Music

Alvin Yunata: Musisi Sidestream Zaman Sekarang Perlu Revolusi Mental

Alvin Yunata
Foto by : Rizky Abdu Rahman / HAI

Udah sejak SMA, Alvin Yunata suka banget sama musik-musik alternatif. Gigs lokal di kota asalnya, Bandung, ia selalu datengi. Saat kuliah ia gabung ke band Harapan Jaya, lalu Alvin di kenal juga sebagai gitaris band yang punya slogan skill is dead. Ya, apalagi kalau bukan Teenage Death Star. Singkatnya, Alvin udah lama bergelut di scene musik arus pinggir, apalagi ia kemudian pindah ke Jakarta bekerja sebagai jurnalis musik majalah Trax.

Kini, Alvin lebih dikenal bukan sebagai pemain instrumen lagi, melainkan pengarsip musik. Bersama teman-temannya ia menggerakan Iramanusantara.org yang punya misi mengarsipkan musik-musik yang pernah rilis dari jaman baheula sampai jaman sekarang.

Membicarakan musik sidestream bersama cowok yang emang udah hidup di scene ini dari generasi lalu, emang asyik. Alvin iri dengan akses informasi musisi sekarang yang selalu bikin dia mengumpat , “Anj*ing bagus banget nih materinya.” Tapi di satu sisi dia heran, kenapa perjuangan musisi sidestream sekarang kok, malah nggak semilitan generasinya yah.

Musisi indie sekarang akses informasinya udah kebuka banget. Mereka pun jaya di dunia maya. Nah, menurut lo, di “darat” gimana pergerakan musisi sidestream saat ini?

Gue udah lama nggak di  Bandung, gue tinggal di Jakarta sekarang. Di sini tuh sebenernya kalau mereka (para musisi) mau bergaul dengan tepat gampang banget bisa dapet panggung. Jimi Multazam punya Thursday Noise. Ada juga anak-anak Ruangrupa. Udah banyak tempat untuk musisi sidestream untuk show. Kesempatan makin terbuka, asal gaul.

Menurut amatan lo, sekarang ini masih banyak musisi yang kurang gaul kah?

Iya, gue ngeliat banyak yang masih nggak tau mau ke mana. Yang gue sayangkan dari era sekarang adalah, mereka (musisi) bagus, tapi mereka cuma menyimpan karyanya di Soundcloud.

Semangat kayak anak dulu nggak terasa. Mereka (musisi dulu) bikin band, latihan, dengan dana terbatas, dan nyari tempat susah. Lebih struggling.

Nah, anak sekarang itu bagus secara kualitas tapi di urusan struggling mereka masih agak kurang. Mereka, tuh, cuma kayak masang di Soundcloud terus udah. Nggak ada pergerakan lagi.

Ceritain dikit dong, gimana perjuangan yang sempat lo alami saat ngeband bareng Harapan Jaya dan Teenage Death Star jaman dulu.

Di pertengahan tahun ’90-an tuh di Bandung udah mulai nge-blend. Tadinya gap-gap-an, antara metal dan punk rock, misalnya, masih sering berantem. Tapi di pertengahan 90an udah mulai terbuka sih. musik alternative udah mulai masuk. Brit pop muncul. Di masa itu, saat gue kelas 1-2 SMA, gue suka nonton gigs di Saparua, di sana udah mulai nyampur.

Ketika ada musisi yang mau manggung ke Jakarta nih, anak-anak band lain gue ajak juga. Kolektivitas seperti itu yang udah hilang nih sekarang. Waktu di Harapan Jaya  kami sering manggung bareng anak-anak Brit Pop, dan anak-anak punk rock dateng juga. Nge-blend.

Menurut lo spirit  dari musisi ‘90an yang perlu ada di musisi sekarang, apa saja?

Perjuangan dan koletivitas itu sih. penting. Bikinlah rilisan fisik, sekarang kan gampang yah. Ada toko plat, ada Record Store Day, semua fasilitas ada semua. Asal lo gaulnya bener dan manfaatin itu semua. Manggun juga gampang, bisa deketin anak Studiorama, Jimi Multazam, anak Ruangrupa. Bisa gabung ke mereka. Kalau di Jakarta, kolektivitas udah bagus, nah yang gue nggak tau di luar daerah nih. Mereka yang di luar Jakarta perlu berkolektif dan datang ke Jakarta. Karena kalau udah terdengar sampai Jakarta berarti band itu udah oke, dan mereka menunjukkan struggle-nya dengan datang ke Jakarta. Sekarang ini banyak yang masih jago kandang.

Dulu Teenage Death Star bisa masuk kompilasi JKT: Sekarang karena kami gaul, sering main ke Jakarta, mau manggung sama orang Jakarta, padahal kami band Bandung. Coba lo liat band bandung sekarang. Itu-itu saja yang manggung sampe sekarang. Nama lama semua. Gue heran, ini mana sih anak barunya.

Apa yang bisa dipelajari oleh band indie dari band mainstream?

Band mainstream itu punya mental cari duit dari musik, mau nggak mau mereka berjuangnya lebih kuat. Sementara band sidestream, musik akhirnya Cuma jadi sampingan. Pada takut nggak ada duitnya. Padahal kan sebenernya nggak gitu, kalau gue liat bang kayak Seringai, Dead Squad, White Shoes and The Couple Company, mereka udah bisa tuh hidup dari nge-band. Penjualan merchandise-nya bagus, panggungnya juga banyak. Sebenernya bisa make living dari sini. Asalkan punya prinsip “ini hidup-mati gue”

Lo sekarang bergerak di pengarsipan. Memang ada apa sih dengan pengarsipan musik Indonesia?

Pengarsipan di sini sangat lemah. Padahal Indonesia tuh kaya. Tapi nggak ada data. Akhirnya kami (Irama Nusantara) mempustakakannya. Kami bikin fondasi dan semua arsip ini bisa diakses gratis. Sekarang kami lagi fokus cari musik-musik Indonesia tahun 20-an, kalau bisa sih sampai tahun 2000-an.

Ada nggak hal yang lo cemaskan dari musik sidestream sekarang ini?

Itu sih, mentalnya. Sekarang serba mudah. Jangan cuma bikin band, terus udah. Ayo struggling. Kalau udah ngeluarin rilisan, ayo manggung, bikin sesuatu. Banyak band yang umurnya pendek karena mentalnya itu. Sayang, secara materi udah keren banget. Tapi ya kalau nggak disertai mental yang bagus ya sayang.

 

Rizki Ramadan

Berkeliaran di halaman sekolah, sebagai wartawan, sambil mengawal HAI School Crew menulis untuk rubrik My School Pages.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×