Yuk Intip Cara Mendirikan Clothing Line Agar Bisa Bertahan di Industri Fashion!

  • Sabtu, 20 Mei 2017 06:52 WIB

Streetwear Ellese | https://hypebeast.com/2017/5/move-ellesse-2017-spring-summer-capsule

Bukan fashion enthusiast namanya kalau ada yang masih asing ketika mendengar nama brand yang fenomenal di dunia fashion. Ke-hype-an fashion ini lahir dari proses kreatif Tomoaki Nagao, atau yang lebih dikenal dengan julukan NIGO. Jiwa seninya bisa dibilang cukup lengkap pada kalangannya, ia music producer, DJ, namun juga memiliki taste yang sangat baik pada fashion yang lekat dengan dunianya. Tidak heran kalau NIGO adalah sosok dibalik urban clothing brand yang terkenal banget di dunia, yaitu ‘A Bathing Ape’ atau ‘BAPE’. Tapi dia nggak mau menyebut dirinya sebagai designer, ia lebih suka menyebut dirinya sebagai entrepreneur. Whatever, he’s cool!

Kecintaan NIGO terhadap hip-hop, mulai dari musik hingga culture-nya menjadi awal mula terbentuknya core idea dalam membuat BAPE yang menjadi fashion icon, bahkan pada dirinya sendiri. Saking terobesesinya pada hip-hop, NIGO mulai mendandani dirinya seperti musisi hip-hop idolanya, seperti Public Enemy, LL Cool J, dan The Beastie Boy.

Belum lagi saat umurnya masih 16 tahun, NIGO yang lahir dan tubuh di Gunma Jepang, selalu menyempatkan jalan-jalan ke Tokyo untuk menyambangi record  favoritnya, ‘Cisco’. Ia menabung selama setahun untuk membeli turntable set. Ya, dia emang niat banget. NIGO nggak hanya menenggelamkan dirinya pada obesesi hip-hop dan menjadi konsumen semata, tapi dia juga mampu mewujudkan passion-nya menjadi creator dan menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati orang lain

 

Sejak remaja NIGO emang nggak main-main sama passionnya yang satu ini, bukan keinginan labil, sebab dia mengambil jalur yang lurus dengan belajar fashion editorial di universitas fashion terkenal di Jepang, Bunka University Tokyo. Universitas ini udah melahirkan alumni yang kece dibidang fashion, seperti Kenzo Takada, Yohji Yamamoto, Jun Takahishi, dan Tsumori Chisato. Terbukti di kampus ini ia nggak Cuma belajar dari dosen, tapi juga berkesempatan bertemu dengan alumni-alumni tersebut dan berpartner selepas kuliah. Waktu itu Nigo juga berkenalan dengan Hiroshi Fujiwara yang dikenal juga sebagai “Godfather of Harajuku”. Pasalnya perkenalan ini berperan sangat penting dihidupnya.

Hiroshi merupakan salah satu partner yang memberikan nama panggilan “NIGO” pada Nagao. NIGO bisa diartikan “Number Two”, dengan reference duo dari role-nya sebagai asisten Fujiwaran. Berkat bantuan Fujiwara, di tahun 1993, NIGO dan Jun Takahashi membuat fashion store yang dikenal dengan nama “Nowhere” di daerah Harajuku, Tokyo.

“Jun adalah seorang desainer dari awal, and I used to operate very much as a stylisth”, ungkap Nigo saat masih jadi stylist dari ‘Nowhere’.  Bolak – balik Amerika dan Jepang selalu dijalaninya demi membeli dead-stock sneakers dan vintage American college wear untuk dijual di store-nya di Jepang. Rekannya, Jun melihat ada potensi besar dari Nigo dan mereasa pekerjaanya pada waktu itu lumayan melelahkan dan agak nggak efektif, makanya waktu itu Jun membujuk Nigo untuk membuat fashion label-nya sendiri. Dari situ lah Nigo mulai merintis labelnya yang bernama A Bathing Ape alias BAPE. What a supportif partner, banget ya, nggak sih?

Kita semua nggak bisa menutup mata lagi, industri fashion di dunia semakin berkembang, menjadi sebuah kebutuhan primer, yang bakal selalu dicari setiap orang dari berbagai kalangan, apalagi anak muda. Setuju, nggak?

Nggak terkecuali di Indonesia, terlihat sekali maraknya clothing line dan menjamurnya merk pakaian lokal yang terus meningkat.

Ini semua bukan hal baru, sudah terjadi sejak lama, contohnya adalah berkembangnya distro atau toko baju independen yang digalang oleh anak-anak muda yang isinya merk pakaian lokal yang dibuat juga oleh anak muda.

Reporter : Meryam Zahida
Editor : Fadli Adzani

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×