Cerita Bersambung HAI: Menembus Langit Ep 17

  • Rabu, 11 Januari 2017 19:00 WIB

Ilustrasi: Gio

Sambungan dari Part 16

17
 SIMPATI ISTRI BUPATI

Ada kalanya manusia menemukan momen tak menyenangkan. Namun, ada pula saat-saat berjumpa dengan hal-hal yang membahagiakan. Untuk yang pertama, biasanya aku kerap menjadikan itu sebagai pengalaman berharga agar mentalku lebih kuat lagi, sambil belajar menahan emosi. Sementara yang kedua, itu merupakan anugerah yang wajib untuk disyukuri.

Bagiku, salah satu hal yang sangat menyenangkan adalah berjumpa dengan anak pramuka. Bagi seorang pandu, bertemu sesama anak pramuka memang peristiwa penting. Sebuah momen yang bisa sangat menghibur. Aku selalu menyempatkan untuk mampir ke banyak gugus depan kepramukaan selama perjalanan melintasi jalur Sumatera. Bersua dengan sesama anak pramuka merupakan perjumpaan yang tak bisa ditukar oleh mata uang sekalipun. Mereka adalah insan-insan penyejuk hati yang mampu menghilangkan rasa dahaga. Bukan dahaga akan air minum, melainkan dahaga hati yang dilingkupi kesepian.  

Sahabat-sahabatku itu sering menjelma menjadi media penyemangatku. Mereka mampu menghilangkan rasa penat dan capai. Betapa tidak, mereka pasti menawarkan dan memberiku tempat menginap. Tak hanya itu, mereka menjamuku bak tamu istimewa. Sederhana memang. Namun, bagiku, itu adalah bentuk perhatian luar biasa. Bahkan, aku mesti menambahkan kata sangat. Ya, jamuannya sangat luar biasa.

Terkadang, aku merasa sungkan kepada para pembina pramuka yang biasanya juga kepala sekolah. Merekalah sosok yang sering aku temui di gugus depan di berbagai daerah. Makanya, sebagai balas jasa, aku sering memberikan sesuatu dalam bentuk nonfinansial. Aku mengusulkan gagasan-gagasan yang bisa membantu pengembangan kepramukaan setempat. Para anggota pramuka pun merasa senang karena mendapatkan ilmu-ilmu baru dari setiap pesan yang aku sampaikan.

Selain itu, aku juga menceritakan pengalamanku sejak memulai perjalanan dari Serang hingga menjelajah Sumatera. Tentu saja tak kukisahkan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang pahit dan penuh duka. Aku lebih fokus pada hal-hal positif dan spirit yang bisa menggugah semangat jiwa mereka. Biarlah kisah-kisah duka tingga di memoriku saja.


***

https://1.bp.blogspot.com/-3Sz4M7L4RC8/WHXvC3Xnr-I/AAAAAAAADKU/FPA-YhMGERQEQUUI7NsNZZGqaf2X87CrwCLcB/s1600/CERBUNG%2BMENEMBUS%2BLANGIT%2B-%2BCHAPTER%2B%2B17%2BSIMPATI%2BISTRI%2BBUPATI%2B2.jpg

Siang berganti malam, malam berganti siang. Mentari berganti bintang-bintang, bintang-bintang pun bersilih mentari. Tak terasa, Pelabuhan Siak ada di hadapanku. Ini adalah dermaga penyeberangan kedua yang kusinggahi. Kalau Pelabuhan Merak menjadi jalur penyeberangan antarpulau, masih di dalam negeri sendiri. Sementara itu, dermaga yang berada di Riau ini selain merupakan pelabuhan penyeberangan pulau-pulau yang tersebar di Kepulauan Riau, juga sekaligus jalur ke arah Singapura. Ada banyak kapal yang berlalu lalang. Selain kapal angkut penumpang, tak sedikit pula kapal barang yang sedang bersandar. Kalau harga barang-barang sedang naik, seringnya tidak banyak buruh bongkar muat yang bekerja. Sebagian besar dari mereka lebih memilih alih profesi menjadi buruh bangunan, bertani, nelayan, dan tukang ojek. Tapi, itu sementara saja. Saat harga barang stabil lagi, mereka akan kembali menjadi buruh bongkar muat. Adapun alur pelayaran yang didominasi oleh kapal-kapal angkutan domestik antarpulau cukup padat. Jalurnya sempit sehingga rawan kecelakaan.

Hari ini aku urung melanjutkan perjalanan ke negeri jiran. Aku belum puas menikmati udara segar di negeri sendiri. Mumpung belum masuk ke negeri orang, aku pun menyusuri Sungai Siak dengan perlahan.

Reporter : hai-online.com
Editor : Alvin Bahar

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×