk anak-anak muda yang pengen nulis?

Untuk karya fiksi: Supernova dan Dilan. Kalau non-fiksi, coba mulai dari buku hariannya Anne Frank, Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie, dan Habis Gelap Terbitlah Terang. Karena buku-buku tersebut ditulis dengan jujur, gak berat, dan tanpa pretensi untuk terlihat hebat, tapi mereka menanamkan nilai-nilai penting. Misalnya Anne Frank yang merespon fasisme di sekitarnya, atau R.A Kartini yang galau harus nikah muda dan jadi kritis terhadap itu.

Apa pesan kakak untuk anak-anak sekolah, terutama SMA?

Banyakin main, dan banyakin tidur. Karena ketika kuliah, tidur adalah kemewahan. saya nggak bilang “banyakin baca” atau “banyakin belajar”, ketika kuliah nanti kalian juga bakal dapet banyak tugas bacaan. Nah, jadi selama SMA, banyak-banyakin bikin kenangan sama temen, nikmatin hidup aja. Kalau kalian punya ambisi, nggak masalah. Tapi, masa SMA adalah masa yang bakal kalian inget seumur hidup. Ini adalah hal yang saya sesali sekarang, karena pas SMA say cuma baca dan nulis. Buat kesalahan, buat kebodohan, selama itu masih bisa ditolerir.

 

Widya Salsabila - SMAN 3 Depok

Widya Salsabila HAI SChool Crew

 

hai-online.com

Berdedikasi di hai online

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×