Kisah Seorang Pemulung Visual yang Mencintai Black Metal

  • Selasa, 16 Januari 2018 17:45 WIB

Ada Gading yang Black Metal

HAI-ONLINE.COM - Musik cadas, klenik Jawa, dan Okultisme mendarah daging jadi satu dalam bingkai ukiran visual hitam di atas putih. Berawal dari kegemaran terhadap musik metal, seniman yang akrab disapa Oka ini bahagia terjerumus ke dalam karya-karya visual berbau musik cadas.

 Sejak itu jebolan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini rajin bikin ilustrasi yang nggak jauh dari tema dunia hitam.

“Tema-tema karya saya selalu erat hubungannya dengan nuansa klenik, okultism, dan skeptic. Dibumbui dengan aroma musik cadas yang saya geluti sejak 2006 silam,” ungkap pria yang tergabung dalam band underground black metal midi karaoke, Cangkang Serigala.

undefined
Kelam dan Hitam

Nggak heran, jika dominasi warna yang kemudian ikonik terhadap karya-karya pria kelahiran Semarang ini sarat dengan coretan hitam di atas putih. Alasannya, karena lebih tegas dan lebih kuat untuk menampilkan kekerasan dari gambar-gambar yang dibuatnya.

Pegiat kerajinan bordir manual di WILL Fabric & Yarn ini juga mengaku bahwa sebenarnya artwork yang diciptakannya nggak pernah murni baru hasil kreasinya, alias memulung dan mengolah karya-karya yang sudah ada.

“Saya mengistilahkannya sebagai pemulung visual yang kemudian merekayasa digital, karena mustahil di dunia ini ada yang benar-benar baru,” beber illustrator yang pernah terlibat di SHOCK FACE Project, Geelong, Victroria, Australia.

Memegang prinsip everything is remix memberi sebuah ruang kebebasan Oka dalam mengilhami dan meracik karya seni yang ada hingga kemudian menjadi karakteristik baru dalam artwork-nya.

undefined
Selalu Dark

“Pemulung visual menjadi gejala dan tren baru era digital saat ini. Menolak menciptakan baru dan lebih meramu apa yang telah ada dalam konteks baru, seniman adalah pemulung,” tegas pria yang pernah menggelar Solo Exhibition  KNOW FUTURE Maximum Penalty di kedai Kebun Forum Yogyakarta, 2014 lalu.

Tumbuh dan berkembang di lingkungan sub-urban banyak menginspirasi Oka akan karya yang lahir dari budaya prostitusi, perjudian, balap liar, hingga musik cadas underground yang seakan menjadi memorabilia kisah hidupnya bersama artwork-nya.

Sudah banyak pameran yang dia ikuti, mulai dari yang tingkat komunitas lokal, tingkat nasional, hingga di luar negeri. Sebut saja Jogja Biennale IX with Ace House Collective 2011, Vice Versa Launch Party Exhibition Australia 2011, dan Jakarta Biennale 2013. Kini, ia pun giat menghidupi ruang-ruang galeri seperti TAKEANDGIFS, WIROSATAN, dan ACE HOUSE Collective. Di sana karya-karya nya tak berhenti diabadikan dan terus mengalir. Salut!

undefined
Ada Gading yang Black Metal

PENULIS: RASYID

Reporter : Wiji Adrian
Editor : Rian Sidik

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×